Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
40. Curhat


__ADS_3

"Nak....", panggil Bu Titin untuk menyadarkan Pita dari lamunannya.


Sayangnya telinga Pita seolah tuli, panggilan bahkan tangisan Baby Gara tak berhasil membuatnya tersadar.


Hingga Bu Titin terpaksa menepuk pundak Pita agak keras. Karena Ia pun sudah kebingungan mendengarkan cucunya terus menangis. Dan, akhirnya Pita pun tersadar dari lamunannya.


"Ya ampun.... Gara.... Maafin Ibu Nak. Kamu haus ya sayang. Cup....cup... jangan nangis lagi ya", ucap Pita terkejut dan segera meraih Gara dalam pangkuannya untuk di susui.


Menyadari akan kelalaiannya, Pita pun menatap ke arah Bu Titin dengan rasa bersalah. Ia merasa bukan Ibu yang baik karena mengabaikan Bayi itu hingga menangis lama.


"Maafin Pita Bu", ucap Pita pelan.


"Sudahlah. Tidak apa. Sekarang susui dulu Gara, biarkan Dia tidur. Nanti temui Ibu di luar saat Dia tidur", ucap Bu Titin sambil berjalan keluar kamar.


Melihat Bu Titin meninggalkan kamar Gara, membuat Pita semakin bersalah. Ia yakin Bu Titin pasti marah padanya karena membiarkan Gara menangis karena sibuk melamun.


Pita mulai pandai memegang bayi, Ia tak takut lagi saat memegangnya. Benar kata Bu Titin, naluri keibuan seorang wanita akan tumbuh dengan sendirinya. Dan Ia pun bisa merasakannya sendiri.


Gara akhirnya tertidur saat menyusu, dengan dibantu Babysitter Pita meletakkan Gara dengan hati-hati agar tak terbangun. Ia pun melanjutkan memompa Asinya yang sebelah, agar tak sakit karena tak diminum, biasanya Gara menyusu bergantian. Tapi mungkin lelah menangis makanya cepat tertidur, meski hanya menyusu sebelah.


"Saya tinggal sebentar ya Mbak", pamit Pita hendak menemui Bu Titin.

__ADS_1


Ia pun segera keluar dan melihat Bu Titin duduk di ruang keluarga. Perlahan Ia mendekat dan duduk di dekat Bu Titin sambil menunduk.


"Maafin Pita Buk. Saya tak bermaksud mengabaikan Gara", ucap Pita pelan.


"Iya Ibu mengerti Nak", jawab Bu Titin.


"Ibu tahu Kamu bersedih. Tapi hidupmu masih panjang, tataplah masa depan jangan terus-terusan menoleh kebelakang. Jika Kamu tersandung, akan jatuh dan terasa sakit.


Tuhan mengujimu dengan berbagai cobaan, karena Tuhan tahu Kamu mampu dan bisa menghadapinya.


Kemarilah, mendekat dengan Ibu jika Kamu butuh sandaran", nasehat Bu Titin.


Pita segera mendekat, Ia merasa seakan melihat sosok Ibunya pada diri Bu Titin.Membuatnya merasa memiliki tempat berkeluh kesah.


Bu Titin pun mengangguk sambil tersenyum. Di rentangkannya kedua tangan menyambut tubuh Pita.


Tanpa diminta, airmata Pita luruh seketika. Ia memang selalu mencoba tegar tapi sebenarnya Ia sangat rapuh saat ini. Cobaan datang bertubi-tubi.


Entah karena nyaman atau percaya pada Bu Titin, perlahan Pita menceritakan semua yang Ia rasakan. Tentang kisahnya sedari awal. Sejak Ia mengenal sosok Adi dan bersedia menjadi Istri Adi dalam jangka dekat.


Ia pikir cinta yang Adi berikan untuknya akan membuatnya bahagia hingga tua. Nyatanya sedari awal menikah saja orangtuanya harus pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Rasa sedih kehilangan orangtuanya mereda saat Ia dinyatakan hamil. Dan Adi semakin menyayanginya saat mengandung. Tapi itu hanya diawal saja, setelah tahu Ia hamil bayi perempuan. Ia di telantarkan tanpa di beri uang untung bertahan hidup.


Dan setelah Ia melahirkan, surat cerai yang Ia dapatkan. Ingin rasanya Ia tak bangun selamanya dari koma jika akhirnya akan semenyakirkan ini.


Sekarang Mantan mertuanya malah memintanya untuk tinggal bersama mereka. Apakah mereka pikir dengan tinggal bersama mereka, Ia akan melupakan perbuatan Adi? Karena lelaki itu pula membuat bayinya harus menderita dan sudah berpulang sebelum melihat dunia.


"Pita harus apa Bu? Pita ingin lepas dari keluarga itu. Meski mereka baik pada Pita, tapi Pita tak ingin dekat dengan mereka karena hanya mengingatkannya pada perbuatan mantan suami Pita.


Karena penolakan Pita yang tak mau tinggal disana, mantan mertua Pita masuk rumah sakit.


Pita harus bagaimana Bu? Pita merasa bersalah, tapi Aku benar-benar ingin jauh dari mereka Bu", tanya Pita frusrasi.


Bu Titin menghela nafas kasar, Ia pun bingung sendiri memikirkan yang Pita alami.


"Ikuti kata hatimu Nak. Jika dengan menjauh membuatmu nyaman, maka lakukanlah. Sudah cukup batinmu tersiksa, jangan di teruskan jika kamu sudah tak sanggup.


Tak salah jika Kamu menolaknya, meski mantan mertuamu harus sakit. Tapi ada kalanya kita perlu egois agar tak tersiksa batinnya. Kita manusia biasa adakalanya kita lelah untuk bertahan dengan hal yang mengingatkan luka.


Jika bisa kita lebih baik pergi agar luka itu perlahan memudar terkikis wakru",ucap Bu Titin mencoba menasehati Pita.


Ada rasa sedih saat Ia menasehati orang lain, sementara Ia gagal menasehati putranya yang kini mengabaikan darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


*****......******


__ADS_2