
"Hai bro!", Alex menepuk bahu Azka.
Lalu keduanya bersalaman khas anak lelaki seperti apa ya namanya? Pokoknya kaya gitu lah...
"Makasih Lo udah bantu gue Lex!"
"Sama-sama, dari pada hotel gue runtuh gara-gara Lo narik saham Lo di sini!", kata Alex dengan acuhnya.
"Sialan Lo, ga tulus dong Lo bantuin gue?", Azka memicingkan matanya.
"Ya elah...pak guru baperan amat sih !",ledek Alex.
Alman mengerutkan keningnya. Dia berdiri di belakang Azka.
"Gue udah pensiun dini kali Lex, ga usah ledek gue!"
"Hahaha iya iya...pak guru yang kepincut nikah sama muridnya sendiri!", kata Alex tertawa lebar. Alman sama sekali tidak menyangka jika big bos nya bisa tertawa lebar seperti itu dengan sahabatnya. Selama ia bekerja di hotel ini, Alex merupakan tipikal orang yang mudah emosi dan selalu memasang wajah garang.
"Sialan Lo!", kata Azka kesal."Siniin koper gue! Gue mau balik aja, kangen gue sama bini cantik gue yang masih fresh masih muda masih...."
"Stop!!!! Gue juga otewe nikah Ka. Ngga usah manas-manasin gue! Calon gue juga masih muda kali. Baru mau dua tiga!"
"Subhanallah! Apa cewek itu terpaksa nikah sama Lo?", tanya Azka dengan wajah serius nya.
__ADS_1
"Sumpah mulut Lo, Ka! Ngga inget Lo investor penting...udah gue...euuuugghhh...."
"Awas aja kalo Lo berani!", sanggah Azka.
Alex mendengus kesal sampai dia menyadari jika ada karyawan nya di belakang Azka yang terbengong-bengong melihat tingkah absurb nya bersama Azka.
"Hei, kamu! sini!", perintah Alex. Alman tiba-tiba tremor, gimana ngga? Wajah Alex mendadak ganas.
"Saya ngga mau ya kalo sampe terjadi seperti ini lagi. Untung korbannya temen saya. Kalo orang lain, entah apa yang bakal terjadi sama kamu! Kali ini saya maafin kamu. Tidak lain kali! Kalo ngga inget Azka bilang istri kamu baru melahirkan, sudah saya depak kamu dari sini."
"Maaf...maafkan saya pak Alex", kata Alman dengan suara bergetar.
"Udah Lex, dia tremor tuh denger suara Lo kaya gledek!", nasehat Azka.
"Ngga usah pikir balas Budi ke saya. Buat saya, setelah hari ini kamu bisa jadi pribadi yang jauh lebih baik. Jangan sekali-kali kamu beri anak istri mu dengan uang haram. Ingat itu!"
"Iya pak Azka!", Alman menunduk.
"Dan satu lagi!"
Alman mendongak, sedang Alex mengamati obrolan dia orang pria di hadapannya.
"Anak kamu sudah lahir, sebaiknya kamu hubungi orang tua kalian masing-masing. Bagaimana pun mereka orang tua kalian yang harus kalian hormati. Tidak ada mantan anak, tidak ada mantan orang tua di dunia ini. Semarah apa pun mereka, saya yakin mereka masih sangat menyayangi kalian. Jangan lupa minta maaf pada mereka. Urusan apakah nanti mereka akan memaafkan kalian atau tidak, itu dipikirkan nanti."
__ADS_1
Alex ternganga mendengar ocehan Azka yang panjang lebar.
"Iya pak Azka. Setelah ini saya akan menghubungi keluarga saya dan Dina."
"Bagus!", Azka menepuk bahu Alman.
"Vibes nya kaya bapak lagi nasehatin anak lho Ka!", kata Alex.
Azka menatap tajam pada sahabatnya.
Usai mengobrol banyak, Azka berpamitan pada Alex dan juga Alman.
"Lo yakin ga mau ikut ajuin proposal besok? Proyek besar ini Ka!", bujuk Alex agar Azka tak jadi pulang.
"Gue ga ikut proyek ini pun , duit gue masih bisa buat ngajak anak bini gue keliling Eropa!", kata Azka dengan sombongnya. Alman tertawa mendengar ucapan Azka yang sombong itu. Alman tahu, Azka hanya bercanda.
"Tahu...yang sultan!", celetuk Alex. Azka tersenyum.
"Sekali lagi makasih Lex!"
"Iya, jangan sungkan sama gue bro!
Azka, Alex dan Alman saling bersalaman. Azka memasuki taksi, Alex masuk ke hotel nya sedang Alman menuju pangkalan ojek untuk kembali ke rumah sakit menemui anak dan istrinya.
__ADS_1