
Tak terasa usia anak Pita dan Ndaru sudah berusia 4 tahun dan mulai masuk PAUD. Kini mereka sudah menetap di kota dan membeli rumah yang dulu disewa Ndaru meski dengan harga yang tinggi, karena sang pemilik sebenarnya enggan untuk menjualnya. Baru setelah di tawar dengan harga tinggi mau melepaskannya.
Bocah laki-laki itu tumbuh sangat lincah dan pintar. Sedari bayi selalu di ajari banyak hal oleh Gara, anak yang di susui oleh Pita itu hampir setiap hari mengunjungi Bayi yang biasa di panggil dengan Adek Bimbim oleh Gara. Tak heran Bocah bernama lengkap 'Bima Putra Dewamalam' itu kini sudah bisa mengeja kata-kata ringan.
Pita dan Ndaru ingin memboyong orangtua Ndaru ke kota, tapi mereka menolak dan memilih mengurus usaha catering Pita di kampung. Usaha itu kian besar dan memiliki beberapa karyawan, masakan Bu Wati memang sudah terkenal enak. Bahkan rumah yang dulu di sewa Pita telah di beli dan dijadikan tempat produksi.
Pak Iyo pun dilarang kesawah karena sekarang lahannya di serahkan untuk di garap orang. Pak Iyo sekarang hanya mengurusi ayam kesayangannya sekaligus mengontrol ternak ayam yang Ndaru dirikan di tanah kosong dekat bukit yang agak jauh dari pemukiman penduduk. Ndaru tak takut lagi kekurangan stok ayam untuk usaha penyetan sekaligus catering Pita di kampung.
Mereka yang bukan apa-apa kini hidupnya sudah terbilang mapan karena tak kekurangan apapun.Meski demikian baik Pita maupun Ndaru selalu mengajarkan pada Bimbim untuk hidup sederhana serta berhemat, misalnya membeli sesuatu yang di butuhkan bukan hanya sekedar ingin membeli saja.
Bimbim tengah belajar mewarnai bersama Gara, Ndaru dan Pita mengawasinya di ruang tengah sembari memeriksa pembukuan usaha masing-masing.
"Oh ya Pak, tadi Mbak Bela ngasih Aku undangan pernikahannya Pak Adi. Kita sebaiknya gimana?", tanya Pita ragu.
Karena ada Bimbim di dekat mereka, Ndaru membiasakan memanggil sang suami dengan panggilan Bapak agar sang anak mengikutinya.
Ndaru tersenyum mendengar pertanyaan dari Pita, Ia paham pasti Pita takut membuatnya marah ataupun cemburu karena bagaimanapun juga Adi adalah mantan suami Pita.
__ADS_1
"Ya nggak gimana-gimana dong Bu. Kita di undang jika ada waktu senggang dan tidak ada acara lain sudah seharusnya kita menghadiri undangan tersebut kan", jawab Ndaru sambil menatap sang Istri.
"Apa nggak papa Pak?", tanya Pita memastikan.
"Ya nggak papa lah Bu. Dia hanya mantan suami Kamu, setelah menjadi mantan kalian sudah menjadi orang lain dan tak terikat apapun. Berbeda jika di antara kalian ada anak yang mengharuskan kalian tetap berhubungan pasti akan ada perasaan cemburu yang Bapak rasakan untuk Ibu.
Sedangkan ini kan sudah lain ceritanya Bu. Sudah jangan berfikir macam-macam. Kita lihat saja nanti, jika ada waktu kita akan memenuhi undangan itu. Bukankah mereka sudah seperti keluargamu sendiri, menyayangimu dengan tulus. Rasanya tidak pantas jika kita tak menghadirinya", jelas Ndaru.
Pita hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tak ada kata yang bisa Ia ucapkan untuk menjawab kalimat panjang suaminya itu. Sungguh sosok Ndaru membuatnya semakin jatuh cinta karena kedewasaannya dalam menyikapi segala hal.
******..........*****
Si Gadis hanya bisa mengangguk, Ia tak bisa mundur lagi. Karena undangan telah di sebar dan Ia harus siap menerima konsekuensinya.
"Aku tekankan lagi dan harus kamu ingat selama kita menikah. Aku hanya mencintai Pita mantan istriku, jadi kamu jangan berharap lebih dariku. Buang jauh rasamu agar tak pernah jatuh hati padaku atau Kamu hanya akan sakit nantinya.
Aku menikahimu hanya demi memiliki keturunan agar ada yang mewarisi usahaku kelak. Kamu tenang saja semua kebutuhan adik-adikmu akan tetap Aku tanggung tiap bulannya sesuai janjiku saat meminangku.
__ADS_1
Jangan menggunakan hati selama kita menikah", ucap Adi kemudian.
Adi mengajak Gadis bernama Inda itu di sebuah Cafe. Ia ingin memastikan agar Inda tak berubah pikiran karena rencana pernikahannya terlanjur di ketahui banyak orang.
Tanpa menunggu kata terucap dari mulut gadis itu, Ia beranjak meninggalkan Inda setelah berpamitan. Baginya anggukan Inda sudah cukup sebagai jawaban.
"Aku harus bisa menjalani pernikahan ini. Meski seumur hidup Aku harus merasa tak di anggap setidaknya Adik-adikku berkecukupan.
Itu sudah cukup meringankan beben Ibu Panti yang merawatku dari bayi hingga sedewasa ini.
Aku sudah mengambil kaputusan, Aku pun harus siap menjalaninya dengan ikhlas", lirih Inda.
Sedari pertemuan pertama di Panti Asuhan saat Adi menyumbangkan dana di sana. Adi mengajaknya berbicara empat mata. Ia menawarkan pernikahan demi mendapatkan keturunan dan sebagai gantinya Ia akan memenuhi kebutuhan semua Adik pantinya mulai dari makan hingga pendidikannya kelak. Inda langsung mengiyakannya kala itu, Ia lebih memikirkan Adik-adiknya dari pada dirinya sendiri.
*****......*****
***Mohon maaf para Readers.. telat Up nya. Semoga masih berkenan mengikuti.
__ADS_1
Terimakasih***.