Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
72. Memulai dengan Ibadah


__ADS_3

***Mohon maaf Readers......


Saya tidak terbiasa menulis yang Hot-hot, jadi maaf jika kalian kecewa saat membaca tidak ada part malam pertamanya....


Karena tak terbiasa Saya tidak berani menulis karena takut kurang menarik.....


Inilah gaya penulisan Saya, tidak menampilkan detail hubungan intim....


Terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita Saya dan mengikutinya hingga sekarang.


Dan jika tidak suka dengan ceritanya langsung skip aja yah....


Untuk yang sudah memberikan kritik dan Saran di kolom komentar terimakasih banyak.


Maaf jika tidak bisa membalas komentarnya satu-persatu. Tapi saya tetap membaca komentar dari semuanya jika ada waktu senggang.


Selamat Lanjut Membaca***.


((((******^^__^^*****))))


"Terimakasih Mbak udah datang ke pernikahanku. Mbak bahkan rela jauh-jauh kesini sekeluarga. Padahal Aku memberitahu Mbak hanya ingin di do'akan saja nggak perlu repot-repot kesini", ucap Pita pada Bela saat berpamitan hendak pulang.


"Kamu ngomong apa sih? Kami nggak repot justru Mbak ikut bahagia melihatmu menikah.


Mbak sekeluarga lagi liburan, suami Mbak ingin ke desa ya udah Aku ajak kesini sekalian liat kamu nikah.


Rencananya Papa dan Mama juga mau ikut tapi Mbak larang takut kecapekan. Tapi tadi Mbak sempat melakukan panggilan video saat Kamu mulai menandatangani buku nikah.


Papa Mama dan Citra sangat bahagia saat melihatmu tadi. Semoga langgeng hingga maut memisahkan dan diberi keturunan yang sholeh dan sholehah yah", Ucap Bela lagi.


"Aamiin... Terima kasih banyak Mbak. Bilang Papa dan Mama Aku sayang kalian semua", ucap Pita sambil memeluk Bela yang sudah menganggapnya seperti saudara terlepas gagalnya rumah tangga Pita dengan Adi Kakak Bela.


Semua tamu telah bubar, orangtua Ndaru beserta adik,ipar serta keponakannya sudah kembali ke kediaman masing-masing. Kini tersisa pasangan suami Istri yang tinggal di rumah Pita.

__ADS_1


Rasa canggung melingkupi keduanya, entah mengapa disaat sudah sah menjadi suami Istri, mereka justru serasa dua orang asing yang tinggal seatap.


"Aku mandi dulu ya, gerah rasanya", pamit Ndaru sambil membawa baju ganti menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur.


Sementara Pita memilih mengambil baju ganti di kamarnya, Ia juga ingin mandi tubuhnya merasa gerah karena memakai kebaya dan penutup kepala. Ini pertama Ia mulai berhijab, sehingga belum terbiasa dan terasa sangat gerah.


Sembari menunggu suaminya mandi, Pita menyiapkan sisa makanan di acara pernikahan tadi di meja. Ia tak sempat memasak, jadi mereka makan saja yang ada.


"Mas makan dulu saja, Pita mau mandi", pamit Pita saat suaminya keluar dari kamar mandi mengenakan kaos oblong dan celana kolor rumahan.


"Mas nunggu kamu aja", jawab Ndaru yang di angguki Pita.


Adzan dhuhur berkumandang setelah keduanya selesai makan.


"Ibadah yuk.... ", ajak Ndaru.


"Siang-siang gini, nggak nunggu malam aja", jawab Pita bingung.


Pletak.....


sentilan mendarat di dahi Pita.


"Aawwww.... kok disentil Mas", tanya Pita bingung.


"Biar nggak mesum. Aku ngajak Sholat bukan ngamar. Emang ada sholat dhuhur malam-malam.


Keduanya telah melakukan ibadah bersama untuk pertama kali setelah menjadi suami Istri, Ndaru mengulurkan tangannya dan disambut oleh Pita.


Mereka memilih bersantai di depan televisi, Pita yang sibuk memilih chanel sementara Ndaru gelisah ingin memeluk Pita tapi ragu.


"Ta.... Mas boleh meluk Kamu nggak?", tanya Ndaru pelan.


Pita terkekeh mendengarnya, suaminya itu menurutnya lucu. Mereka suami istri yang sah baik agama maupun negara, kenapa harus bertanya jika hanya ingin memeluk.

__ADS_1


"Ya bolehlah Mas. Aku istrimu, halal bagi kita bersentuhan", sahut Pita sambil tersenyum sebentar ke arah Ndaru, lalu kembali fokus pada layar kaca.


Ndaru langsung memeluk Pita dari samping, menenggelamkan wajahnya di leher Pita sambil menghirup aroma Pita dalam-dalam. Ia bahagia akhirnya bisa membawa wanita yang Ia cintai kedalam dekapannya.


"Aku sudah lama ingin memelukmu seperti ini. Aku suka wangimu", ucap Ndaru sambil mendusel-duselkan hidungnya di leher Pita.


Pita adalah mantan janda, Ia bukan gadis perawan yang belum tersentuh. Merasakan sentuhan itu membuat nafsunya yang lama hilang tiba-tiba bangkit oleh suaminya itu. Semakin suaminya menggerakkan hidung semakin meremang saja bulu di tengkuknya.


"Apa sih Mas. Orang sabunnya juga sama dengan yang Mas pakai", sahut Pita sambil menahan hasrat yang mulai menjadi.


Semesta seakan mendukung pasangan pengantin baru itu. Tiba-tiba turun hujan lebat, keduanya pun terbawa suasana. Tanpa mereka sadari, pakaian atas mereka sudah terlepas. Hingga.....


Jedeeeeerrrrrrrr......


"Massss.....", pekik Pita terkejut tiba-tiba suara petir terdengar.


Ia baru menyadari tubuh atasnya sudah polos. Dan tak mungkin mereka melanjutkan Iya-iya di ruang tengah. Ia pun segera bangun dan mengambil kaos serta Branya dan berlari ke kamar.


"Aku tunggu di kamar Mas....", teriak Pita sedikit malu, tapi Ia butuh kelanjutannya bibir bawah sudah berkedut tak tenang.


Ndaru pun segera mengambil kaosnya yang jatuh ke lantai dan menyusul Pita ke kamar.


Dengan tergesa Ia merangkak masuk kedalam selimut bergabung dengan sang Istri yang ternyata sudah polos. Niatnya ingin menikmati masa pacaran halal malah berakhir di kasur.


Ndaru mulai melepas semua penutup tubuhnya dan mulai melanjutkan kegiatan yang tejeda iklan si Petir.


Hujan deras mengiringi aktivitas pasangan pengantin baru itu. Sehingga suara mereka tak sampai terdengar di rumah tetangga saat Pita menjerit kesakitan.


Ndaru melakukan dengan tergesa saat merasa miliknya terjepit nikmat. Ia pikir pita yang janda dan pernah melahirkan tak kan merasa sakit lagi. Nyatanya perkiraannya salah, Pita tetap merasa kesakitan saat miliknya dimasuki. Entah karena Ndaru yang bersemangat atau karena miliknya yang dua tahun tak terjamah oleh milik lelaki.


Matahari sinarnya tertutup awan hitam, hujan deras mengguyur bumi. Tapi nyatanya justru membuat sepasang suami itu bermandikan peluh di sela dinginnya hujan.


*****.........******

__ADS_1


__ADS_2