
Dan sekarang Pita berada di halaman sebuah rumah yang dulu sering Ia datangi. Ya....tadi setelah berperang batin, Pita memutuskan untuk ikut ke rumah mantan mertuanya. Rasa sakit terkalahkan dengan rasa kemanusiaan. Ia hanya ingin membantu saja, anggap itu sebagai niatnya mencari pahala bukan untuk kembali berinteraksi dengan keluarga mantan suami.
"Mbak. Aku hanya punya waktu sebentar. Karena ada bayi yang menungguku", ucap Pita mengingatkan.
"Iya. Setidaknya Kamu coba bicara dengan Papa", jawab Bela.
Dengan langkah berat Ia mengikuti Bela yang masuk kerumah itu dan menuju kamar Orangtua Adi. Setelah mengetuk pintu, keduanya masuk. Sekarang nampak olehnya tubuh mantan Papa mertua yang terbaring lemah. Disamping kanannya ada Mantan Mama mertuanya, dan di sebelah kiri ada Citra adik bungsu Adi.
"Pita.....", lirih Papa Adi.
"Sayang.... Kamu datang. Mendekatlah, Papa mau bicara", ucap Mama Adi sambil berdiri dari kursinya.
Tanpa menjawab, Pita langsung mendekat dan duduk di kursi bekas Mama Adi duduk.
Mata Papa Adi berkaca-kaca, Ia meraih tangan Pita. Rasa penyesalan nampak diwajahnya, Ia merasa turut andil membuat luka di hati menantunya itu. Ya keluarga Adi belum rela jika Pita harus keluar dari keluarga mereka. Mereka sudah menyayangi Pita, bahkan berjanji pada mendiang orangtua Pita untuk menjaganya.
"Maafin Papa. Karena syarat dari Papa membuatmu kehilangan calon cucuku. Papa nggak nyangka Adi setega itu sama Kamu.
Sekali lagi maafin Papa. Dan tolong tinggallah bersama Kami disini. Agar Kami tetap bisa menjagamu seperti janji Kami pada orangtuamu", lirih Papa Adi hampir tak terdengar jika Pita tak duduk didekat kepalanya.
"Iya. Pita akan maafin Papa", jawab Pita.
Tak salah Pita baru berkata 'akan', karena bagaimanapun juga syarat warisan itu membuat bayi yang di kandung diabaikan. Ia harus kehilangan bayinya karena Adi yang tak ada disaat Ia membutuhkannya. Sulit bagi Pita untuk memaafkan Papa Adi yang secara tidak langsung juga menorehkan luka. Tapi Ia mencoba memaafkannya, karena dendam juga tak bisa bisa mengembalikan anaknya.
__ADS_1
Ia menyesal dulu tak memperhatikan pola makan dan gizi untuk calon anaknya. Ia menyimpan uang hasil sewa kontrakan rumah orangtuanya untuk biaya bersalin. Dan memilih makan seadanya agar tak kelaparan. Mungkin jika seandainya kondisi anaknya sehat, Dia akan bisa bertahan sekarang meski perutnya sempat terbentur saat jatuh.
Andai.... dan andai yang bisa Ia lakukan sekarang. Tak terasa airmata mulai jatuh di pipinya. Rasa sakit kehilangan bayi yang Ia kandung selama sembilan bulan begitu membekas dihatinya.
Tak hanya Pita, semua ikut merasa sakit saat mengingat bayi mungil itu tiada. Papa Adi pun tak bisa menyembunyikan matanya yang telah berair.
"Maafkan Pita. Sepertinya Pita tak bisa tinggal disini", tolak Pita.
Ia ingin benar-benar lepas dari bayang-bayang Adi.
"Aaaaahhh.....sakitttt...", ucap Papa Adi sebelum akhirnya jatuh pingsan.
"Papa....", semua panik.
Untung saja suami Bela dan Citra segera tiba dan mengangkat Papa Adi ke mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit.
Semua telah pergi tersisa Pita dan Bela disana. Bela menemani Pita yang nampak syok dan merasa bersalah. Ia yakin Pita menyangka Papanya pingsan karena ucapan Pita. Padahal memang sebenarnya kondisi Papanya sudah memburuk sedari Pita belum datang.
"Ayo Pita", ajak Bela.
"Maaf Mbak. Aku nggak bisa ikut ke RS. Aku harus segera pergi", tolak Pita.
"Tolong Kamu pertimbangkan lagi permintaan Papa. Anggap saja itu permintaan terakhir darinya.
__ADS_1
Maafkan Papa. Dia tak bermaksud membuat Kakak seperti ini. Tujuan Papa memberikan syarat hanya ingin Kakak berbagi perusahaan itu secara adil pada Kami adik-adiknya. Bagaimanapun juga itu perusahaan yang Papa bangun, meski Kakak yang menjalankan sekarang hingga sebesar itu.
Padahal Aku dan Citra tak mempermasalahkan warisan itu. Aku dan suami sudah cukup puas dengan Cafe n Resto Kami. Sementara Citra dan suaminya sudah sukses dengan bisnis Online shopnya.
Tapi Papa hanya ingin Kami berbagi rata dengan yang Papa miliki.
Meski Kamu bukan lagi menantu di keluarga ini. Bukankah Orangtua Kami sudah menganggap Kamu anaknya. Kamu bukan lagi menantu tapi Kamu adik bungsu Kami, Pita.
Kami tidak akan memaksa, tapi yang perlu Kamu ingat. Meski Kakak menceraikanmu, Kami tetap keluargamu. Kami selalu menerimamu, pintu Rumah ini selalu terbuka untukmu.
Jika Kamu butuh apapun Kamu bisa menghubungiku. Anggap Aku Kakak tertuamu. Jangan dijadikan beban. Aku hanya ingin Kamu mempertimbangkan permintaan Papa saja. Bukan bermaksud memaksa. Ayo Aku antarkan", ucap Bela panjang lebar.
Pita tak tahu harus berkata apapun, Ia hanya memilih menurut saat hendak di antar. Di perjalanan pun Ia hanya diam, setelah menyebutkan alamat rumah Bu Titin.
Pita bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia ingin lepas dari keluarga Adi, tapi orangtuanya justru memintanya untuk tinggal disana. Sikap baik mereka tak membuatnya bisa melupakan perbuatan Adi yang menelantarkannya saat hamil besar dan dengan teganya mengirimkan surat cerai disaat Ia berduka kehilangan bayi. Dan baru saja merasakan sakitnya melahirkan tanpa di dampingi keluarga.
Sakit yang tak bisa hilang dengan mudah. Dan mungkin selamanya akan tetap terasa. Tapi ucapan Bela yang mengatakan untuk menganggap permintaan Papa Adi sebagai permintaan terakhir membuatnya was-was. Ia takut itu benar-benar permintaan terakhir dan Ia tak bisa memenuhinya.
Hingga Ia tiba di rumah Bu Titin dengan suasana hati yang buruk. Dan seolah ada ikatan batin. Baby Gara rewel meski sudah ada Pita disana. Pita terlihat melamun dan tak mendengar Baby Gara yang menangis di gendongan Babysitter.
Bu Titin hanya bisa menerka-nerka dalam hati. Apa yang membuat Pita hanyut dalam lamunan. Panggilan serta tangisan Gara sampai tak berhasil membuatnya bangun dari lamunan.
*****......*****
__ADS_1