Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
73. Merebut Kembali


__ADS_3

Kandungan Lala sudah memasuki bulan ketiga, Ia sudah menyelesaikan studynya dengan waktu lebih cepat, Ia hanya tinggal menunggu hari wisuda saja. Dan kini Ia hanya tidur bermalas-malasan dikamar tanpa melakukan apapun.


Sejak tahu dirinya hamil, Awan langsung memboyong Lala untuk tinggal bersama orangtuanya. Ia akan lebih tenang meninggalkan Lala untuk bekerja saat Lala bersama Bundanya. Bahkan Ia memilih tidur di kamar tamu yang berada di lantai bawah, Ia tak ingin Lala naik turun tangga karena takut Istrinya akan terjatuh saat dirinya tak disamping sang Istri.


Efek ngidam Awan telah usai, dan kini Lala hanya merasa malas. Kesehariannya hanya tidur saja, waktu makan pun harus dibangunkan oleh mertuanya. Ia pusing jika menyentuh dapur, Ia pernah nekat ingin memasak karena sungkan tinggal di rumah mertua dan hanya berpangku tangan. Namun Ia malah jatuh pingsan dan sampai masuk rumah sakit sehingga harus berakhir bedrest.


Sejak saat itu suami serta mertuanya melarangnya melakukan aktivitas apapun. Alhasil selama tinggal di rumah mertua Lala menjadi malas dan rasanya ingin tidur terus.


Tiba-tiba Lala rindu ingin pulang ke rumah orangtuanya sore ini juga, padahal baru kemarin Ia mengunjungi makam orangtuanya. Sedangkan Awan sore ini ada jadwal pemotretan. Ia ingin melarang Lala dan menunda keinginannya sampai saat Ia tak sibuk, namun raut kecewa di wajah Lala membuatnya tak tega.


"Iya deh boleh. Tapi Aku antar ya, kita menginap disana", ucap Awan.


Senyum sumringah nampak di wajah Lala, ternyata suaminya langsung memberinya izin, tak perlu ada drama dulu. Ia begitu rindu orangtuanya dan ingin tidur di kamar orangtuanya.


Tiba di rumah yang kini bertuliskan 'Kost Putri Embun', Awan langsung berangkat tanpa sempat turun.


"Nggak usah naik turun tangga. Puas-puasin aja di lantai atas. Kalo ingin sesuatu ngomong sama Simbok biar diambilin.


Kamu hati-hati ya Yank di rumah, jangan lupa makan, ingat ada anak kita disini", ucap Awan sambil mengusap perut Lala.

__ADS_1


"Iya Kak. Tenang aja simbok selalu standby sama Aku. Aku turun dulu yah", pamit Lala sambil mencium punggung tangan suaminya.


Awan membalas dengan mencium kening Lala kemudian mencium perut Lala yang mulai membuncit tapi masih kecil.


"Anak Ayah baik-baik ya sama Bunda. Jangan rewel, Ayah kerja dulu. Nanti kita menginap di rumah Kakek Nenek", pamit Awan sambil mengusap perut Lala sayang.


Lala pun turun disambut oleh Simbok, melihat Istrinya sudah aman Awan langsung berangkat ke tempatnya bekerja.


Lala langsung menuju kamar orangtuanya setelah sempat bertegur sapa dengan penghuni kost yang tengah berada di rumah.


"Pa... Ma... Lala rindu.....", lirih Lala sambil berurai airmata.


Perlahan Ia mengambil kotak perhiasan Mamanya dan hendak membukanya. Tapi tangan Lala gemetar dan tanpa sengaja terjatuh.


"Astaga....", pekik Lala terkejut.


Perhiasan yang sering Mamanya pakai jatuh berserakan. Namun satu yang menarik perhatian Lala, ada gulungan kertas putih diantara perhiasan yang tercecer. Ia yang penasaran pun mengambilnya.


*Untuk Lala.....

__ADS_1


Mungkin saat Kamu menemukan ini, kami sudah tiada....


Maafkan Kami jika sibuk dengan pekerjaan, bukan tak karena tak sayang padamu tapi Kami mempersiakan semua untuk masa depanmu.


Kamu jangan bersedih saat Kami pergi, Kamu putri Kami satu-satunya. Semua yang Kami miliki adalah milikmu. Dan itu sudah tercatat dalam hukum.


Temui Pak Winarno, Kamu akan tahu semuanya.


Kami menyayangimu.


Papa dan Mama*....


Airmata meleleh di pipi Lala, setelah sekian lama kenapa Ia baru menemukan surat ini. Jerih payah orangtuanya telah diambil paksa oleh Adik Papanya, dan sekarang malah berakhir di tangan orang yang mengkhianatinya.


Jika tekadnya kemarin untuk mengambil kembali perusahaan Papanya mengalami kebuntuan, sekarang justru Ia menemui titik terangnya.


Sebisa mungkin Ia akan merebutnya kembali yang menjadi hak anak cucunya itu. Ia tak akan membiarkan keringat orangtuanya jatuh ke tangan orang lain. Setidaknya dengan cara itu orangtuanya bisa tenang melihat hidup anak cucunya terjamin dengan hasil keringat mereka.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2