Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
90. Ekstra Part 7 Mantan Suami Pita


__ADS_3

Ndaru kini telah bernafas lega saat Pita ditangani Dokter. Pita mengalami dehidrasi karena terlalu sering muntah dan perutnya benar-benar kosong. Kondisi Pita yang lemah membuatnya harus rawat inap, jarum infus menancap di punggung telapak tangannya. Dokter sedang memastikan apa penyebab Pita muntah yang berlebihan hingga mengalami dehidrasi parah.


Disaat Dokter tengah melakukan observasi pada Pita, Ndaru memilih mencari masjid/mushola di kawasan Rumahsakit tersebut karena hampir masuk sholat Ashar. Ia pun tak lupa meninggalkan nomor ponselnya pada perawat yang menemani sang Dokter, agar sewaktu-waktu Ia di butuhkan bisa langsung menghubunginya.


Ada satu hal yang menarik perhatian Ndaru, tepatnya di depan sebuah rawat inap yang pintunya tertutup rapat. Ia melihat sosok lelaki yang Ia kenal tengah menangis sambil duduk di lantai bersandar di pintu tersebut.


"Maaf Sus, kalau boleh tahu Bapak itu kenapa ya?", tanya Ndaru penasaran.


Ia memberanikan bertanya pada dua orang perawat yang terlihat bergosip sambil memperhatikan obyek yang sama dengan tangkapan mata Ndaru.


"Oh.... Bapak itu. Si Bapak itu tengah bersedih karena Istrinya baru saja keguguran", sahut salah satu perawat.


"Apalagi Istrinya cuma diem aja Pak, sama sekali gak mau ngomong, setelah dilarang Dokter buat hamil lagi. Katanya udah di kuret tiga kali dan dikhawatirkan agar berinfeksi dinding rahimnya", lanjut perawat yang satunya.


"Bener Pak. Kayak syok gitu dan kalau dibiarkan bisa berakhir depresi. Kasihan nggak tuh Pak", imbuh perawat yang pertama berbicara.


Ndaru pun segera pamit setelah mendapatkan informasi dari orang yang Ia kenal tadi. Ia pun memilih melanjutkan langkahnya menuju Masjid, yang sempat Ia tanyakan lokasinya kepada dua perawat penggosip tadi.


Belum juga sampai di tempat Ibadah yang di tuju Ia harus melihat orang yang di kenalnya tengah menggendong bayi sambil berteriak-teriak dan tengah di tenangkan dua orang perawat. Lelaki itu tengah berada di depan ruang ICU yang berseberangan dengan koridor yang Ia lalui kini.


"Maaf Sus. Itu kenapa Bapaknya teriak-teriak ya sambil gendong bayi", tanya Ndaru pada perawat yang kebetulan lewat.


"Oh itu Suami pasien yang tengah berada di ICU karena pendarahan hebat usai melahirkan dan sekarang tengah kritis Pak", jawab Perawat tersebut segera berlalu.

__ADS_1


"Bapak tolong jangan berteriak-teriak disini. Nanti mengganggu pasien yang lain dan Bapak bisa di usir Satpam", bujuk perawat berponi.


"Istri saya sedang berjuang di dalam. Apa suster tidak melihatnya hahhh!!!! Kalian tidak merasakan apa yang saya rasakan saat ini.


Anak saya baru lahir dan tidak boleh bertemu Ibunya, apa kalian tidak kasihan", bentak Lelaki itu tak suka di nasehati oleh perawat.


Sementara itu perawat yang berhijab mencoba mengambil bayi di gendongan sang Ayah. Untung bayi itu anteng sehingga tak menangis meski mendengar suara keras sang Ayah.


"Jangan ambil anak saya. Dia masih ingin bertemu Ibunya", sentak Lelaki itu sambil menepis tangan perawat berhijab tadi.


"Pak tolong Anda jangan egois. Bayi Anda baru lahir dan tidak boleh terlalu lama di luar karena banyak virus dan itu tidak baik untuk kesehatan Putri Bapak", bujuk si perawat berhijab.


"Betul Pak. Jika hal buruk terjadi pada Putri Bapak, pasti Istri Anda akan sedih saat sadar nanti. Apa Anda tidak kasihan pada Istri Bapak yang berjuang melahirkan Buah hati kalian hingga harus terbaring di dalam ruangan ini", imbuh si perawat berponi sebelum Lelaki itu buka suara.


"Azab kali ya... Mereka telah menyakiti mantan Istri yang baik. Sehingga Allah membalasnya kontan tanpa kredit.


Tadi Ayah Gara, Istrinya divonis sulit mendapatkan anak, salah sendiri menyia-nyiakan Gara yang notabebenya darah daging sendiri.


Sekarang Pak Adi Istrinya koma, dulu kemana saat Pita melahirkan anaknya hingga tiada", ucap Ndaru bermonolog.


Tiba-tiba suara adzan berkumandang seolah menyadarkannya akan tempat tujuannya yang belum Ia datangi.


"Astaghfirullah haladzim.... Ya Allah maafkkan hambamu ini. Bisa-bisanya Aku berkata demikian. Bukankah azab itu hanya Allah yang tahu dan Aku hanya manusia biasa yang tak berhak menilainya.

__ADS_1


Ya Ampun..... Kenapa juga harus Aku kepo dengan masalah orang? Bukan Aku banget deh ini, sampai nanya-nanya ke Suster.


Terimakasih ya Allah panggilanmu untuk beribadah menyadarkanku dari perilaku buruk karena telah kepo serta berburuk sangka pada orang lain.


Bukankah semua orang punya masalah dan ujian rumahtangga masing-masing. Dan mungkin ini ujian yang harus mereka hadapi.


Kesalahan Mereka pada Pita di masalalu biarlah Tuhan sendiri yang memberikan hukuman. Dan Aku tak perlu ikut campur urusan mereka, Kedua Lelaki itu hanyalah para Mantan suami Pita dahulu. Dan Akulah satu-satunya lelaki masa depannya.


Eh.... salah nding, anakku kan juga Laki. Bimbim juga masa depan Pita", lanjut Ndaru bermonolog sendiri.


Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju Masjid dan memukul pelan kepalanya yang entah kenapa seperti Emak-emak berdaster yang hobi ngerumpi dan kepo dengan urusan orang.


*****...........******


***Mohon maaf jika Up laginya terlalu lama.


Anak saya yang kedua sedang mulai bisa jalan dan lagi seneng-senengnya bisa jalan. Yah.... bagi Emak-emak tahulah rasanya ngikutin si Bocil yang nggak ada capeknya. Mau makan aja sambil jalan apalagi mau Up episode lanjutan.


Jujur Saya jarang pegang ponsel jadi nggak sempat nulis.


Terimakasih yang masih setia mengikuti. Maaf yang komennya nggak bisa di balas bukannya sombong atau cuek dengan para readers. Tapi memang tidak sempat ngetik soalnya jarang pegang ponsel.


See you Up selanjutnya***.

__ADS_1


__ADS_2