
Tok....tok...tok...
"Assalamu alaikum. Nduk ini Ibu. Tolong buka pintunya", ucap Bu Wati tanpa memperdulikan dua pria yang berada di teras.
"Wa alaikum salam. Iya Bu sebentar", sahut Pita.
Ceklek.....
Pintu terbuka, dan Pita tersenyum ramah pada Bu Wati dan seolah-olah terkejut melihat dua pria itu.
"Pita.....", panggil keduanya bersamaan.
"Ayo Bu masuk", ajak Pita dan sengaja mengacuhkan.
"Apa Aku boleh masuk", ucap mereka kembali bersamaan.
Keduanya pun saling pandang, ada tatapan tak suka antara keduanya. Mereka tadi sempat berebut tempat parkir di depan rumah Pita yang memang tak luas. Dan kini harus berebut kembali untuk masuk kedalam rumah.
"Ehm... silahkan masuk", ajak Pita terpaksa.
"Oh......tamu juga toh", ucap Bu Wati sinis.
Entah mengapa melihat dua pria itu membuatnya tak suka. Jika tebakannya benar, kedua orang ini akan menjadi saingan putranya. Meski minggu depan Ndaru akan menikah, tapi Ia harus waspada. Para buaya ini harus dimusnahkan, jangan sampai calon menantunya ini di tikung. Ia tak rela jika putra sulungnya batal menikahi Pita.
"Ayo duduk dulu Bu. Pita buatkan minum dulu ya", pamit Pita.
Sementara kedua orang itu langsung duduk di kursi ruang tamu tanpa diminta si empunya rumah.
"Nduk ini tadi Ibu coba bikin nastar, itu lho resep dari Bu RT waktu pertemuan PKK. Kamu coba sudah enak apa belum. Si Bapak bilangnya enak, tapi kok Ibu nggak yakin sama Bapak", ucap Bu Wati yang hanya dibalas anggukan Pita sambil berlalu ke dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian Pita kembali ke ruang tamu dengan membawa 3 cangkir teh, setoples nastar dari Bu Wati. Dan juga sepiring gorengan yang Ia beli tadi. Ia sedang malas berkutat dengan wajan hari ini. Dan memilih membeli soto dan gorengan.
"Ayo Bu diminum dulu tehnya", ucap Pita pada Bu Wati sambil tersenyum.
"Silahkan diminum tehnya Bapak-bapak", lanjut Pita dengan wajah datar.
"Pita....", panggil kedua lelaki itu dan lagi-lagi secara bersamaan.
"Kalau mau ngomong tuh satu-satu. Sudah seperti paduan suara saja, harus bareng-bareng", ucap Bu Wati.
Baru akan membuka suara, Bu Wati kembali buka suara.
"Nggak usah berebut. Yang tuaan itu dulu yang ngomong", ucap Bu Wati sambil menunjuk lelaki berkemeja biru tua itu.
"Maksudnya Saya Bu?", tanya lelaki yang di tunjuk.
"Ya iyalah Kamu. Nggak nyadar kamu udah tua, ngaca tuh kumis tebel, brewokan rambut acak-acakan, baju berantakan.
Pita hanya tersenyum kecut menatap lelaki yang pernah Ia coba balas perasaannya. Lelaki yang selalu tampil tampan sudah tak terlihat lagi. Jika tak memperhatikan dengan seksama, Pita hampir tak mengenalinya saat mengintipnyq dari jendela tadi.
Sementara lelaki disampingnya tersenyum puas, karena saingannya mendapat perkataan pedas dari seorang Emak-emak.
" Bandingin sama yang duduk di depanmu, rambut klimis, wajah bersih, pakaian rapi yah..... meski nggak ganteng-ganteng amat sih. Cuma ketolong kulitnya yang putih saja", puji Bu Wati sekaligus menjatuhkan diakhirnya.
Senyum yang tadi nampak diwajah lelaki berkemeja hitam itu langsung hilang. Pita hanya tersenyum kikuk, tak menyangka Bu Wati akan bicara blak-blakan seperti itu.
"Ya sudah segeralah berbicara, nggak cuma kamu saja yang mau berbincang dengan Pita",
"Pita, maafkan Aku. Aku tahu kesalahanku sangat fatal.
__ADS_1
Maafkan Aku yang tak menemuimu setelah perceraian kita. Bukan tak ingin tapi keadaan membuatku menjauh.
Setelah kita berpisah, perusahanku mengalami guncangan cukup besar. Aku harus mengembalikan semuanya ke sediakala, hingga lebih dari satu tahun Aku baru bisa menemuimu.
Aku menyesal telah menelantarkanmu, nyatanya harta yang Aku elukan, dalam sekejap saja musnah.
Aku mohon maafkan Aku, beri Aku kesempatan untuk kedua kalinya. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakan Kamu lagi.
Kita mulai lagi dari awal. Pita, Aku masih mencintaimu. Aku ingin kita kembali rujuk", jelas Adi, suami pertama Pita.
"Cukup. Sekarang giliran Kamu, yang gantengnya cuma standart", potong Bu Wati sebelum Adi kembali berucap.
Bahkan Bu Wati tak mengizinkan Pita untuk berbicara, Ia was-was jika calon menantunya akan ternakan omongan orang kota yang Ia duga mantan suami Pita. Bu Wati hanya tahu Pita janda, tapi Ia belum tahu, jika Pita menjanda sampai 2 kali. Ndaru tak bercerita padanya.
Mudah sekali Adi mengajaknya rujuk setelah menorehkan luka cukup dalam dihati Pita. Tak sedikit pun terbersit oleh Pita untuk bersama Adi kembali, melihatnya saja hanya mengingatkannya akan luka, Ia tak mungkin sanggup menjalaninya.
"Pita... Aku minta maaf. Aku salah telah menodai pernikahan kita dengan perjanjian kontrak itu. Harusnya Aku berpikir dulu sebelum membuat keputusan.
Setelah Kamu pergi, Aku baru sadar Aku telah jatuh cinta padamu.
Bisakah kita mulai dari awal lagi, kita beri keluarga yang utuh untuk Gara. Ia membutuhkanmu, Pita Kami butuh Kamu disisi kami", ucap lelaki berkemeja hitam, yang tak lain adalah Aji suami kedua Pita.
Adi melotot tajam pada lelaki di depannya, rupanya Lelaki itu pun mengajak Pita rujuk. Dan Dia menyebut nama Gara, apakah itu anak Pita dan Pria itu. Agak sulit sepertinya untuk kembali pada Pita.
Aji yang dulu seolah menolak kehadiran Gara, kini kenapa tiba-tiba ingin memberi Gara keluarga yang utuh. Dengan alasan jatuh cinta padanya, sungguh alasan apa lagi itu. Benarkah Dia sudah menerima Gara, atau hanya akal-akalan Dia saja meminta Pita untuk kembali mengurus Gara. Bukankah sudah ada Mbak Siti, pengasuh Gara, toh Gara tak lagi menyusu padanya. Jadi bisa saja ini hanya permintaan Bu Titin yang berkaitan dengan harta.
Sementara itu Bu Wati semakin tak tenang, tak hanya satu mantan suami Pita tapi keduanya mantan suami Pita. Dan rupanya barisan para Mantan Pita ini sama-sama hendak mengajak rujuk. Bagaimana jika Pita menerima salah satunya, lantas bagaimana nasib Ndaru jika ditinggalkan Pita. Bisa jadi Ia memilih menjadi bujangan hingga tua.
Bu Wati harus berpikir untuk membuat Pita tetap menikah dengan Ndaru sesuai rencana.
__ADS_1
*****......*****