Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
09. Dilamar (2)


__ADS_3

Pita benar-benar dilema, ingin rasanya Ia langsung menolak lamaran dari Bosnya itu. Bukan karena tak cinta Ia hendak menolaknya, tapi Ia merasa belum siap untuk menjadi Istri dan menghadapi cobaan dalam berumah tangga. Ia merasa masih begitu muda untuk menerima gelar sebagai nyonya.


Banyak angan dan mimpinya yang belum terwujud, Ia bahkan ingin menikmati rasanya mengejar gelar sarjana di bangku perkuliahan. Ia merasa belum punya sedikitpun ilmu tentang berumahtangga. Jujur Ia merasa takut untuk menikah muda.


Di sisi lain, di kampungnya itu pamali jika menolak lamaran seseorang. Sang gadis akan di sulitkan dalam mencari pasangan hidup, bahkan hingga akhir hayatnya tak jua menikah. Memang tak baik percaya pada hal yang sedemikian itu. Tapi kedua orang tuanya mengajarkan untuk tetap menghormati adat istiadat yang berlaku di daerah sana. Jadi jika akan menolak pun Pita harus mempertimbangkannya lagi.


Pita menoleh pada kedua orangtuanya sebelum mulai memberikan jawaban. Kedua orangtua Pita hanya mengangguk seolah mengijinkan Pita memberi jawaban apapun, dan mereka nantinya pasti akan mendukungnya.


"Mohon maaf sebelumnya, saya masih ingin kuliah. Saya bukan maksud hendak menolak, tapi bisakah menikahnya di tunda setelah saya lulus kuliah", pinta Pita.


"Bagaimana Di?", Papa Pak Adi balik bertanya pada Adi secara langsung.


"Itu terlalu lama Pita. Kamu masih bisa kuliah setelah kita menikah dan Aku tak akan mengekangmu dalam ikatan pernikahan.


Kamu bisa kuliah, berkumpul dengan temanmu dan melakukan kegiatan apapun. Asalkan kamu tak lupa akan tugas dan kewajiban seorang istri", jelas Adi.


"Benar Nak. Menikah sambil kuliah tak masalah. Kamu tetap bisa menikmati masa kuliahmu dengan baik nantinya, meskipun sudah menikah", bujuk Mama Pak Adi yang sudah menyukai Pita sedari pertama bertemu.


Pita kembali terdiam, apa yang harus Ia katakan. Ayahnya hanya mengelus puncak kepalanya, dan Ibunya menggenggam erat jemari Pita seolah meyakinkan Pita apapun jawaban Pita mereka yakin dengan keputusan yang Pita ambil.


"Baiklah Saya menerima lamaran Pak Adi", jawab Pita akhirnya.

__ADS_1


"Panggil Mas Adi ya Nak", pinta Mama Adi sambil tersenyum dan hanya diangguki oleh Pita.


"Baiklah jika Nak Pita sudah menerima maka sebaiknya kita segerakan niat baik ini. Dua minggu lagi kita adakan akadnya", ucap Papanya Adi memutuskan.


"Maaf Pak. Apa tidak terlalu terburu-buru, urusan surat menyurat bukankah memakan waktu dan tak bisa sesingkat itu", protes Ayah Pita.


Orangtua Pita perlu persiapan untuk acara akad nantinya. Mereka tak bisa jika dilakukan dadakan seperti ini.


"Semua urusan surat menyurat serahkan pada pihak kami. Semua bisa diurus dengan cepat", jawab Papa Adi.


"Pa kelamaan. Seminggu lagi aja. Akad dulu surat menyuratnya menyusul", usul Adi yang tak sabar menjadikan Pita miliknya.


Pita dan kedua orangtuanya cukup terkejut, dua minggu saja begitu cepat apalagi waktu seminggu. Benar-benar sudah kebelet si Bos ini. Bagaimana tidak, usia Adi sudah 30 tahun artinya sangat matang berumah tangga dan melihat gadis muda seperti kekasihnya itu membuatnya semangat menikah. Ia tak ingin nantinya Pita tergoda dengan lelaki yang lebih muda darinya, jika tak segera dihalalkan.


"Wah, saya setuju dengan Putra saya. Lebih cepat lebih baik, akad dulu tak masalah. Resepsinya bisa di lakukan sebulan kedepannya", ucap Papa Adi memutuskan.


"Bagaimana denganmu Pita?", tanya Ayah Pita, Ia tak ingin salah langkah.


"Hufffhhhh..... Pita ikut bagaimana baiknya saja menurut Ayah", jawab Pita pasrah.


Ayah Pita diam sejenak, Ia memikirkannya lebih matang lagi. Semoga saja keputusannya sudah tepat.

__ADS_1


"Baiklah. Sebaiknya kita segerakan niat baik ini, Saya ikut saja jika akadnya seminggu lagi. Dan jika keluarga Bapak berkenan, Saya ingin akadnya di masjid kampung ini. Keinginan terbesar Saya adalah bisa menikahkan Putri saya di Masjid itu", ucap Ayah Pita.


"Baiklah kami tak keberatan", jawab Papa Adi.


"Bapak dan Ibu saya harap nantinya jika Pita sudah menjadi menantu kalian. Tolong terima Dia dengan baik, Dia putri kami satu-satunya yang sangat kami sayangi.


Tolong jaga Dia seperti kalian menjaga puti kandung kalian", pinta Ibu Pita setelah sedari tadi terdiam.


"Kami akan menyayanginya dengan baik Bu, seperti Putri kami sendiri", jawab Mama Adi pada calon besannya.


"Terimakasih Bu", ucap Ibu Pita.


"Kami bisa lega menitipkan Pita pada kalian", ucap Ayah Pita.


"Dan kami bisa pergi dengan tenang", gumam Ayah Pita pelan.


Deg.....


Entah mengapa Pita merasa tak tenang dengan ucapan Ayahnya itu.


*******........*******

__ADS_1


__ADS_2