
Dua kemungkinan yang terjadi saat ada orang yang tengah terbaring koma, yang pertama sadar dan yang kedua adalah meninggal dunia.
Begitu pula dengan kondisi dua orang pasien ICU yang koma pasca melahirkan itu. Menantu Bu Titin lebih beruntung karena ada dirinya dan anaknya yang menanti kabar terbaru setelah di tangani Dokter. Sementara Pita sendirian, mertuanya kebetulan pulang karena kondisi Papa Adi yang kurang sehat. Saat ada pergerakan di jarinya tadi pun hanya Perawat jaga yang kebetulan melihatnya.
Dan akhirnya.....
Pita sadar dari komanya setelah mendengar tangis bayi, Ia yang terlalu nyaman dengan tidurnya tiba-tiba merasa tertarik kembali dengan paksa kedunia setelah mendengar tangisan bayi yang cukup keras dari pasien di samping ruangannya.
Sementara itu terdengar teriakan frustasi di samping ruangannya. Ibu si Bayi tak berhasil bangun dengan kehadiran bayinya, justru Ia tidur untuk selamanya. Ibu sang bayi telah berpulang, tak ada yang bisa menolak takdir dari Tuhan meski manusia terkadang sulit untuk menerimanya.
Suami dari wanita yang dinyatakan meninggal dunia oleh Dokter hanya bisa berteriak tak karuan. Ia masih belum percaya Istrinya meninggal setelah berhasil melahirkan buah cinta mereka.
Anak Bu Titin itu merasa Tuhan tak adil padanya, kenapa Istrinya harus pergi setelah berjuang memberikan kehidupan untuk bayi laki-lakinya itu. Perjuangan Istrinya sia-sia, Ia merasa menyesal menuruti kemauan Istrinya untuk melahirkan secara normal jika harus berakhir seperti ini.
Sang suami itu tak sadar bahwa setiap kelahiran selalu ada kematian. Jadi bukan karena Tuhan tak adil tapi hanya saja si Manusia yang tak bijak menyikapinya.
"Sudah Nak. Ikhlaskan Istrimu, mungkin ini memang jalannya untuk berpulang. Setidaknya Kamu sudah menurutinya untuk melahirkan secara normal. Mungkin itu permintaan terakhirnya sebelum tiada.
Seorang wanita pasti ingin menjalankan kodratnya sebagai wanita dan melahirkan melalui jalan lahir. Ikhlaskan agar Ia tenang disana. Ingat ada anakmu yang membutuhkanmu", ucap Bu Titin mengingatkan anaknya.
"Biarkan saja, Aku tak perduli dengan Bayi itu. Buat apa Dia harus lahir jika hanya membuat Ibunya meninggal Bu", teriak Anak Bu Titin emosi.
Plakkk......
__ADS_1
Satu tamparan dari Bu Titin mendarat di pipi anaknya itu.
"Apakah Kamu sadar dengan ucapanmu Nak. Dia itu Putramu, rezeki yang Tuhan titipkan padamu. Dengan mudahnya kamu bilang tak mau peduli.
Kamu ingin menyia-nyiakan pengorbanan Istrimu. Ia merelakan nyawanya demi bayi kalian. Dia pasti sedih melihatmu berbicara seperti itu.
Apa kamu tahu bagaimana susahnya mengandung sembilan bulan dan berjuang untuk melahirkan. Kamu harusnya bersyukur anakmu masih selamat dan tak pergi bersama Ibunya", pekik Bu Titin tak kalah emosi.
"Aku tidak perduli. Biarkan saja Dia pergi daripada membuatku membencinya", ucap Anak Bu Titin masih tak sadar diri.
Plakkkk......
Satu tamparan mendarat di pipi anaknya yang lain.
Sedih boleh. Tapi jangan salahkan bayi suci tak berdosa itu. Atau Tuhan akan murka padamu. Jangan sekali-sekali menyia-nyiakan rezeki yang Tuhan beri, atau Kamu akan menyesal nantinya", ucap Bu Titin memilih meninggalkan Putranya itu dan menuju keruangan Bayi.
******------*****
Sementara Pita yang kondisinya sudah stabil telah di pindahkan ke ruang perawatan. Kini di temani oleh Citra adik bungsu Adi.
"Terimakasih Mbak sudah mengurus pemakaman Putriku", lirih Pita sambil menahan airmata saat mengingat mendiang putri mungilnya itu.
"Kamu bicara apa Kak. Tak perlu berterimakasih. Itu sudah kewajibanku, karena Dia keponakanku. Oh.. ya kenapa Mbak sih. Aku ini adikmu lho kalo lupa", jawab Bela.
__ADS_1
"Maaf Aku tidak terbiasa tak memanggil Mbak pada yang lebih tua", ucap Pita yang membuat Citra cemberut.
Citra tak suka di panggil Mbak karena merasa tua, Ia ingin dipanggil Dek karena Ia anak bungsu.
"Ayo makan Aku suapi yah", ucap Citra.
"Nggak Mbak. Aku nggak laper", jawab Pita.
Tiba-tiba Pita menangis mengingat bayinya yang tak selamat itu. Harapan satu-satunya untuk bertahan hidup justru pergi meninggalkannya.
"Kak. Aku tahu kamu sedih tapi jangan menangis terus. Kasihan keponakanku, ikhlaskan Dia. Jika melihat Ibunya menangis pasti Dia ikutan sedih dan menangis. Apa Kakak tega membuatnya menangis jauh disana", nasehat Citra.
Citra tahu sakitnya kehilangan, karena Ia pernah keguguran usia 5 bulan saat hamil calon anak kedua. Dan setelah itu Ia sulit hamil lagi. Tapi Ia tak ingin Iparnya itu larut dalam kesedihan.
"Lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu baru sadar dari koma dan jangan sampai drop lagi", nasehat Citra yang di angguki Pita.
Pita pun merasa lelah mungkin karena koma dan terus-terusan menangis, dan rasanya hanya ingin segera memejamkan mata
*****......*****
**Maaf jika up nya terlalu lama ya Readers....
Punya baby usia 8 bulan, lagi aktif-aktifnya merangkak. Jadi ya... gitu deh... sibuk ngawasi bocil. Alhasil nggak sempat nulis karena kalo malem udah lelah matanya nggak bisa diajak melek buat ngetik.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah setia mengikuti meski terlambat up**.