Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
37. Rasa Bersalah


__ADS_3

Pita telah tiba di rumah Bu Titin, rumah yang jauh dari ekspetasinya. Ia kira Bu Titin akan tinggal komplek di perumahan, karena memiliki supir pribadi yang mengantarnya kemanapun. Bahkan supir itu pula yang menjemput Pita dengan mobil yang lumayan bagus. Rupanya itu supir anaknya dan datang hanya saat Bu Titin hendak bepergian.


Yang Pita lihat sekarang hanyalah rumah sederhana di kawasan perkampungan. Namun rumah itu tertata apik dan terlihat asri. Sangat nyaman jika di huni. Tak heran jika Bu Titin betah tinggal disana, meski harus tinggal sendiri di rumah peninggalan suaminya itu.


Bu Titin sudah menyambutnya di depan pintu yang terbuka. Sebelum masuk Pita segera mencuci tangan dengan sabun di kran yang ada di depan rumah. Ia hendak bertemu dengan baby Gara, jadi harus bersih tangannya.


Baru selangkah masuk ke dalam rumah. Terdengar suara yang membuat Pita merasa iba.


"Oekk...oekk.. oekkkk....", tangisan yang sama disaat Pita pertama kali bertemu dengan baby Gara.


Pita di antarkan ke kamar bayi itu, disana nampak seorang babysitter tengah menenangkan bayi itu. Dan rupanya tak berhasil membuatnya tenang.


"Mbak....", panggil Pita.


Sang Baby sitter tersenyum saat melihat Pita datang.


"Akhirnya Mbak Pita datang. Sedari tadi Gara rewel Mbak. Di kasih dot nggak mau, mungkin pengen ***** langsung", jelas sang Babysitter.


"Coba Mbak saya gendong. Ajari Saya ya Mbak, saya belum bisa pegang bayi, takut salah", ucap Pita hati-hati.


Pita pun diminta si Mbak untuk duduk di ranjang sambil selonjoran. Ia pun meletakkan baby Gara di pangkuan Pita dengan hati-hati. Ia pun menyerahkan botol susu yang sudah Iahangatkan pada Pita. Dengan penuh sayang, Pita mencoba mengarahkan botol itu pada Gara. Dan.....


Baby Gara mau menyusu pada botol itu dan kembali menangis saat botolnya telah kosong.


"Ternyata Dia rindu sama Mbak Pita itu Bu", ucap Babysitter pada Bu Titin majikannya.


Bu Titin hanya mengangguk mengiyakan. Ada rasa haru di hatinya melihat cucunya begitu merasa nyaman di dekapan orang asing. Mungkin karena menyusu pada Pita, membuat bayi itu bisa merasakan rasanya di dekap seorang Ibu. Sehingga Ia merasa sedih saat berjauhan dengan Ibunya.


"Mbak.... ini kenapa Gara nangis lagi? Saya harus apa?", ucap Pita panik sambil mengusap punggung Gara yang berbalut kain bedong.


Pita takut bayi itu kenapa-napa karena kembali menangis setelah menyusu dari botol. Ia takut salah saat memegangnya tadi dan membuat bayi itu kesakitan.


Bu Titin hanya tersenyum kecil melihat raut rasa bersalah di wajah Pita saat ini. Wanita yang masih sangat muda untuk menjadi seorang Ibu.


"Mbak Pita tenang jangan panik. Mungkin masih haus Dia Mbak. Bayi lelaki memang biasanya banyak minum", ucap Babysitter menjelaskan.


"Terus botol susunya mana lagi?", tanya Pita.

__ADS_1


"Kalo nunggu memanaskan susu lagi kelamaan Mbak. Langsung di nenenin saja", usul Si Mbak.


"Mbak ini gimana nggak bisa buka ***** kalo sambil pegang bayi", seru Pita kembali panik saat Gara kembali menangis.


Dengan telaten babysitter itu mengajari Pita. Ia tahu ini pengalaman pertama baginya di usia yang masih muda.


"Kamu tenang ya jangan panik. Kalo kamu panik Gara makin kenceng nangisnya", ucap Bu Titin menasehati sambil duduk di dekat Pita.


"Iya Bu. Maafin Pita ya, yang belum bisa terampil pegang bayi yah", ucap Pita sedih.


"Nggak papa. Namanya juga masih belajar. Nanti juga terbiasa, semua kalo pertama kali pasti kikuk. Ada Ibu sama Mbak, kamu tenang aja ya nanti juga terbiasa", hibur Bu Titin sambil mengelus punggung Pita.


Mood Pita kembali membaik, Ia merasa memiliki sosok Ibu di diri Bu Titin saat ini.


*****_______*****


"La....bangun. Udah magrib, Kamu mau mandi apa cuma ganti baju", ucap Awan sambil menepuk pipi Lala pelan.


Lala hanya menggeliat saat merasakan pipinya di tepuk.


"La....ayo bangun dulu. Nanti tidur lagi kalo abis sholat", ucap Awan kembali mencoba membangunkan Lala.


Mau tak mau Lala pun akhirnya bangun, Ia perlahan turun dari ranjang. Namun belum sempat menginjakkan kaki di lantai, tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Eh.... Kamu mau apa Kak", pekik Lala terkejut.


"Anterin Kamu ke kamar mandi", jawab Awan enteng.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Udah turun disini aja" ucap Lala saat sampai di depan pintu kamar mandi.


"Tapi La...", jawab Awan ragu.


Ia ingin mengantarkan Istrinya hingga ke dalam. Ia ingin memastikan Istrinya baik-baik saja. Ia masih merasa bersalah saat tanpa sengaja membuat Istrinya terjatuh.


"Udah deh. Cukup sampai disini aja. Aku bisa sendiri dan makasih sudah di antar", ucap Lala kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berapa lama kemudian Lala sudah selesai. Ia perlahan keluar dengan berpegangan pada dinding. Karena tadi Ia di gendong, maka tak membawa penyangga kaki.

__ADS_1


Ceklek.....


"Aaaaaaaaaa......", pekik Lala.


Brak.....


Ia kembali masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu.


Sementara Awan masih mematung, Ia terbayang tubuh Istrinya yang hanya berbalut handuk yang menutupi dada hingga paha. Ia lelaki normal, pikiran mesum pun tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Kenapa Kakak masih di situ. Keluar sana, Aku mau ganti baju", teriak Lala yang berhasil membuyarkan bayangan mesum Awan.


"Kan Aku nungguin Kamu. Tadi kesini Aku gendong, jadi ke ranjangnya Aku gendong lagi", jawab Awan mencoba setenang mungkin.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri Kak. Cepetan sana keluar Aku udah kedinginan ini", teriak Lala dari dalam.


"Ya udah Aku ambilin pakaian", jawab Awan.


"Jangan....", seru Lala panik, Ia malu Awan memegang **********.


"Jadi pilih diambilin pakaian atau Aku gendong sekarang aja", teriak Awan mulai marah.


"Ya udah ambilin aja", jawab Lala pasrah.


Lebih malu di gendong setengah telanjang dari pada hanya di pegang **********. Toh bukan isinya juga kan yang di pegang.


Dengan mengeluarkan satu tangan Lala mengambil pakaian yang di pilihkan suaminya itu. Dan Ia pun kembali di gendong suaminya menuju ranjang.


"Kamu udah wudhu kan. Kita jama'ah disini ya", ucap Awan yang diaangguki Lala.


Awan pun bergegas mengambil wudhu dan menyiapkan keperluan sholat.


Awan benar-benar merasa bersalah Ia melayani Lala hingga Ia tidur. Ia mengambilkan makan, menyuapinya, mengantarkannya ke toilet jika ingin buang air. Bahkan Ia mengusap rambut Lala hingga Ia tertidur.


"Tidur yang nyenyak Istriku. Maafin Aku yah, yang tak sengaja membuat kakimu semakin sakit", lirih Awan.


Cup.....

__ADS_1


Ia mengecup kening Lala lama.


*****......*****


__ADS_2