
Tak terasa kini usia kehamilan Pita sudah menginjak bulan keenam. Adi menginginkan untuk melihat jenis kelamin janin di kandungan Pita sedini mungkin. Dan entah mengapa Ia ngotot ingin memiliki anak laki-laki.
Dan sekarang Pita tengah menjalani pemeriksaan kandungan, setelah di USG Dokter menyatakan bahwa janin tersebut berjenis kelamin perempuan.
"Apa Dok. Perempuan", seru Adi tak terima.
"Iya Pak. Karena kandungan istri Anda lemah, jadi perlu diberikan banyak perhatian. Agar Ibu tidak stres dan berakibat buruk pada janinnya", jelas Dokter kandungan itu.
Adi hanya mengangguk tanda mengiyakan, terlihat raut kecewa di wajahnya.Dan Pita bisa melihatnya dengan jelas, tapi apapun jenis kelaminnya bukankah itu rezeki dari Tuhan untuk mereka. Kenapa suaminya mengharuskan anak laki-laki.
"Mas, nanti kan kita bisa punya anak lagi. Semoga saja nanti di beri laki-laki", hibur Pita yang hanya di jawab dengusan Adi.
Semenjak itu sifat Adi pada Pita berubah. Tak ada lagi perhatian, tak ada lagi perbincangan suami istri. Bahkan Adi lebih sering memilih menginap di kantor daripada pulang kerumah menemani Istrinya yang tengah hamil. Jika pun pulang Adi akan tidur di kamar yang berbeda dengan Pita.
Setiap Pita mengirimkan pesan, hanya dibaca tanpa berniat membalasnya. Saat Pita menghubungi lewat panggilan selalu Adi abaikan.
__ADS_1
Hari-hari Pita hanya dihabiskan untuk menangis sendirian di rumah itu. Ya.... semenjak mengetahui Pita mengandung bayi perempuan, semua ART Adi pecat. Mau tak mau Pita kembali mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Setiap hari Ia memasak untuk suaminya, namun tak pernah suaminya sentuh. Pita pun menjadi malas untuk makan.
Ia benar-benar merasa kehilangan sosok suami yang begitu Ia banggakan. Laki-laki yang mencintainya dulu telah hilang. Hanya raganya saja yang masih bisa Ia lihat tanpa bisa menyentuhnya.
Ingin mengadu pada adik iparnya, Ia malu. Mau mengadu pada mertuanya Ia tak berani, Papa Adi di doagnosa sakit jantung dan tengah menjalani pengobatan di Luar negri. Ingin bercerita pada Lala tak mungkin, nasib rumah tangga sahabatnya jauh lebih buruk sedari awal. Kini Pita dan Adi hanya dua orang asing yang tinggal dibawah atap yang sama.
******-----------*******
"Ingat kita hanya sebatas tinggal di bawah atap yang sama. Jangan melampaui batasmu, meski kita menikah secara resmi bukan berarti kamu harus melakukan tugasmu sebagai seorang Istri", bentak Awan pada Lala.
Lala hanya ingin melakukan tugasnya dengan memasakkan untuk Awan setiap hari dan juga menyiapkan pakaiannya saat akan bekerja. Lelaki itu bekerja sebagai fotografer di sebuah studio foto yang Ia kerjakan bersama rekannya.
Rupanya perlakuan Lala itu dianggap oleh pacar Awan sebagai usaha untuk menggoda Awan agar tertarik pada Lala. Jikapun ingin menggoda bukankah itu sah saja, toh mereka suami Istri.
Awan memang bersedia menikah dengan Lala karena ancaman Papanya yang akan memberikan semua harta warisannya pada Danu, anak adik Papanya yang sudah yatim piatu. Dan Ia pun masih menjalin hubungan dengan seorang model bernama Astri yang di panggil ulet keket oleh Om Edi.
__ADS_1
"Nggak usah ngegas kali. Pelan aja Aku masih denger, belum budeg telingaku. Lagian kenapa baru protesnya sekarang, kemarin-kemarin diam aja tuh. Masakanku kamu makan, baju yang Aku siapin juga kamu pake.
Harusnya tuh yah, kalau mau protes tuh sedari awal nikah. Rugi banget Akunya, niat berbakti sama suaminya eh... suaminya nggak Ridho. Hangus kan sekarang pahala Aku.
Okelah kalau nggak mau di urusin, nggak masalah buat Aku. Setidaknya Aku sudah ada itikad baik menjalankan tugas sebagai Istri", jawab Lala panjang lebar.
Ada yang berubah pada diri Lala, semenjak di kecewakan Ia menjadi banyak bicara. Ia tak mau jika hanya selalu diam akan diremehkan oleh suaminya, bahkan pacarnya yang model 'belum terkenal' tapi songongnya minta ampun itu.
Sering Si Astri itu muncul di apartemen mengunjungi Awan yang ingin menjadikan Lala pembantu. Tentu saja Lala tak akan terima dan terjadilah keributan setiap kali Astri datang.
"Baguslah kalau kamu langsung Ok. Aku tak mau Astri marah-marah karena kamu melayani kebutuhanku", ucap Awan.
Begitupun Lala dan Awan keduanya yang sedari awal adalah orang asing yang terikat akan pernikahan. Kini keduanya harus tinggal di bawah atap yang sama.
*****.......******
__ADS_1