
"Kenapa? Apa karena Aku tak tampan dan kaya?", tanya Ndaru kecewa.
Pita menggeleng sambil tersenyum, bagi Pita sosok Ndaru adalah lelaki yang sempurna. Selama mengenalnya Ia tahu lelaki ini ibadahnya rajin, memperlakukan wanita dengan baik dan menghormati orang yang lebih tua.
Ndaru tergolong tampan menurut Pita, kulitnya kuning langsat tak menunjukkan Dia berasal dari kampung. Wajahnya bersih dan sering tersenyum ramah.
Masalah kaya, Pita tak mempermasalahkannya. Dua kali menikah dengan orang kaya tak membuatnya bahagia. Lagi-lagi harta membuat orang menjadi jahat dan membuatnya terluka.
Ndaru adalah lelaki lajang sedangkan Ia menjadi janda dua kali dalam kurun waktu belum genap 3 tahun. Pita merasa tak pantas bersanding dengannya. Masih banyak gadis perawan untuk Ndaru dapatkan.
"Aku janda Mas. Bahkan dua kali itu pun dalam waktu singkat. Sedangkan Kamu masih lajang, banyak gadis perawan yang pantas untukmu", ucap Pita.
"Aku tak mempermasalahkan statusmu. Menikahlah denganku....",pinta Ndaru.
"Pernikahan terjadi bukan hanya dua orang saja. Masih ada keluargamu, mungkin Kamu tak mempermasalahkannya.
Lalu bagaimana orangtua serta saudara-saudaramu jika kamu menikahi seorang janda", bantah Pita.xt
"Orangtuaku tak mempermasalahkannya Ta. Ibu bahkan hendak menjodohkan kita.
Begitupun Adik-adikku, mereka hanya ingin Aku segera menikah dan tinggal bersama orangtuaku. Karena mereka ikut dengan suami masing-masing, sehingga jika Aku menikah orangtua kami ada yang memperhatikan", ucap Ndaru.
"Tapi.... Aku masih takut Mas. Aku takut kembali gagal. Lagi pula Aku masih masa iddah, tak mungkin Aku menikah dalam waktu dekat", ucap Pita masih mencoba menolak.
"Bukankah Kamu bilang kalian hanya menikah kontrak. Bahkan tak ada kontak fisik. Berarti Kamu belum bercampur dengan mantan suamimu. Aku rasa tak membutuhkan masa Iddah", jawab Ndaru.
"Iyakah", tanya Pita bingung.
"Sudah malam. Kita pulang sekarang. Kamu pikirkan saja dulu permintaanku. Aku harap jawaban baik yang Aku dapatkan", putus Ndaru.
Mereka pun akhirnya memilih pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.15. Namun di pertengahan jalan Pita masih merasa lapar, memang porsi makannya cukup banyak tak heran jika tubuhnya padat berisi.
"Mas...", panggil Pita sambil menepuk pundak Ndaru.
"Iya.... kenapa?", tanya Ndaru.
__ADS_1
"Ngebakso yuk. Aku masih lapar, aku traktir deh. Itung-itung perayaan pertemuan kita setelah sekian tahun.
Tuh di depan sana, kiri jalan ada bakso yang enak. Ibu pernah ajak Aku makan disana", ajak Pita semangat, Ia sudah membayangkan makan kuah panas itu.
"Masih doyan makan", ledek Ndaru.
"Ya masihlah. Apa nggak lihat tubuhku makin bulet. Di kampung makanannya enak-enak, udah gitu murah. Gimana nggak makin doyan makan coba", sahut Pita santai, Ia melupakan sejenak lamaran Ndaru tadi.
Ndaru hanya tersenyum mendengar celotehan Pita. Ia tahu warung bakso yang Pita maksud, itu adalah warung milik teman SMA nya dulu. Dia meneruskan usaha orangtuanya sedari lulus SMA. Untuk soal rasa sudah banyak yang tahu, karena mereka tetap mempertahankan rasa yang enak itu meski berganti penerus yang mengelolanya.
"Eh ada Mbak Pita", sapa pemilik warung ramah.
Meski memiliki beberapa karyawan Ia masih suka membantu melayani pembeli.
"Mau di bungkus atau makan sini?", tanya pemuda bernama Bima yang biasa dipanggil Bimo oleh warga sekitar.
"Maunya makan disini, tapi kok penuh ya", ucap Pita sambil celingukan mencari tempat duduk.
Pita masuk sendirian sementara Ndaru pamit buang air kecil dulu.
Lelaki berperawakan tinggi besar dan kekar itu berharap Pita tak menolak tawarannya.
"Ehm bentar deh. Aku tanya dulu?", Pita mencoba membuka dompet untuk mengambil ponsel.
"Nggak papa Ta. Aku mau kok", ucap seseorang di belakang Pita.
Orang itu adalah Ndaru, yang tiba-tiba datang dan merangkul pundak Pita. Ia tak suka Bimo temannya itu melihat Pita dengan tatapan berbeda.
Bimo mengerjap tak percaya melihat lelaki dihadapannya itu. Temannya yang beberapa tahun tak Ia jumpai. Ndaru pulang hanya sekali dalam setahun dihari Raya dan hanya di rumah tak kemanapun.
"Ndaru Kan.....", serunya senang.
"Syukur kalo masih inget. Kenalin ini Pita calon istriku", ucap Ndaru yang berhasil membuat Bimo kesulitan menelan ludah.
Sementara Pita hanya diam terpaku. Ia cukup terkejut mendengar pengakuan Ndaru.
__ADS_1
"Jadi dimana tempatnya Bim", ucap Ndaru yang menyadarkan Bimo dari keterkejutan.
"Eh.... ayo Aku antar", jawb Bimo dengan tersenyum kecut.
Saat Ndaru memesan bakso Bimo mulai mengintrogasinya. Ia masih belum percaya gadis incarannya itu mau menikah dengan sahabatnya.
"Serius Ru, Pita calon istrimu", ucap Bimo memastikan.
"Serius. Jadi jangan coba-coba mrndekatinya sekarang. Aku sudah menunggunya janda hampir 3 tahun", jelas Ndaru. Padahal Ia masih takut Pita tetap menolaknya. Ia hanya takut ada saingan yang mencoba mendekati Pita.
Bimo semakin terkejut saat tahu gadis semuda Pita sudah janda.
Pita dan Ndaru menikmati bakso panas itu dengan lahap. Makan sepiring berdua nyatanya tak membuat kenyang.
Ndaru mengantarkan Pita hingga di depan rumahnya.
"Yakinlah Aku yang terakhir dalam hidupmu. Tak akan ku khianati maupun menyia-nyiakanmu jika Kamu bersedia menikah denganku.
Aku memang tak memiliki banyak harta tapi Aku berjanji akan lebih keras lagi dalam bekerja agar bisa membahagiakanmu.
Aku sudah jatuh cinta sejak pertemuan kita yang pertama. Aku bahkan hampir tiap hari makan disana, berharap bertemu lagi denganmu. Ternyata itu hari terakhirmu PKL di dekat warung itu.
Hingga pertemuan kita saat Kamu mendaftar di perusahaan yang sama denganku. Aku sudah yakin Kita di takdirkan bersama.
Aku langsung patah hati saat Kamu menikah dengan Bos kita. Dan Aku berhenti menjadi OB agar bisa move on darimu. Sayangnya sulit, dan di tahun ini Aku mencoba menyerah. Menerima permintaan Ibu yang hendak menjodohkanku dengan seorang perempuan. Aku berharap jika sudah menikah Aku bisa melupakanmu perlahan.
Tapi rupanya takdir kembali mempertemukan kita disaat Aku sudah menyerah. Dan Aku yakin ini memang caranya menyatukan kita.
Tapi, semua kembali padamu. Aku tak kan memaksa, meski Aku berharap Kamu akan menerimaku. Jikapun pada akhirnya Kamu menolak pun Aku akan mencoba ikhlas", ucap Ndaru sebelum pulang.
"Beri Aku waktu Mas. Aku akan pikirkan terlebih dulu", sahut Pita.
Bukan tak bahagia dilamar Ndaru, lelaki yang memang namanya ada dihati Pita. Hanya saja Ia merasa tak pantas untuk Ndaru dengan statusnya kini. Ia juga masih trauma akan pernikahan, Ia takut kembali terluka nantinya. Apalagi Ndaru mendapat bekas orang sepertinya itu.
*****......*****
__ADS_1