Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
15. Bahagia dalam Kesedihan


__ADS_3

Ini hari ketujuh acara tahlilan orangtua Pita maupun Lala. Acara di rumah peninggalan orangtua Pita telah usai dan entah mengapa Ia merasakan tubuhnya sangat lelah. Kepalanya terasa berdenyut dan Ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur. Ia pun sudah meminta izin kepada suaminya untuk menginap di rumah orangtuanya tersebut. Tentu saja sang suami mengizinkannya asal menginap bersamanya.


Pita sebenarnya merasa enggan untuk meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangannya sedari kecil itu. Tapi Ia pun tak boleh egois, Ia sekarang sudah menjadi seorang istri dan harus mengikuti sang suami ke kediamannya.


Pita segera merebahkan tubuhnya di ranjang setelah tiba kamarnya, dan tak butuh waktu lama Ia pun sudah jatuh tertidur. Suaminya yang menyusul ke kamar sudah mendapati sang istri yang telah tidur sangat nyenyak. Ia pun tak mungkin marah karena di tinggal tidur duluan. Sebagai suami Ia paham betul jika sang Istri pasti kelelahan, lelah tubuh dan pikiran. Terlalu banyak airmata yang Ia keluarkan untuk melepas kepergian orangtuanya.


*********


Di kediaman keluarga Pramono pun telah di langsungkan acara tahlilan, yang lagi-lagi tanpa di hadiri adik dari almarhum Papa Lala. Omnya itu entah pergi kemana, Lala sudah mencoba menghubungi ponselnya namun selalu di luar jangkauan.


Lala termenung sendiri di taman belakang rumahnya. Bayangan tentang kedua orangtuanya kembali muncul. Semua kegiatan yang pernah Ia lakukan bersama kedua orangtuanya sewaktu kecil terekam apik di ingatanya. Orangtua Lala memang kesehariannya sibuk di kantor bahkan hingga sering ke luar kota. Namun satu hal yang selalu orangtuanya lakukan, menghabiskan akhir pekan seharian bersamanya.


"Nduk....(panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa jawa)", panggil Mbok Yem, ART di rumahnya yang paling sepuh.


"Eh... iya Mbok", jawab Lala tersadar dari lamunannya.


"Sudah malam, Istirahatlah Nduk. Jangan melamun disini", tegur Mbok Yem.


"Aku keingat Papa dan Mama Mbok. Rasanya Aku kok masih nggak percaya", ucap Lala sendu.


"Nggak boleh sedih terus Nduk. Ikhlaskan mereka, agar bisa pergi dengan tenang. Jangan buat mereka tak bisa kembali ke tempat yang seharusnya jika Kamu masih berat mengikhlaskan mereka", nasihat si Mbok.

__ADS_1


"Iya Mbok akan ku usahakan. Meski itu berat bagiku, tapi aku pun tak boleh memberatkan kepergian mereka", jawab Lala akhirnya.


Gadis itu pun segera beranjak kembali masuk ke dalam rumah. Dan malam ini Ia memutuskan untuk tidur di kamar orangtuanya semasa hidup. Ia ingin merasakan kembali tidur disana seperti Ia waktu kecil yang selalu tidur di sana bersama orangtuanya.


*********


Pagi telah kembali datang setelah malam menghilang, semua makhluk telah memulai kegiatannya. Begitupun Pita, Ia berniat membuat sarapan untuk suaminya di rumah sederhana itu setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Ia pun sudah menyiapkan bahan-bahan yang hendak di olah. Kebetulan ada sisa bahan makanan untuk tahlilan kemarin.


Namun saat hendak memulai memasak, kepalanya kembali terasa berdenyut dan perutnya seperti di aduk. Sekelilingnya terasa berputar-putar di pelupuk matanya. Ia pun memilih memejamkan matanya sejenak. Sayangnya, tak mengurangi rasa pusingnya.


Dan......


Bruuughhhhhh......


"Ya....ampun.... Sayang.....", teriak Adi panik melihat Pita terkulai di lantai.


Tak ada siapapun di rumah Orangtua Pita tersebut. Dan Ia tak tahu cara membangunkan orang pingsan. Ia pun bergegas membawa sang istri ke Rumah sakit.


*******


"Bagaimana kondisi istri Saya Dok?", tanya Adi.

__ADS_1


"Dugaan saya Istri Anda tengah mengandung Pak. Saya sarankan untuk memeriksakannya ke poli kandungan untuk memastikannya", saran Dokter tersebut.


"Terima kasih Dok", binar bahagia nampak di wajah Adi.


Ada besar harapannya jika sang istri mengandung buah hatinya.


Setelah Pita siuman Ia segera di antar suaminya ke poli kandungan dengan duduk di kursi roda. Pita yang merasakan kepalanya masih berdenyut tak banyak bertanya.


Begitu tiba disana, Pita langsung melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan sekarang Ia berbaring di samping alat USG. Dan Pita pun akhirnya sadar apa yang terjadi padanya.


"Selamat ya Bapak dan Ibu sebentar lagi akan menjadi orang tua", ucap Dokter tersebut.


Deg.....


Pita syok dengan ucapan Dokter tersebut. Sementara Ia baru sebulan menikah.


"Tapi Dok. Usia pernikahan kami baru satu bulan, bagaimana saya sudah hamil?", tanya Pita bingung sementara Adi hanya mengernyitkan dahi mendengar ucapan istrinya.


Dokter pun tersenyum dan menjelaskan secara perlahan jika kehamilan di hitung dari terakhir datang bulan.


Kebahagiaan hadir di tengah kesedihan yang tengah Pita rasakan saat ini.

__ADS_1


******..........*******


__ADS_2