
"Apa...???? su...suami", ucap Aji terkejut.
Ia datang ke rumah kontrakan Pita pagi harinya setelah Adi mendatangi Pita kenarin sore. Dan Ia mendapati rumah Pita kosong, menurut warga yang Ia tanyai. Pita sedang berlibur dengan suaminya.
Suami? Kapan Pita menikah? Kenapa semua tiba-tiba? Ia yang masih berharap bisa menjadikan Pita istrinya lagi dan Istri yang sebenarnya, sekaligus Ibu untuk Gara. Nyatanya Ia harus menelan kekecewaan saat tahu Pita sudah menjadi milik orang.
"Kalo Masnya nggak percaya, tanya aja rumah sebelah. Kebetulan itu rumah Mertua Mbak Pita", lanjut Ibu-ibu yang Aji tanyai.
Ingin rasanya Ia tak percaya mendengar omongan Ibu itu, tapi yang Ia tahu orang desa terkenal jujur, tak mungkin mereka hanya berbohong.
Ia pun memilih pamit dan pulang ke rumahnya, sepanjang perjalanan Ia meluapkan kekesalannya dengan memukul dan menyengkeram setirnya.
Bodoh.....
Kenapa Ia begitu bodoh melupakan perjanjian kontrak yang Ia buat sendiri. Andai saja Ia segera menghapus perjanjian itu, mungkin sekarang Pita masih terikat pernikahan dengannya.
Aji sempat berpikir selama Pita masih menjadi Istrinya, akan ada kesempatan untuk berjuang mendapatkan hati Pita.
Satu tahun setengah bukan waktu yang singkat, Ia hanya bisa menyesal kenapa Ia tak menggunakan waktu itu sebaik mungkin. Aji dulu selalu mengabaikan Pita, tapi seiring berjalanya waktu, kehadiran Pita mulai mengusiknya. Dan setelah kepergian Pita membuatnya semakin tersadar akan rasa yang tumbuh di hatinya itu telah membesar.
Sekarang Pita telah menjadi milik orang, dan tak mungkin Ia mau merusak hubungan orang. Jika Ia jadi pebinor, bagaimana reaksi Ibunya, bisa-bisa hak warisnya akan di ambil kembali.
Ia harus melepaskan Pita, dulu saat dalam genggamannya Ia justru menyia-nyiakan ketulusan Pita mengurus buah hatinya bersama mendiang sang Istri. Begitu terlepas dari genggamannya rupanya sangat sulit untuk di gapai lagi.
*****______*****
Adi tak pulang ke rumahnya melainkan menuju kediaman orangtuanya. Ia ingin berkeluh kesah kepada orangtuanya, membagikan rasa sakit yang tengah Ia rasakan. Rasa kecewa akan mantan Istrinya yang sudah menikah lagi.
Sayup-sayup terdengar suara riuh gelak tawa, sepertinya kedua adiknya tengah berkumpul. Ia penasaran apa yang tengah mereka bicarakan.
"Papa bahagia melihat anak itu menemukan jodohnya. Papa harap Pita bahagia dengan suaminya sekarang.
Sudah cukup Ia menderita selama ini, Ia menerima kemalangan bertubi-tubi. Setelah dicampakkan Putraku sendiri, Ia harus kembali menikah dan hanya menjadi Ibu Susu", ucap Papanya Adi sendu, mengingat bagaimana menderitanya anak yatim piatu itu.
"Sudahlah Pa. Aku yakin Pita bahagia. Aku bisa melihat ketulusan suami Pita, dari cara memandang Pita sudah menyiratkan bahwa Ia begitu mencintai Pita", sahut Bela.
"Nyesel..... nyesel deh Kak Adi. Yang Aku dengar Dia ngebet mengejar Pita.
Dan gimana nyeseknya Kak Adi saat tahu Pita sudah menikah.
__ADS_1
Yang pasti.....
Sakitnya tuh disini.....", ucap Citra sambil tergelak.
Dan terdengar suara tawa yang lain, seolah kemalangan Adi adalah hiburan untuk mereka.
Mendengarnya membuat Adi emosi, inginnya berkeluh kesah justru mendengar dirinya di tertawakan.
"Jadi ini kelakuan kalian....
Berbahagia diatas penderitaanku", suara Adi tiba- tiba terdengar menggelegar.
"Helooooo.... penderitaan yang sebagaimana Kak....
Yang Kakak rasain nggak ada seujung kuku yang Pita rasain", ucap Citra muak dengan Kakaknya yang sok menderita.
"Apa Kakak pernah berfikir seberapa lebar dan dalamnya luka yang Kakak buat untuk Pita", imbuh Bela.
Kedua Adik Adi sudah tak respek pada Kakak kandungnya sendiri setelah apa yang Adi lakukan pada Pita.
"Kami perempuan Kak, pernah merasakan susahnya hamil dan ingin di manja oleh suami dan dilimpahi kasih sayang.
Bahkan saat akan melahirkan Ia harus berjuang sendiri untuk sampai Rumah sakit", lanjut Bela.
"Dan setelah kesakitan setelah berjuang hidup dan mati, Dia harus kehilangan bayinya.
Sakit Kak rasanya....
Bayi yang Ia jaga dan susah payah Ia lahirkan harus berpulang.
Rasanya separuh jiwa akan seolah hilang, Aku tahu rasanya kehilangan karena Aku pernah keguguran.
Dan disaat Kakak harus memnguatkannya justru surat cerai yang Kakak kirimkan.
Sungguh terbuat dari apa hati Kakak itu.
Satu Kata Kak....
KEJAM", cecar Citra.
__ADS_1
"Tahu apa kalian tentangku. Sehingga menyudutkanku", balas Adi tak mau disalahkan.
"Sudahlah Nak, lepaskan Pita. Jangan mengusiknya, biarkan Ia mendapatkan kebahagiaannya setelah apa yang Kamu perbuat padanya dulu", tegur Mama Adi.
"Oh... Mama juga ikut menyudutkanku juga. Setelah Adi berjuang susah payah membangun kembali perusahaan yang hancur ini.
Jika bukan karena Aku kalian hidup dengan apa?", Seru Adi tak mau di salahkan.
"Sudahlah Nak. Tak usah berdebat. Biarkan Pita dengan kehidupannya sekarang.
Dan lanjutkan hidupmu sendiri", putus Papa Adi.
"Kalian tidak usah menasehatiku.
Aku hanya ingin kembali bersama Pita. Lihat saja Dia akan kembali padaku, bisa apa suami miskinnya itu.
Hanya orang Desa yang tak punya apa-apa", ucap Adi pongah.
"Arghhhh..... kenapa Kamu malah memilih pria miskin itu Pita...
Dia itu miskin, tak akan membuatmu bahagia.
Haha...hahaha....
Kamu harusnya kembali padaku....", teriak Adi frustasi.
Ia mengambil benda apa saja yang ada di meja dan membantingnya di tembok.
Prannngggggg.....
pranggggg....
Buk.... Pyarrrrrr...
Adi murka, Ia tahu Ia banyak melakukan kesalahan pada Pita tapi Ia tak suka terus-terusan diingatkan akan kesalahannya.
Ia murka pada semua keluarganya yang tak mendukungnya saat butuh berkeluh kesah, Ia marah karena di sudutkan.
Ia yang dipenuhi emosi bahkan tak menyadari Papanya tengah memegang dadanya menahan rasa sakit.
__ADS_1
*****.......*****