
Awan dan Lala diantar ke rumah sakit, Bunda Edi sempat mendaftar di poli kandungan via online jadi begitu tiba mereka tak perlu lagi mengambil nomor antrian.
Lala yang mencemaskan keadaan suaminya bahkan tak memperhatikan jika Ia tengah menunggu panggilan di depan ruang poli kandungan. Tak butuh waktu lama nama Lala di panggil, Ia yang hanya fokus mengusap tengkuk suaminya bahkan tak sadar jika namanya yang di panggil.
Lala masuk bersama Awan, sementara para orangtua menunggu di luar. Keduanya pun duduk dihadapan seorang Dokter paruh baya yang berhijab.
"Selamat datang Bapak dan Ibu. Ada yang dikeluhkan?", tanya Dokter bertag name Siti itu dengan tersenyum ramah.
"Suami Saya setiap pagi mual dan muntah Dok. Perutnya tak bisa terisi makanan apapun. Tapi anehnya jika siang sembuh dan akan mual lagi di pagi harinya", ucap Lala menjelaskan, sementara Awan memilih menyandarkan kepala pada meja yang ada di hadapannya.
Dokter menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum. Ia pun mulai membaca data calon pasiennya itu.
"Dengan Ibu Kemilau Embun....", ucap Dokter Siti.
"Lala aja Dok, kepanjangan", potong Lala.
"Baik Bu Lala. Kapan haid terakhir?", tanya Bu Dokter.
Degggg......
Lala baru ingat suaminya yang sering meminta jatah padanya itu hampir tak pernah absen. Stok pembalut untuk bulan ini pun belum Ia pakai.
"Tanggal 5 bulan kemarin", jawab Lala.
"Dan sekarang sudah tanggal 10 di bulan ini. Ada kemungkinan Bu Lala hamil. Tapi untuk memastikan harus melalui test terlebih dahulu bisa melalui urine maupun USG", jelas Bu Dokter.
__ADS_1
"Bisa langsung di cek lewat USG saja Dok?", tanya Lala.
Ada rasa takut dalam hatinya jika kembali membuat mertuanya kecewa. Pasalnya sudah satu tahun semenjak mereka pertama kali berhubungan badan. Tapi Lala tak kunjung hamil hingga sekarang. Lala yang kini tengah di landa cemas, justru Awan malah tertidur di meja.
"Mari Bu Lala berbaring di ranjang di bantu Suster", ucap Bu Dokter.
Dengan di bantu Dokter Lala berbaring di brankar. Sementara Awan yang merasakan kursi di sampingnya kosong, tiba-tiba terbangun.
"Lhoh... Dok kok Istri saya yang di suruh baring, kan saya yang sakit", protes Awan saat melihat Lala berbaring di brankar.
"Untuk memastikan dugaan Kami Pak", sahut Bu Dokter.
"Memastikan apa?", tanya Awan sambil mendekat ke arah Lala yang tengah disingkap bajunya di bagian perut.
"Apakah istri Anda hamil atau tidak?", jelas Dokter.
"Kak... udah jangan nanya mulu, kapan selesainya ini? Kita cek dulu benar nggaknya", potong Lala saat Awan hendak membuka suara lagi.
Awan pun langsung memilih diam, Ia bisa menyaksikan di layar monitor. Di dalam kantung rahim Lala ada setitik hitam kecil. Menurut Dokter itu janin yang baru berusia beberapa minggu. Impiannya membuat Lala mengandung bibitnya akhirnya berhasil sudah. Sekarang Ia harus bisa membuat Lala mau membuka hati untuknya, karena adanya buah hati mereka.
Rasa bahagia melingkupi keluarga Edi, akan hadir seorang cucu dalam keluarga mereka.
"Ayo kita pulang", ajak Ayah Edi.
"Nggak. Aku mau makan masakan Pita", tolak Awan.
__ADS_1
"Kak....tapi Pita jauh tinggalnya",bujuk Lala.
"Udah nggak papa La. Namanya ngidam tuh harus di turutin", ucap Bunda.
"Yang ngidam bukannya yang hamil Bun?", tanya Ayah Edi.
"Kan yang morning sicknessnya juga Awan, gak salah kalo yang ngidam Awan juga. Yuk... sekalian jalan-jalan Yah. Kapan lgi Ayah ngajak piknik Bunda"; jawab Bunda.
Alhasil mereka pun melanjutkan perjalanan menuju desa tempat tingal Pita.
Perjalanan jauh membuat Pak Edi sekeluarga merasa lapar karena belum sarapan. Mereka pun memilih berhenti di warung makan sederhana, semuanya makan dengan lahap. Hanya Awan yang engan makan, rasa mual kembali mendera membuatnya lekas ke toilet.
Lala yang tak tega pun memilih mengikuti suaminya. Dengan sabar Ia memijit tengkuk suaminya itu.
"Yank... pengen Mik", ucap Awan lesu.
"Heh....", gumam Lala, Ia yang paham akan maksud Mik hanya bisa menggelengkan kepala.
"Nanti ya kalo di rumah", bujuk Lala.
"Sekarang", rengek Awan.
Akhirnya Lala terpaksa menurunkan resleting di dadanya, dan dengan rakusnya Awan meminum yang Ia inginkan itu. Meski tak ada yang keluar dari wadahnya itu.
Senyum puas nampak diwajah Awan, dan anehnya tubuh lemas itu mulai berangsur segar.
__ADS_1
"Penawar mual yang ampuh", bisik Awan pada Lala yang sudah merona malu.
*****......*****