Menikah Tanpa Hati

Menikah Tanpa Hati
35. Melupakan


__ADS_3

Pulang kuliah Lala benar-benar datang ke rumahnya. Sore itu semua penghuni kost di minta berkumpul di ruang keluarga oleh Lala. Disanalah Lala mulai memperkenalkan Pita pada semua penghuni kost sebagai saudaranya. Pita akan tinggal disana sekaligus menerima pembayaran uang sewa. Bisa di bilang Pita berperan sebagai Ibu kostnya.


Bagi Lala itu lebih memudahkannya daripada harus bolak-balik kesana tiap bulannya mengambil uang sewa. Dan Ia memilih memberikan kepercayaan itu pada Pita, Sahabat rasa saudara yang Ia miliki.


Karena semenjak Ia terserempet mobil, Awan menambah banyak aturan di apartemen sehingga membuatnya tak bisa bepergian bebas. Dengan alasan tak ingin Lala keluyuran tak jelas. Tugasnya hanya kuliah dan tak boleh kemana-mana. Padahal itu karena Awan yang mulai posesif pada Lala. Ada rasa trauma saat Lala jauh darinya, Ia takut hal buruk menimpa Istri tercintanya itu. Lala memilih mengikutinya saja, banyaknya tugas kuliah membuatnya malas berdebat dengan suaminya itu.


Ingin rasanya Lala menginap di rumahnya untuk melepas rindu dengan sahabatnya itu. Namun, Ia teringat suami galaknya itu pasti akan mencak-mencak jika pulang kerja dan Ia belum tiba di rumah. Terpaksa Ia harus menghentikan acaranya berbagi cerita bersama Pita.


"Kamu yakin Ta mau jadi Ibu susu bayi itu?", tanya Lala setelah Pita menceritakan tentang bayi yang kehilangan Ibunya itu.


"Iya La. Aku merasa berhutang budi pada Neneknya yang sudah mengantarkanku ke Rumah sakit, yah.... meski pada akhirnya bayiku tiada.


Tapi..... menyusui bayi itu membuatku merasa berguna La. Ada satu nyawa yang bisa aku selamatkan dengan Asi ku. Kasihan Dia, Ibunya meninggal dan Ayahnya mengabaikannya karena menganggap bayi itu penyebab Istrinya meninggal.

__ADS_1


Egois bukan, bayi tak berdosa itu disalahkan. Kasihan sekali nasib bayi itu La. Ia berhak hidup, dan Aku ingin memberinya kasih sayang. Ia hanya piatu tapi harus merasakan seperti sudah yatim piatu", jelas Pita sedih mengingat Baby Gara yang menangis saat pertama kali Ia melihatnya.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Aku selalu mendukungmu. Jangan ada rahasia lagi di antara kita", pinta Lala.


"Iya La. Ehmmm..... hubungan Kamu sama suami Kamu gimana?", tanya Pita penasaran.


"Masih sama kayak dulu. Nggak ada perubahan Ta. Tak apa jika seumur hidup Aku harus menikah dengannya dengan kondisi seperti ini", ucap Lala.


"Kamu nggak mencoba membuka hati kamu?", tanya Pita pelan takut Lala tersinggung.


Aku udah nggak percaya cinta-cintaan lagi. Cukup sekali Aku jatuh cinta dan akhirnya terluka", tegas Lala.


"Kalian kan tiap hari ketemu apa nggak takut lama-kelamaan bisa tumbuh cinta dengan sendirinya", tanya pita lagi, entah mengapa Ia penasaran sekali. Mungkin jiwa emak-emaknya yang suka gosip mulai muncul.

__ADS_1


"Ha....ha... tenang aja Aku udah mati rasa, hatiku sudah mati Ta. Kegagalan cinta membuatku malas berurusan dengan hati.


Kamu saja yang dulu begitu di cintai, harus berakhir seperti ini apalagi Aku yang harus menikahi pacar orang. Aku jadi berfikir percuma menggunakan hati dalam sebuah hubungan jika pada akhirnya hanya akan menyakiti.


Dan janjiku pada Papa Edi adalah membuat pacar Awan tak bisa menikah dengan Awan. Jadi Aku akan tetap menjadi istrinya, tak akan kubiarkan perempuan itu mengusik pernikahanku. Cukup biarkan saja Awan bermain-main dengannya, tapi tidak untuk menikahinya.


Tak ada yang perlu Aku takutkan meski bertemu dengannya setiap hari. Tenang aja hati Aku udah kebal, dindingnya kokoh tak gampang ambruk.


So... lupakan mantan suami brengsekmu itu. Jangan coba mengingatnya lagi, atau hatimu akan sakit. Lebih baik sepertiku, matikan saja perasaanmu sehingga kamu akan lebih tenang melanjutkan hidup", ucap Lala menasehati.


Pita hanya menganggukkan kepala mengiyakan. Benar kata Lala, buat apa Ia mengenang masa lalu yang hanya akan membuatnya terpuruk. Ia masih diberi kesempatan untuk hidup setelah koma. Artinya masih banyak yang harus Ia lalui kedepannya, jalan hidup Pita mungkin masih sangat panjang untuk Ia jalani.


"Makasih La. Kamu makin dewasa ya setelah menikah. Aku salut padamu. Mungkin benar lebih nyaman jika sudah mati rasa, tak akan mudah baperan dan akhirnya melow-melow", ucap Pita langsung memeluk Lala, tak terasa airmata menetes di pipinya.

__ADS_1


Pita sempat berfikir ingin mengikuti putrinya pergi, tak ada keinginannya untuk tetap hidup. Kini Ia merasa di butuhkan oleh seorang bayi. Ia harus tetap hidup dan sehat. Benar kata Lala Ia harus melupakan perasaannya pada Adi. Ia harus fokus pada Baby Gara sekarang.


*****......*****


__ADS_2