
"Bubu....", pekik Bocah laki-laki saat pintu ruang perawatan Pita terbuka.
Sejak kemarin Pita telah di pindahkan ke ruang perawatan, kondisinya sehat dan kemungkinan besok pagi sudah bisa kembali pulang.
"Gara", panggil Pita senang.
"Dedek Gala mana Bubu?", tanya Bocah yang dulu disusui oleh Pita itu.
"Ada sama suster, sedang dimandiin dedeknya", sahut Pita lembut sambil mengusap rambut lebat milik bocah itu.
Tak terasa Bocah yang Ia aduh sedari masih merah sudah tumbuh besar. Melihatnya membuat pita kembali terkenang akan mendiang putri kecilnya. Hingga tanpa sadar airmata mengalir di pipinya. Melihat itu Gara ikut sendu.
"Bubu lindu Mika?", tanya Gara seolah paham yang Pita rasakan.
Mungkin karena disusui membuat Gara ikut merasakan yang tengah dirasa sang Ibu susu. Ia pernah ikut Pita ke makam Mika anak Pita, tak heran Ia tahu siapa itu Mika. Bahkan sesekali Ia pergi ke makam diantar oleh Mbak Siti untuk curhat katanya. Kurangnya kasihsayang dari sosok Ayah membuat Gara tumbuh menjadi bocah yang dingin dan tak suka bergaul, tak heran Ia memilih curhat pada nisan daripada teman sebayanya.
Pita hanya mengangguk mengiyakan, Ia tak bisa berbohong pada Bocah yang kini telah sekolah PAUD itu. Ikatan Ibu dan anak pada keduanya sangat kuat.
__ADS_1
"Sini peyuk Gala biyal lindunya iyang",ucap Gara sambil merentangkan kedua tangan.
Pita pun segera membalasnya meski dalam posisi setengah duduk di brankar. Dipeluknya Bocah itu sembari memejamkan mata, andai putrinya masih ada pasti akan tumbuh selucu Gara. Tapi Ia pun sadar jika Ia harus ikhlas dan tak boleh berandai-andai sesuatu yang tak mungkin.
Gara yang cerdas pun tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya. Di usianya yang Dini Ia sudah paham jika wanita yang Ia panggil Bubu adalah Ibu sambungnya, sementara Ibu kandungnya telah pergi bersama Mika anak dari Pita. Karena sedari Ia bayi Pita menceritakan banyak hal, Pita menempatkan diri sebagai Ibu sambung sekaligus Ibu susu bagi Gara. Dan Ia tak ingin Gara melupakan sosok sang Bunda yang telah berjuang mengorbankan nyawanya demi lahirnya sang Buah hati.
Bocah ini paham jika Pita tak lagi menjadi Ibu sambungnya setelah menikah dengan Ndaru. Tapi hal itu membuat bocah itu tak kecewa, Ndaru sering bertemu Gara saat datang berkunjung ke rumah sewa Ndaru. Lelaki itu menyambut Gara dengan baik, dari sosoknyalah Gara bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Bahkan Ndaru malah menyuruh Gara memanggil Bapak sama dengan anak yang di kandung Pita kala itu.
Ndaru menerima Gara dengan ikhlas, Ia tak bisa memungkiri jika bagaimanapun juga Bocah itu adalah anak Pita karena didalam tubuh bocah itu ada Asi yang telah Pita berikan selama dua tahun meski kenyataannya bukanlah putra kandung Pita. Ia menyayangi Gara layaknya Pita menyayangi bocah itu. Ia pun Iba saat tahu bocah lucu itu di benci oleh Ayahnya sendiri sedari bayi. Ia berjanji tak akan membedakan kasih sayangnya pada Gara maupun putra kandungnya itu.
Ceklek.....
Sementara itu Ndaru mengajak Gara duduk dilantai beralaskan tikar agar bocah itu tak mengganggu Pita.
"Sini Kak Gara duduk sama Bapak", ajak Ndaru dan dengan patuh Gara mengikutinya.
Tanpa sungkan Bocah PAUD itu langsung duduk di pangkuan Ndaru. Dengan telaten Ndaru membantu melepas sepatu sekolah Gara.
__ADS_1
"Kak Gara baru pulang sekolah ya. Kenapa nggak pulang ganti baju dulu biar bersih?", tanya Ndaru.
"Wayo balu puyang cekoyah Gala belsih kok Pak. Kata Mbak Citi kayo mahu ketemu dedek bayi halus belsih, Gala udah cuci tangan kok campe belsih banget",protes Gara.
"Iya deh jagoan. Tapi lain kali kalo mau pergi kemanapun pulang dulu, ganti baju dan pamit sama Nenek", ucap Ndaru mengingatkan agar Bocah itu tak terbiasa pergi masih mengenakan seragam.
"Iyah Pak. Gala janji yain kayi puyang dulu deh", jawab Gara patuh.
"Tadi belajar apa di sekolah? Coba Bapak lihat", tanya Ndaru agar Bocah itu tak bosan menunggu Pita menyusui.
"Bental, Gala ambil tas di Mbak Citi duyu ya Pak", pamit Gara menuju Mbak Siti yang membawakan tasnya.
Dengan semangat Gara menunjukkan hasil mewarnainya yang mendapatkan banyak bintang dari Bu Gurunya pada Ndaru.
"Wah pinternya anak Bapak. Besok kalo dedek bayinya sudah besar Kak Gara ajarin mewarnai ya", puji Ndaru.
"ciyap....", seru Gara semangat.
__ADS_1
Ndaru dan Pita ingin Gara dan Putra mereka bisa tumbuh berdampingan saling menyayangi layaknya saudara. Karena bagaimanapun juga mereka adalah saudara sepersusuan. Sudah seperti saudara kandung.
*****..........*****