
Dengan wajah penuh duka Pita dan Lala mengantar kedua orang tua mereka yang berpulang ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya selain do'a yang tiada henti mereka gumamkan untuk kedua orang tua mereka yang telah tiada.
Pita cukup beruntung, Suami serta seluruh keluarga suaminya hadir disana untuk memberinya dukungan. Setidaknya Pita tak merasa sendiri meski baru saja di tinggalkan oleh kedua orangtuanya, karena Ia di kelilingi oleh keluarga barunya yang begitu menyayanginya.
Berbeda dengan Lala, satu-satunya adik Papanya tak hadir hingga pemakaman usai. Seluruh keluarga Omnya itu tak satu pun yang nampak datang. Sementara keluarga Mamanya ada di luar jawa dan baru bisa datang besok. Bahkan kekasihnya pun, Kak Dewa tak jua hadir menemaninya. Lelaki itu hanya mengiriminya pesan dan mengatakan tengah ada pekerjaan di luar kota.
Sedih dan kesepian jelas Lala rasakan, ditinggalkan kedua orangtuanya secara mendadak dan tak ada sanak keluarga yang menemaninya. Tapi Ia masih bersyukur, setidaknya Ia tak benar-benar sendiri di rumahnya yang besar itu. Ada beberapa pekerja di rumahnya tinggal, ART 4 orang, 2 orang tukang kebun, 4 orang satpam yang bertugas berhantian 2 shift.
Untungnya keluarga Lala tak pernah membeda-bedakan antara majikan dan pekerja. Sehingga para pekerjanya pun tak sungkan memberikan semangat padanya. Setidaknya kehadiran mereka sedikit mengurangi kesedihannya.
"Terimakasih untuk semuanya paman dan Bibi. Kalian mau menemaniku di saat Aku bersedih. Kita tak ada ikatan keluarga, tapi kalian begitu menyayangiku.
__ADS_1
Sementara Omku satu-satunya entah kemana rimbanya? Kami tinggal di daerah yang sama, bahkan Omku bekerja di perusahaan yang sama dengan Papa Mama. Bagaimana tak tahu berita duka ini.
Tak satu pun anggota keluarga mereka yang menampakkan batang hidungnya", ucap Lala sendu saat semua pekerja berkumpul menyemangatinya.
"Iya Nak. Sudah tugas kami menemanimu. Karena Bapak dan Ibu Pramono begitu baik pada kami. Sudah sepantasnya Kami ada untuk memberikan dukungan untukmu", ucap kepala pelayan yang paling sepuh sekaligus wanita yang mengasuh Lala sedari bayi.
Malam ini Lala menggelar tahlilan bersama para pekerjanya dengan dihadiri para tetangga sekitar komplek. Demikian pula di kediaman Pita. Dengan di dampingi keluarga suaminya Pita juga mengadakan tahlilan yang di hadiri keluarga sekitar.
"Iya Nak. Jangan merasa sendiri, kami akan selalu ada untukmu", imbuh Papa Adi.
Sementara Adi hanya menguatkan sang istri dengan memeluknya dari samping sambil memberikan usapan lembut di punggungnya.
__ADS_1
"Terimakasih Pa.... Ma.... sudah mau menerima Pita dengan baik", ucap Pita dengan mata memerah.
Ia terharu mendapatkan suami, mertua dan semua saudara suaminya mau menerimanya dengan baik. Meski dirinya hanya berasal dari keluarga miskin. Mereka ada disaat Pita tengah bersedih. Di tinggalkan kedua orangtuanya untuk selama-lamanya.
Ujian terberat tengah Pita dan Lala lalui, kehilangan kedua orangtua mereka sekaligus dalam sekejap. Di usia mereka yang masih muda harus merasakan menjadi yatim piatu.
Lala bahkan baru mulai kuliah, dan masih lama waktunya untuk mendapatkan gelar sarjana. Sementara Pita sudah jelas kehidupannya nanti. Ia sudah bahagia bersama suami dan keluarga barunya.
Lala benar-benar merasa sendiri, biasanya ada Pita yang ada menemani saat suka dan duka. Sementara kini Ia hanya sendirian, tak mungkin Ia bisa sering-sering bersama Pita. Karena status sahabatnya telah berubah.
*****......*****
__ADS_1