Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
59.Burung Pipit


__ADS_3

Usai Ashar Bu Wati sudah bertandang ke rumah Pita membawa rantang makanan.


"Ini Ibu bawakan masakan. Mau makan dulu atau buat nanti", ucap Bu Wati sambil menyodorkan rantangnya.


"Makasih ya Bu. Nanti saja makannya, Pita masih kenyang kok. Takut kesorean kalau makan dulu", jawab Pita.


"Ya sudah ayo berangkat sekarang aja", ajak Bu Wati.


Pita pun mulai mendorong gerobak sayur berkeliling kampung bersama Bu Wati. Jiwa marketingnya muncul jika saat berdagang. Dengan mulut cerewet bak burung pipitnya itu, Ia mulai merayu pembeli. Kelihaiannya itu benar-benar membuahkan hasil. Sayur hari ini laku semua tanpa tersisa.


"Hebat ya Kamu Nduk. Omonganmu udah kayak pelet aja. Denger sekali kamu nawari dagangan, langsung pada beli", puji Bu Wati.


"Ibu bisa saja. Mungkin karena dulu saya kerjanya jadi sales jadi banyak omong Bu", jawab Pita.


*****_______*****


Hoek.....hoek.....


Terdengar kembali suara Awan muntah di pagi hari. Jika tadi malah dengan kuatnya Ia kembali meminta jatahnya tanpa merasa lelah. Tapi tidak dengan pagi ini, tubuhnya kembali lemah tak berdaya.Jalan dari Kanarmandi menuju ranjang pun harus Lala papah.


"Kak. Yuk Aku antar periksa ke Dokter. Kalau cuma masuk angin harusnya udah sembuh", bujuk Lala.


"Nggak usah Yank. Nanti juga sembuh tanpa perlu ke Dokter. Buktinya tadi malem bisa nambah ronde", bantah Awan sambil mencoba tersenyum di wajah pucatnya.

__ADS_1


Lala yang tak berhasil membujuk suaminya untuk periksa pun memilih menghubungi mertuanya dan mengatakan kondisi suaminya.


Setelah mendapat kabar tentang Awan dari Lala, keduanya memilih mengunjungi anak dan menantunya itu sebelum memulai aktivitas.


"Yah, kok Bunda curiga ya kalau Awan lagi morning sickness. Soalnya katanya muntah sama lemes cuma di pagi sampai siang aja kan", ucap Bundanya Awan.


"Maksud Kamu Lala lagi hamil", jawab Ayah Edi.


"Ya baru dugaan sih Yah. Kita perlu periksakan ke Dokter dulu. Sekarang kita hanya perlu cari cara bagaimana caranya membawa mereka ke Dokter", ucap Bunda Edi.


"Itu gampang. Serahkan saja pada Ayah", sahut Ayah Edi enteng.


Kini keduanya sudah sampai di apartemen Awan. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kondisi Awan yang sangat pucat.


"Hemmmm..... Sudah biarkan saja suamimu La, mungkin sakitnya parah. Kalo tidak mau diperiksa Kamu tinggal tunggu Kekkkkk nya aja", ucap Ayah Edi sambil mengisyaratkan mati sambil mendelik dan menjulurkan lidah.


Bunda Edi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sang suami.


"Jangan takut menjadi janda. Anak teman-teman Ayah banyak yang lajang. Mereka tampan dan mapan. Kalau Kamu menjanda, bakal Ayah jodohin sama mereka.


Jangankan Duda, yang lajang pun pasti mau janda modelan kayak Kamu. Masih muda dan cantik", sambung Ayah Edi.


Awan melotot tajam pada Ayahnya, sementara Lala hanya melongo mendengarkan ocehan mertuanya itu. Bagaimana mertuanya menyiapkan calon jodoh untuknya sementara anaknya sendiri dalam kondisi sakit.

__ADS_1


Mendengar ocehan Ayahnya yang berniat menjodohkan Istrinya dengar orang lain benar-benar geram dan tak terima.


"Ayo Yank antar ganti baju. Antar Aku periksa ke Dokter", ucap Awan.


Suami Istri itu pun memilih keluar kamar membiarkan putranya berganti pakaian.


"Lihatkan Bun, gimana hebatnya Ayah", ucap Ayah Edi sombong yang hanya dijawab dengan geleng-geleng kepala.


Kini mereka dalam perjalanan menuju rumah Sakit terdekat.


"Yank. Suruh Pipit masakin Aku sayur Asem sama Ikan Asin", ucap Awan yang membuat Lala mengernyitkan dahi.


Ia seakan bertanya siapa itu Pipit. Seolah tahu kebingungan Istrinya Ia pun kembali membuka suara.


"Itu temen Kamu yang janda dua kali", sahut Awan enteng.


"Namanya Pita Kak bukan Pipit. Lagian Dia sekarang tinggalnya jauh", sanggah Lala.


"Cerewetnya udah kayak Burung Pipit. Ya kita kesana aja sekarang", putus Awan.


Lala kembali melongo mendengarnya. Awan sering menemani Lala dan Pita bertemu sehingga Ia bisa tahu gimana watak aslinya Pita.


*****.......*****

__ADS_1


__ADS_2