Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
68. Tamu tak di Undang


__ADS_3

Entah dengan cara apa Bu Wati meyakinkan Pita, yang pasti Pita sudah setuju untuk menikah dengan Ndaru. Dua adik perempuan Ndaru pun sudah bertemu dengan Pita. Dan benar saja, keluarga Ndaru sangat baik padanya, semua menerima Pita tanpa melihat status janda Pita serta kondisinya yang yatim piatu.


Pita merasa keputusannya kali ini tak salah, Ia hanya berharap semoga ini pernikahan terakhir untuk selamanya. Jika pun di masa depan ada masalah Ia akan mempertahankan pernikahannya ini sebisa mungkin. Bukankah selalu ada kerikil disetiap perjalanan rumah tangga.


"Terimakasih ya Bu. Berkat Ibu Aku bisa menemukan kembali cintaku.


Terimakasih mau menerima Pita disaat statusnya tak gadis lagi.


Dan entah cara apa Ibu membuat Pita yakin untuk menikah denganku minggu depan", ucap Ndaru sambil memeluk Ibunya dari belakang yang tengah menggoreng tempe.


"Iya Le. Ibu hanya ingin melihatmu menikah. Ibu bersyukur pilihan Ibu ternyata juga pilihanmu.


Ibu tak memandang seseorang dari status gadis atau tidaknya. Yang penting hatinya baik. Selama mengenalnya, Pita adalah gadis yang rajin dan peduli lingkungan.


Ibu yakin Ia akan jadi istri yang baik untukmu kedepannya", sahut Ibu Wati.


"Ehm....ehm...", seru Bapak Yo.


"Batuk Pak. Sana minum obat", ucap Ndaru cuek masih memeluk Ibunya.

__ADS_1


"Woy...... punya Bapak tuh. Enak bener main peluk-peluk.


Peluk Istri kamu sendiri sana", tegur Pak Yo.


"Ya elah si Bapak. Pinjam bentar juga, nanti juga bisa Bapak kekepin lagi, asal jangan sampai Ndaru punya adik lagi.


Kalau udah punya Istri sendiri juga udah Ndaru peluk-peluk Pak. Sayangnya masih nunggu sahhh.... dulu, baru boleh peluk-pelukan", sahut Ndaru kemudian melepas pelukannya.


"Woalah Bocah sableng. Mosok ya Bapak jadiin to Le. Cucu Bapak aja sudah besar mosok mau punya anak bayi lagi.


Eh..... Bu. Bikin Adik yuk buat Ndaru, biar dia makin pengen cepet kawin", ujar Pak Yo.


"Owalah.... Bapak sama sablengnya yo sama anakmu. Sudah jompo masih mikir bikin adik saja.


Pak Yo memilih pergi ke belakang rumah untuk memberi makan ayam sambil menunggu sarapan matang. Sementara Ndaru memilih kembali ke kamarnya, Ia membuka jendela lebar-lebar. Dari sana Ia bisa melihat ruang tengah rumah Pita yan jendelanya pun terbuka lebar.


Ndaru tersenyum senang, rupanya perempuan kesayangannya itu tengah menyapu lantai di ruangan itu. Mengenakan daster rumahan dengan rambut di ikat cepol, dan entah mengapa melihat penampilan itu membuatnya merasa tengah melihat seorang Istri. Ada rasa bahagia melihat Pita pagi ini dengan penampilan seadanya namun terlihat menarik bagi Ndaru.


*****.......*****

__ADS_1


"Bu, Pita bisa minta tolong nggak. Temani Pita menerima tamu. Ada dua lelaki berkunjung, dan Pita merasa tak nyaman menemuinya seorang diri", pinta Pita melalui sambungan telfon.


Pita sengaja menghubungi Bu Wati, karena ada tamu tak di undang yang tiba-tiba datang ke rumahnya siang ini. Ia bahkan enggan membukakan Pintu untuk kedua orang itu.


"Oh iya.... Ibu kesana sekarang. Kamu masih di dalam kan?", tanya Bu Wati memastikan.


"Iya Bu. Belum tak bukain pintu, cuma Aku intip dari jendela tadi. Nunggu Ibu aja bukanya", sahut Pita.


"Bagus. Tunggu Ibu sebentar ya", ucap Bu Wati.


Pita pun memilih menunggu Bu Wati datang. Sebentar lagi Ia akan menikah, rasanya Ia tak pantas menerima tamu laki-laki di rumahnya, terlebih Ia tinggal sendirian. Ia tak mungkin meminta Ndaru menemani, karena menurut adat di kampung itu tak mengijinkan calon mempelai pengantin bertemu seminggu sebelum hari H hingga hari H tiba, karena di percaya pernikahannya akan batal jika melanggar. Dan Pita serta Ndaru memilih menurutinya saja. Toh mereka masih bisa berhubungan melalui ponsel, di bukit belakang kampung sudah ada towernya. Jadi signalnya bagus, membuatnya nyaman berkomunikasi.


Pita melirik cemas ke arah jendela kamar Ndaru. Ia takut calon suaminya salah paham karena ada lelaki yang mengunjunginya.


Sayangnya Ndaru tak terlihat, rupanya Ndaru sengaja bersembunyi di belakang jendela yang dibuka. Ia mengintip calon Istrinya yang sedari tadi menatap ke arah kamarnya.


Ia sudah mendengar saat Pita menghubungi Ibunya tadi, jika ada dua lelaki yang berkunjung. Ia hanya bisa menduga-duga siapa mereka yang datang. Saudara Pita atau batu sandungannya dalam menuju hari H pernikahan.


Dari jendela ruang tengahnya Pita bisa melihat Bu Wati keluar dari rumahnya sambil membawa kantung kresek. Sepertinya itu alasannya berkunjung siang ini.

__ADS_1


Pita sudah lega sekarang, setidaknya ada Bu Wati yang akan menemaninya bertemu dengan dua orang yang sebenarnya tak ingin Ia temui.


*****......*****


__ADS_2