Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
55. Kehilangan


__ADS_3

Genap sudah usia Gara 2 tahun, Pita sudah membuatkan kue untuk Bocah itu. Semalam pun Ia tidur memeluk Bocah pengobat laranya itu. Waktunya sudah berakhir, dan Ia tak bisa berpamitan pada Gara secara langsung. Karena Bocah itu pasti tak mengizinkannya.


Pita terbangun pukul 03.00 pagi, Ia pun mengecek kue untuk Gara di lemari pendingin. Kue yang Ia buat sendiri dengan sepenuh hati.


Ia memilih melaksanakan sholat malam untuk menenangkan hatinya. Ia tadi malam sudah mengemas semua barang-barangnya. Uang bulanan dari Aji sudah Ia pindahkan ke rekening pribadinya. Usai sholat Ia hanya perlu menulis pesan untuk Mbak Siti untuk menitipkan Gara setelah kepergiannya.


Surat untuk Mbak Siti sudah Ia tempelkan di pintu lemari pakaian Gara. Saat hendak memandikannya nanti pasti Ia akan melihat pesan darinya itu.


Ia akan pergi jauh pagi ini sebelum subuh. Ia hanya perlu memastikan semua orang tak menyadari kepergiannya.


"Ibu pamit ya Nak. Tugas Ibu menyusuimu sudah selesai. Tumbuh yang sehat dan pintar bersama Mbak Siti ya....


Jangan benci Ayahmu, bagaimanapun juga Ia orangtua kandungmu satu-satunya yang masih kamu miliki.


Maafkan Ibu yang tak bisa bersamamu lebih lama lagi Nak. Meski Ibu tak berada disisimu, tapi percayalah Ibu selalu menyayangimu dan merindukanmu.


Ibu harus pergi jauh, Ibu tak akan sanggup jika menetap di kota ini. Ibu ingin menenangkan diri Ibu terlebih dulu, semoga kelak jika kita bertemu lagi Kamu masih mengingat Ibu", pamit Pita sambil membelai wajah bocah tampan itu.


Pita sudah menghubungi ojek langganannya dulu, jadi Ia hanya perlu menunggu si tukang ojek mengantarkannya ke tempat tujuan.


Dan Ia berhasil pergi tanpa di ketahui satu orangpun penghuni rumah itu.


*****_______*****


Adzan subuh berkumandang membuat Mbak Siti terbangun dan segera menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Usai beribadah Ia segera ke kamar Gara, entah mengapa Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya untuk segera ke kamar itu.


Dilihatnya Gara tertidur pulas dengan posisi miring sambil memeluk guling. Ia pun memilih menyiapkan pakaian ganti untuk Gara nanti jika akan mandi, agar tak terburu-buru. Perhatiannya teralihkan pada sesuatu yang menempel pada pintu lemari, ada tulisan ' Untuk Mbak Siti' membuatnya segera mengambil Amplop itu.


*Untuk Mbak Siti.....


Aku pamit Mbak....

__ADS_1


Aku harus pergi karena kontrak pernikahanku dengan Ayah Gara sudah berakhir.


Kami sudah resmi bercerai dan hanya menunggu akta cerai lahir. Jika sudah sampai disana tolong simpan untukku y Mbak.


Maka tugas menyusuiku pun harus berakhir....


Gara sudah Aku sapih dan sudah mahir minum sufor pake dot. Jadi Mbak nggak perlu khawatir.


Tolong jaga Gara dengan baik Mbak....


*Dan tolong berikan amplop coklat yang ada di laci nakas kepada Ayahnya Gara.....


Terimakasih....


Salam 'Pita'


Mbak Siti cukup terkejut setelah Ia mulai mencerna isi surat itu. Pantas saja Pita dan Pak Aji tidur terpisah sedari awal menikah. Rupanya mereka membuat perjanjian kontrak, dan Pita tetap menjadi Ibu susu Gara meski sudah menikah dengan Ayahnya Gara. Sungguh miris nasib wanita muda seperti Pita. Diusianya yang belum genap 22 tahun harus menjanda dua kali.


Makanan sudah matang dan Mbak Siti bergegas untuk memeriksa Gara di kamarnya, biasanya di jam seperti itu Ia bangun.


Dan benar saja, Mbak Siti mendapati Gara menangis hingga histeris. Rupanya Ia baru saja dari kamar Pita dan mendapati semua barang Pita tidak ada.


Gara pikir Pita hanya ke kamarnya untuk mandi, karena saat Gara bangun sang Ibu tidak lagi di sampingnya. Melihat barang-barang Ibunya tak ada Ia sudah bisa menebak jika Ibunya pergi.


Ia mungkin masih bocah tapi sungguh cara berpikirnya terkadang seperti orang dewasa.


"Gara kenapa nangis?", tanya Mbak Siti sambil memeluk Gara.


"Buubuu.... pelgi", lirih Gara.


Dengan sedikit di rayu akhirnya Gara mau mandi dan hendak sarapan. Tapi tiba-tiba Ia kembali histeris dan berteriak-teriak saat teringat Pita yang sudah pergi.

__ADS_1


Aji yang hendak berangkat ke toko cukup terganggu dengan rengekan Gara. Tak biasanya Bocah itu seberisik ini.


Ia pun memilih menghampiri Kamar Bocah itu. Ingin memastikan apa yang terjadi.


"Itu Bocah kenapa berisik sekali Mbak", seru Aji tak suka.


"Kemana Ibunya? Panggil Dia suruh nenangin kan bisa. Jangan dibiarin nangis sampai teriak, berisik tahu bikin telinga sakit saja", ucap Aji sambil berjalan kearah luar kamar.


"Maaf Pak tunggu", ucsp Mbak Siti mencegah majikannya keluar.


Ia bergegas mengambil amplop besar berwarna coklat sebesar map.


"Ini ada titipan dari Pita untuk Bapak. Dia sudah pergi, Dan Mas Gara menangis karena sedih ditinggalkan Pita", ucap Mbak Siti menjelaskan.


Aji terkejut mendengar kepergian Pita, Ia pura-pura tak perduli.


"Jadi lelaki jangan lemah. Ditinggal orang aja nangis kejer. Dasar cengeng. Lelaki pantang nangis, yang nangis itu cuma Banci", teriak Aji pada Gara dengan tatapan kesal.


Ia merasa kehilangan seperti Gara tapi Ia sungkan untuk menunjukkannya. Bukan mencoba menenangkan anaknya Ia justru membentak bocah kecil itu.


Gara langsung diam setelahnya, Ia diam bukan karena lelah. Tapi Ia merasa tak suka dibentak. Ibunya tak pernah membentaknya meski Ia berbuat salah. Dan Gara menjadi murung setelahnya, Ia tak betah disana takut akan selalu dibentak Aji yang baginya orang asing.


"Gala inin itut enek (Gara ingin ikut Nenek)", lirihnya.


Melihat kondisi Gara membuat Mbak Siti memilih menghubungi Bu Titin. Setelah Bu Titin menyuruhnya membawa Gara kesana. Ia pun membereskan barang-barang Gara dan juga miliknya.


Sementara itu, Aji tak jadi berangkat kerja. Ia kembali ke kamarnya dan membanting semua barang yang ada disana. Ia merasa marah pada dirinya sendiri setelah melihat isi amplop yang Pita berikan. Ada cincin nikah mereka dan juga surat cerai yang telah Pita tanda tangani. Dan artinya mereka benar-benar sudah berpisah, bahkan akta cerai mereka pasti akan keluar. Karena Ia sendiri yang menyuruh pengacaranya mengurus itu.


Tapi dengan bodohnya Ia melupakan itu. Dan sekarang Ia bingung harus mencari Pita kemana? Bisakah membawanya demi Gara? Ataukah untuk dirinya sendiri.


*****......*****

__ADS_1


__ADS_2