Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
49. Mertua Menginap


__ADS_3

"Bun... tolong ya... malam ini menginap di apartemenku", rengek Awan pada Bundanya.


"Nggak boleh....", teriak Ayah Edi yang tiba-tiba datang.


"Yah... tolong lah. Memangnya Ayah nggak pengen punya cucu", ucap Awan memohon.


"Apa hubungannya Bundamu menginap disana dan punya cucu?", tanya Ayah Edi bingung sementara Bunda sudah bisa menebak maksud putranya itu.


"Adalah Yah... Anakmu ini kan pengen tidur seranjang sama mantu kita. Dia itu lelaki normal, mana betah tidur sendiri lebih lama lagi", jawab Bundanya.


"Terus kenapa harus minta Bunda menginap jika hanya ingin tidur seranjang?", tanya Ayah Edi masih bingung.


"Astaga Ayah...", seru Bunda gemas sementara Awan hanya menepuk keningnya frustasi.


"Selama ini kan mereka tidurnya terpisah. Kamarnya kan cuma ada dua, kalo Bunda nginep disana kan tidur di kamar Lala. Otomatis Lala harus tidur sama Awan. Sampai disini Ayah paham", jelas Bunda yang diangguki Ayah Edi.


"Masih pengen nidurin istrimu, memangnya servis dari pacarmu kurang memuaskan", sarkas Ayah yang tak suka anaknya mempermainkan Lala, meski Dia sendiri yang membuat Lala terikat dengan putranya.


"Astaghfirullah Ayah.... servis apaan sih? Awan masih punya agama dan nggak sampai servis-servisan gitu.


Aku udah mutusin Dia kok, lagian apa salahnya nidurin istri udah hak milik Aku juga", sahut Awan tak terima di tuduh macam-macam olehnya.


Ada rasa senang di hati Ayah Edi mendengar penuturan putranya yang secara tak langsung menjawab akan kekhawatirannya selama ini. Ia tahu dunia entertainment terkadang hubungan badan dengan kekasih sudah biasa. Ia takut anaknya salah pergaulan dan terjerumus **** bebas. Itu alasannya dulu melarang Awan menjadi fotografer, namun semakin di tentang justru anaknya semakin tertantang.

__ADS_1


"Meski belum di servis pasti sudah icip-icip. Secara tiap hari ketemu dada yang cuma di kembenin", tuduh Ayah Edi.


Bukan tanpa alasan Ayahnya Awan berkata seperti itu, karena penampilan Astri sangat terbuka. Senang memakai atasan model sabrina dengan sengaja menampilkan dadanya hingga separuh dan bawahan rok mini. Itu alasan Orangtua Awan tak menyukai wanita itu, bukan tampilan model justru seperti perempuan panggilan lelaki hidung belang.


"Astaga Ayah. Sama istri yang udah sah dan halal aja belum icip-icip apalagi cuma pacar. Haram Yah.... Haram....", sahut Awan jengkel dengan pemikiran Ayahnya.


"Ok....Ayah ikut Bundamu menginap disana. Bisa aja kan kalo cuma Bunda yang menginap Lala ingin tidur sama Bundamu karena rindu sosok Ibu. Jika Ayah ikut kan nggak ada alasan menolak", alasan Ayah saja, padahal Ia hanya ingin berdekatan dengan istrinya.


"Iya juga Yah. Bener kata Ayah, kalo cuma Bunda yang nginep dan Lala milih tidur sama Bunda, percuma dong, gagal belah durennya", ucap Awan realistis.


Sementara Ayahnya senang sang Anak termakan omongannya. Ia pun bisa tetap bersama sang Istri.


Setelah berhasil meminta orangtuanya menginap di apartemennya, Ia pun memilih pulang dan tak lupa meminta istrinya tak pergi kemanapun karena ada hal penting yang akan Ia sampaikan.


Lala sudah membereskan barang-barangnya dan membawanya masuk ke kamar Awan. Ia pun mulai menata pakaiannya dan belum memperhatikan sekelilingnya.


"Memang Ayah dan Bunda menginap berapa hari?", tanya Lala sambil menata barang-barangnya.


"Nginep aja belum. Mana Aku tahu nginep berapa hari La. Kamu keberatan tidur sekamar denganku?", tanya Awan balik.


"Ya cuma nanya aja Kak. Nggak keneratan kok. Mau tidur sekamar, tidur seranjang, tidur satu selimut pun nggak masalah udah sah gini", sahut Lala tanpa menoleh pada Awan hingga senyum terbit di wajah lelaki itu.


"Nggak takut Aku apa-apain", ucap Awan.

__ADS_1


"Di apa-apain juga hayuk.... nggak akan nolak", jawab Lala enteng.


Seakan mendapat kode, Awan segera mendekati Lala.Dan....


Greeeeppppp.....


Ia memeluk Lala dari belakang dan berhasil membuat Lala mematung. Merasakan tubuh Lala menegang, Awan justru sengaja menduselkan kepalanya di leher Lala. Diciuminya leher itu dan berhasil membuat Lala memejamkan mata.


Disusurinya leher Lala hingga berhasil membuat wajah Lala menoleh. Diciumnya bibir Lala lembut penuh cinta, hingga akhirnya ciuman itu terjadi dan dibalas oleh Lala yang terbawa suasana.


Setelah cukup lama berpagutan, akhirnya terlepas juga bibir mereka.


"Apa boleh minta lebih?", tanya Awan sudah bergairah.


Lala hanya mengangguk mengiyakan, Ia tak mungkin menolak suaminya jika di minta. Terlebih Ia bisa merasakan sesuatu mengeras di bawah sana saat keduanya berciuman tadi. Seolah sesuatu mendesak ingin keluar.


Mereka kembali berciuman sambil berjalan ke arah ranjang. Perlahan tapi pasti akhirnya keduanya menikmati malam pertama yang terlambat, namun di lakukan terlalu cepat karena mereka baru saja sholat Ashar. Bukan malam pertama tapi sore pertama mereka.


Awan melakukan penyatuan penuh cinta pada orang tercinta, sementara Lala melakukan karena kewajibannya sebagai seorang istri.


Bukannya menyambut mertua yang akan menginap, justru Lala di garap habis-habisan oleh Awan yang tak puas-puas setelah lebih dari sekedar icip-icip. Jika tak mendengar adzan magrib Awan enggan mengakhirinya.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2