Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
31. Bolehkah Menyusui


__ADS_3

Nasib Pita bagaikan peribahasa 'Sudah Jatuh, tertimpa tangga', Ia baru saja kehilangan bayinya, bahkan pusaranya pun belum sempat Ia kunjungi. Dan sekarang Ia sudah di ceraikan suaminya. Ia benar-benar merasa sendiri sekarang. Tak ada orangtua, bayinya meninggal bahkan suaminya mencampakkannya.


Lelaki yang dulu menyayanginya telah pergi, janjinya yang akan selalu menjaganya hanya bualan belaka. Ia melupakan perasaannya hanya dalam usia pernikahan yang belum genap satu tahun.


Tak ada lagi tempat Pita berkeluh kesah, jika boleh memilih Ia ingin ikut orangtua serta anaknya saja. Namun, rupanya Tuhan belum berkehendak, Ia masih di berikan kesempatan hidup meski telah koma. Mungkin Tuhan masih memiliki skenario hidup yang perlu Ia lakoni lagi.


Pita larut dalam lamunannya, Ia masih dalam suasana duka akan kepergian bayinya. Dan sekarang Ia harus berpikir apa yang akan Ia lakukan setelah keluar dari rumah sakit. Ia tak mungkin tinggal lagi di rumah suaminya meski belum resmi bercerai. Sedangkan rumahnya masih Ia kontrakkan, tak mungkin Ia mengusir sang penyewa, karena mereka baru saja membayar uang sewa untuk satu bulan kedepan.


Pita larut dalam lamunannya, Ia bagai mayat hidup sekarang. Meski sudah tak pucat lagi, tapi tubuhnya tetap kurus dan kulitnya terlihat tak terawat. Ia pun sampai tak menyadari jika seorang perawat sudah ada di sampingnya. Ia masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu. Dan langsung masuk karena tak ada jawaban.


'Kasihan sekali Mbak Pita. Ia masih muda harus mendapat cobaan yang berat. Baru saja Ia kehilangan bayinya hingga mengalami koma dan sekarang harus di ceraikan oleh suaminya. Kejam sekali suaminya itu, tidak bisakah menunggu hingga kondisi Istrinya membaik baru menceraikannya', ucap perawat itu dalam hati.


Ya.... sebenarnya perawat itu datang sedari Pak Teguh datang, namun Ia mengurungkan niatnya dan menunggu orang yang berkunjung tadi pergi. Kebetulan pintunya tak tertutup sempurna, sehingga Ia sempat mendengar masalah perceraian pasiennya Itu. Malang sekali nasib pasiennya itu.

__ADS_1


"Mbak....", ucap Perawat itu pelan sambil memegang lengan Pita.


Pita pun terkejut dan tersadar akan lamunannya setelah merasa tangannya di sentuh seseorang.


"Eh... Ada suster", ucap Pita canggung.


Setelah berbasa-basi, Pita pun minta di antar jalan-jalan oleh perawat itu keluar ruangan. Ia merasa jenuh dan sumpek disana. Karena kondisi Pita yang baru melahirkan, Ia pun harus memakai kursi roda.


Pita melewati sebuah ruangan yang tirainya terbuka. Sehingga Ia bisa melihat dengan jelas yang ada di ruangan tersebut. Ada seorang perawat yang tengah menggendong bayi, di sampingnya ada perawat lain yang memegang botol susu. Nampaknya bayi itu terus-terusan menangis, dua perawat itu kuwalahan menenangkannya. Hal itu membuat Pita tertarik.


"Mungkin Bayinya masih sedih Mbak. Ibunya baru meninggal setelah melahirkan, bahkan sempat koma. Dan sekarang bayi itu belum mau minum susu.


Harusnya Ia di beri Asi secara langsung, tapi tidak ada yang bersedia dan hanya memberikan Asi dalam botol", jelas sang Perawat.

__ADS_1


"Apakah Asi saya masih bisa keluar setelah bayi saya tiada Sus?", tanya Pita, Ia sedih mendengar kisah bayi itu.


"Harusnya sih masih. Apa mau di cek dulu Mbak?", tanya perawat tadi.


"Iya Mbak. Kasihan bayi itu. Aku ingin Asi ku bermanfaat, meski Aku tak bisa melihat bayiku lagi setidaknya Aku bisa memberi kehidupan pada bayi lain", ucap Pita sendu, tak terasa airmata mulai mengalir lagi.


Sang perawat pun trenyuh mendengarnya. Ia yakin Pita wanita yang kuat dan bisa melewati cobaan itu.


"Mbak jangan nangis. Nanti kalau sedih Asinya bisa nggak keluar. Banyak sedikitnya Asi yang keluar tergantung bahagia tidaknya sang Ibu", ucap sang perawat menghibur.


"Iya Sus", jawab Pita mencoba tersenyum agar bisa membuat bayi itu bertahan hidup dengan Asinya.


"Jadi ada harapan kan Sus, Saya bolehkan menyusuinya jika Asi saya keluar nanti", pinta Pita memastikan.

__ADS_1


Ia tak sabar menyusui seorang bayi. Ia ingin merasakan menjadi seorang Ibu. Entah mengapa Ia lebih semangat untuk melanjutkan hidup setelah melihat bayi itu. Senyum terbit di wajahnya membayangkan tengah menggendong bayi itu.


*****......*****


__ADS_2