Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
33. Biru Segara


__ADS_3

Pita sudah bertemu dengan Nenek bayi itu, ternyata Nenek sang Bayi adalah wanita paruh baya yang berbaik hati mengantarkannya ke Rumah sakit saat hendak melahirkan. Meski pada akhirnya bayinya harus tiada.


"Terima kasih banyak ya Bu. Waktu itu Ibu bersedia mengantarkan saya Ke Rumah Sakit", ucap Pita tulus.


"Sudah kewajiban kita saling tolong menolong, Nak", jawab Bu Titin, Nenek bayi itu.


"Ibu turut berduka cita ya atas kepergian Putrimu. Sekarang Ia sudah tenang di surga, yang Sabar ya", ucap Bu Titin sedih, Ia kembali teringat menantunya yang juga telah tiada.


"Iya Bu terimakasih. Saya sudah ikhlas, mungkin memang takdirNya. Saya juga turut berduka cita akan kepergian menantu Ibu, semoga Almarhumah diterima disisiNya", balas Pita tulus.


Ia memang masih bersedih tapi kini Ia tahu tak hanya Ia yang sedih karena ditinggal untuk selama-lamanya. Ia lebih beruntung karena masih memiliki keluarga dari mantan suaminya yang bersikap baik dan merawatnya hingga sembuh.


Sementara bayi yang ada di pangkuannya itu sudah piatu dan sekarang sang Ayah bayi justru mengabaikannya karena menganggap bayi itu penyebab kepergian Istrinya. Sungguh bayi yang malang, Ia bayi suci tak berdosa justru di salahkan oleh Ayah kandungnya.

__ADS_1


Pita pun berpikir mungkin ini yang terbaik untuk mendiang putrinya, jika pun Ia hidup pasti akan selalu sedih karena di telantarkan Ayahnya sedari dalam kandungan.


"Apakah boleh saya menjadi Ibu susu untuk bayi ini Bu?", pinta Pita.


Ia begitu bahagia saat tadi perawat mengajarinya menyusui bayi itu. Dan ternyata bayi itu begitu lahap menyusu padanya. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Pita, Ia bisa merasakan menjadi seorang Ibu.


"Apakah Kamu sungguh-sungguh Nak?", tanya Bu Titin memastikan.


"Iya Bu. Saya bahagia melihatnya lahap menyusu pada Saya. Jika di perbolehkan Saya ingin memberinya ASI hingga 2 tahun. Setelah kepergian Putri saya, setidaknya ASI saya bermanfaat bisa memberikan kehidupan bagi satu nyawa", ucap Pita berbinar mengingat bahagianya saat disusu.


"Tak perlu Bu. Anggap saja balas budi karena Ibu pernah menolong Saya. Saya ikhlas melakukannya, karena cucu Ibu memang membutuhkan ASI dari Saya", tolak Pita halus.


"Baiklah Nak. Terserah Kamu saja",

__ADS_1


"Oh ya Bu. Saya harus memanggil bayi ini siapa?", tanya Pita sambil mengelua pipi bayi mungil itu.


"Panggil Bayi ini Baby Gara, namanya 'Biru Segara'.


Ibu berharap hidupnya kelak berwarna dan selalu bersinar cerah sebiru langit. Dan akan memiliki hati yang lapang seluas segara/lautan.


Suatu hari nanti pasti Ia akan menghadapi hujatan dan cacian orang-orang karena dianggap membuat Ibunya meninggal. Ibu harap Gara bisa sabar menerima omongan buruk orang-orang nantinya", jawab Bu Titin menjelaskan.


"Nama yang Bagus Bu. Baby Gara semoga harapan Nenekmu terwujud nantinya ya. Sehat-sehat ya Kamu dan tumbuh menjadi anak lelaki yang tegar nantinya",ucap Pita.


Bu Titin tak tinggal serumah dengan anaknya semenjak sang Anak menikah. Ia tinggal di rumah peninggalan Almarhum suaminya. Sementara anaknya membeli sebuah rumah di sebuah komplek perumahan.


Bu Titin sudah mencarikan cucunya seorang pengasuh. Ia ingin merawat cucunya di rumahnya sendiri karena sang Anak belum mau mengurusnya. Pita pun berjanji akan datang tiap hari ke alamat rumah yang Bu Titin berikan untuk menyusui Baby Gara. Ia pun sudah memompa Asinya hingga beberapa botol dan diserahkan pada pengasuh Baby Gara. Kebetulan Gara sudah boleh di bawa pulang, karena kondisinya sudah membaik sejak menyusu pada Pita beberapa kali hari ini.

__ADS_1


Pita hanya berharap bisa menjadi Ibu Susu yang baik bagi Baby Gara hingga 2 tahun ke depan.


*****.......*****


__ADS_2