
Setelah perjalanan jauh dan harus beberapa kali istirahat, akhirnya pukul 14.00 WIB keluarga Edi tiba di rumah kontrakan Pita. Awan yang benar-benar menginginkan masakan Pita pun menolak untuk memakan apapun. Padahal jika lewat pukul 12.00 mual dan muntahnya akan sembuh. Tapi Ia hanya mau makan jika itu masakan Pita. Bahkan Ia rela menahan rasa lapar.
Lala pun sudah menghubungi Pita jika Ia, suami serta kedua mertuanya sedang perjalanan menuju rumahnya di desa. Tak lupa Ia meminta Pita memasakkan apa yang di inginkan suaminya itu. Dan dengan senang hati Pita membuatkannya. Ia bahagia saat mendengar Lala hamil dan suaminya yang ngida.
Setibanya di Rumah Pita, Awan segera meminta makan. Kebetulan semua sudah siap, dan Awan pun segera makan dengan lahap bahkan sempat nambah tanpa rasa sungkan. Sementara yang lain tidak makan karena masih kenyang setelah berhenti makan tadi. Lala yang hamil pun enggan makan, karena belum merasa lapar lagi. Ia memilih menikmati nastar yang kebetulan di buat Pita, Ia makan nasi seperti biasanya hanya saja lebih suka ngemil biskuit maupun kue kering.
"Maaf ya Nak Pita. Kami tiba-tiba berkunjung kesini, tanpa memberitahu lebih awal", ucap Bundanya Awan.
"Nggak apa-apa Bun. Justru Pita sangat bahagia Bunda sekeluarga mau jauh-jauh berkunjung kesini", jawab Pita sambil tersenyum hangat.
"Maafin suamiku ya Ta. Datang-datang minta makan", ucap Lala tak enak, sementara Awan hanya nyengir sambil melanjutkan makannya.
"Nggak papa lagi La. Aku justru seneng, keponakan Aku ini minta di masakin. Artinya Dia sayang sama Tantenya, meski berjauhan bela-belain kesini", jawab Pita sambil mengelus perut Lala yang masih rata.
Rasa sedih merayap di hati Pita, bayangan saat dirinya hamil pun terlintas. Tak terasa airmatanya pun luruh saat kilasan tentang kepergian putrinya kembali terbayang.
"Ta..... maaf membuatmu kembali teringat", ucap Lala sendu seakan paham apa yang dirasakan Pita.
"Eh....", Pita pun tersadar telah membuat bumil disampingnya bersedih.
"Aku cuma kangen Mika. Aku titip Mika ya, tolong di tengokin", pinta Pita.
__ADS_1
"Iya. Kamu tenang aja. Kemarin Aku baru darisana, dan sudah minta orang buat bersihin makam Mika dan orangtuamu.
Kamu cepat kembali, Aku kangen main sama Kamu", jawab Lala.
"Makasih ya Kamu udah pengertian sama Aku.
Untuk kembali mungkin belum bisa dalam waktu dekat ini. Aku masih butuh waktu menenangkan diri", ucap Pita sendu, Ia masih belum sanggup kembali ke kota.
Sore harinya Lala beserta suami dan mertuanya pamit pulang. Tak lupa Awan kembali meminta dimasakan oleh Pita. Kali ini sambal petai dan Ikan goreng.
*****______*****
"Maaf ya motornya jelek", ucap Ndaru agak keras karena sedang di jalan.
"Iya Mas. Ini mah nggak jelek, meski udah lama tapi masih kincong kok", sahut Pita dari jok belakang.
Sebenarnya Ndaru malu membawa wanita yang Ia cintai dengan motor butut. Tapi mau bagaimana lagi, Ia tak memiliki motor lain. Ada motornya yang lebih bagus, tapi Ia tinggal di kota. Ia tak menyangka akan memboncengkan Pita sekarang, jika tahu pasti motornya akan Ia bawa pulang.
Tak terasa Mereka tiba di warung tenda tempat berjualan penyet. Hanya tinggal beberapa orang yang makan disana, padahal ini baru habis isya' tapi warung itu terlihat sudah sepi.
"Pak, pesan ayam penyetnya 2, yang sayap. Es jeruknya 2", ucap Ndaru pada Bapak penjual penyet.
__ADS_1
"Sebentar ya Mas. Tunggu dulu, ini sedang bungkus pesanan", sahut Si Bapak yang di angguki Ndaru.
Ndaru duduk lesehan di meja yang Pita pilih. Tak lama kemudian pesanan es jeruk datang. Namun ayam penyetnya harus menunggu.
Sambil berbincang-bincang tak penting keduanya menunggu ayam penyetnya diantar.
"Mohon maaf Mas dan Mbaknya. Ini ayam penyetnya tinggal satu.
Ini nasinya sudah saya banyakin biar bisa dinikmati sepiring berdua. Dan gratis sekalian minumnya.Kebetulan ini penyetan terakhir.
Alhamdulillah ada banyak pesanan, itung-itung rasa syukur kami. Dan monggo dinikmati biar kesannya romantis.
Saya do'akan semoga Mas dan Mbaknya langgeng hingga akhir, serta segera diberikan momongan.
Kalau begitu Bapak permisi mau beberes sama Ibu. Kalian santai saja makannya, kami nggak buru-buru kok", cerocos Bapak penjual dan segera berlalu tanpa menunggu ucapan terimakasih dari pelanggannya itu.
Sementara Pita dan Ndaru melongo tak percaya akan ucapan Si Bapak tadi. Pita cukup terkejut karena mereka dianggap sebagai pasangan suami Istri. Sedangkan Ndaru diam-diam mengamini ucapan Bapak penjual tadi. Ada harapan Ia benar-benar bisa menjadi suami sesungguhnya bagi Pita. Meski Ia belum tahu pasti status Pita sekarang. Bolehkah Ia berdo'a jika Pita adalah seorang janda.
Mereka pun akhirnya menikmati ayam penyet sepiring berdua. Bukan acara makan sambil suap-suapan, hanya saja makan bersama dalam piring yang sama. Dengan hening tanpa obrolan sedikit pun. Keduanya merasa canggung sekarang karena harus menikmati ayam penyet di wadah yang sama.
*****.......*****
__ADS_1