Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
82.Hasilnya


__ADS_3

***Mohon maaf Readers....


Mungkin up nya selalu lama, niat hati ingin up tiap hari tapi kondisi badan serta waktu tidak mendukung.


Ini masih sibuk ngasuh si Adek yang baru umur 11 bulan. Aktif banget sampai nggak sempat ngetik.


Dan kondisi badan sedang nggak fit, mungkin efek puasa disaat masih menyusui.


Terimakasih yang sudah setia mengikuti dan bersabar menanti kelanjutan ceritanya.


Sekali lagi mohon maaf tidak bisa menanggapi komen-komen dari para readers karena sibuk ngasuh si Adek dan ngurusin Kakak sekolah.


Yang punya anak dua pasti ngerasainlah gimana si Kakak cari perhatian disaat kita terlalu sibuk sama si Adek. Sementara si Adek lagi butuh pengawasan ketat.


Sebisa mungkin saya selesaikan cerita ini. Meski terkesan digantung, tapi tenang aja ceritanya nggak akan berhenti di jalan kok***.


*****_________^^__^^_____*****


Pita nampak murung kembali usai mengatakan jika telat tiga bulan. Ia takut telatnya hanya karena siklus menstruasinya yang tidak teratur karena kelelahan dan banyak pikiran. Ia takut tak bisa hamil lagi dan memberikan keturunan pada Ndaru. Pemikiran itu membuatnya stres dan mungkin berefek pada menstruasinya. Ia takut menduga-duga.

__ADS_1


Ndaru menjadi bingung melihat reaksi Istrinya. Bukannya harusnya Pita senang, dengan telatnya tamu bulanan akan ada kemungkinan Ia hamil kan.


"Kenapa malah sedih. Bukannya kalo telat justru bagus yah, ada kemungkinan kamu isi kan Yank?", tanya Ndaru pelan.


"Aku nggak yakin Mas. Bisa aja kan cuma karena kelelahan dan terlalu memikirkan ingin punya anak membuatku stres sehingga berakibat pada siklus bulananku", lirih Pita.


"Nggak ada salahnya kan dicoba. Siapa tahu beneran lagi isi jadi kita bisa memantaunya sedari dini", bujuk Ndaru.


"Kalau gagal Mas", cicit Pita.


"Namanya juga usaha Yank. Kalo gagal ya coba lagi, kita kan belum ada setahun menikah", sahut Ndaru meyakinkan Pita.


Bukan tanpa alasan ketakutan Pita akan kegagalannya itu. Empat bulan yang lalu Ia telat dan mencoba memakai tespeck, hasilnya zonk karena keesokan tamunya datang. Demi mengikuti keinginan suami, Ia pun mengeceknya. Meski efektif di pagi hari saat bangun tidur, tapi mencoba sekarang tak ada bedanya daripada harus menunggu esok paginya.


Bughhhh......


Pita langsung menubruk tubuh Ndaru yang sedari tadi mondar-mandir di dekat meja makan. Dengan sigap Ia menahan tubuh mereka agar tak terjatuh kelantai. Ia biarkan Istrinya itu terisak di dadanya, Ia hanya bisa mengecup puncak kepalanya sayang. Melihat Istrinya menangis, membuatnya tak banyak berharap. Ia hanya bisa membiarkan Istrinya menangis hingga sepuasnya. Menjadikan dadanya tempat ternyaman untuk bersandar Pita.


"Mas....", panggil Pita disela isak tangisnya.

__ADS_1


"Ssssttttt.... nggak papa. Menangislah sepuasnya, setelah itu kembalilah tersenyum. Karena masih ada hari esok yang menanti untuk kita jalani", potong Ndaru tak ingin Istrinya semakin sedih.


"Hasilnya garis dua Mas", pekik Pita girang sambil menunjukkan kedua tespeck yang Ia genggam.


Ndaru tak bisa berkata apa-apa lagi, Ia baru sadar tangis Istrinya tadi bukan tangis kesedihan namun sebuah tangis kebahagiaan. Akhirnya keinginan sang Istri terkabul. Semoga Ia bisa selalu melihat senyum bahagia di wajah sang Istri setelah ini.


"Tapi Mas... kenapa Aku nggak pernah mual dan muntah seperti saat hamil dulu. Bagaimana kalau ini salah?", ucap Pita sendu, ketakutannya kembali hadir.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Besok pagi kita periksakan saja ke Bidan Desa yang dekat Kantor kelurahan itu", hibur Ndaru.


Rasa bahagia tengah pasangan ini rasakan, bolehkah mereka bahagia meski untuk malam ini saja meski entah esok kebahagiaan itu nyata ataupun tidak.


*****........*****


"Kak terima kasih untuk kasih sayang yang begitu banyak Kamu limpahkan untukku", ucap Lala dalam dekapan Awan.


Ia merasa begitu bahagia dan menjadi wanita paling beruntung karena begitu dicintai seorang Awan. Suaminya itu melayani semua keperluan Lala, bahkan Ia jarang begadang karena Awan memintanya tidur dan justru Awan yang begadang menjaga sang bayi. Dengan telaten Ia yang selalu menggantikan popok saat Sang Putri mengompol dan membangunkan Lala saat Putri mereka kehausan.


"Sudah kewajibanku melimpahkan kasih sayang kepada Istriku yang cantik ini", sahut Ndaru sambil menggendong Safira.

__ADS_1


Awan tak mungkin menyia-nyiakan orang yang Ia sayangi. Ia akan melimpahkan semua rasa sayangnya pada Lala dan membuat Lala mau membuka hatinya untuk Awan.


*****......*****


__ADS_2