
Azka sudah rapi dengan kaos oblong berwarna navy dipadankan dengan jeans belel. Dengan pakaian seperti ini, Azka terlihat lebih muda.
"Sudah siap?", tanya Azka pada Najma.
"Bentar lagi, aku mau beresin cucian piring sebentar. Kamu tunggu saja di toko. Nanti aku kesana kalo ini udah beres."
Azka pun berlalu , menyambar kunci motornya.
Setelah itu,ia berjalan melewati lorong penghubung rumah denga toko.
Dari kejauhan, dia melihat toko lumayan ramai. Weekend begini memang biasanya ramai pengunjung.
"Sisi....!", panggil Azka. Dia memang akrab dengan para karyawan Anisa. Tapi tak dekat dengan Najma, mantan calon anak tiri nya yang sekarang malah jadi istri nya.
"Eh...iya pak Azka. Ada yang bisa dibantu sisi?"
"Tolong siapin tiramisu, sejumlah uang ini."
Azka menyodorkan uang senilai tiga ratus ribu pada sisi.
"Pak Azka beli? Kan sekarang...."
"Sudah, siapkan saja. Jangan banyak omong!"
"Iya pak, sebentar!"
Sisi pun cekatan menyiapkan enam box berisi kue tiramisu. Lalu memasukan ke dalam kantong keresek.
"Banyak juga ya?Tapi nggak apa-apa lah", tanya Azka.
"Itu, mau dibawa kemana mas?", tiba-tiba Najma sudah ada dibelakang Azka.
"Buat anak-anak ntar!", jawab Azka.
"Anak siapa?", tanya Najma.
"Nanti juga tahu! Eh, iya saya mau menukar kunci dulu. Kayanya susah kalau bawa dus dengan motor."
"Oh...udah sana." Azka pun kembali memasuki rumah.
"Ciye...pengantin baru. Keramas nggak?",canda sisi.
"Keramas lah, tiap hari juga keramas."
"Iih...bukan itu Nana!''
"Terus apa?"
"Gimana semalam? Enak?"
"Enak? Apanya?"
"Nggak usah sok lugu gitu deh neng!", bibir Sisi mengerucut.
"Lugu apa sih?"
"Udah belah duren belom maksud kak sisi, Na?"
"Astagfirullah kak sisi!"
"Lagian nggak mudeng banget sih. Ngakunya aja pinter."
"Ngapain juga kaya gitu ditanyai. Pamali!"
"Pamali kalau sama yang belum punya suami, tapi kalau sama yang udah bersuami mah boleh atuh. Kan biar nambah ilmu!"
"Iih...kak sisi, piktor mulu." Aku pun pergi ke teras membawa dus berisi kue, menunggu Azka mengeluarkan mobil.
Tit....tit....suara klakson mobil ku sudah memanggil. Aku pun menghampiri mobil, meletakan box dijok belakang. Aku menutup pintu gerbang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sudah siap?", tanya Azka pada ku.
__ADS_1
"Iya."
Mobil pun meluncur perlahan keluar dari kompek perumahan ku.
Tak ada obrolan apa-apa diantara kami berdua. Kami bingung, mau memulai dari mana. Hingga akhirnya kami sampai di TPU Tertai Indah. Azka membeli bunga sebelum masuk ke area pemakaman. Tak lupa kami mengirimkan doa untuk bunda.
"Anisa, aku sudah menepati janjiku untuk menikah denga putrimu!", Azka berkata seolah Nisa masih ada.
"Bunda, Nana datang sama suami pilihan bunda!"
Azka dan Najma saling berpandangan. Setelah itu mereka kembali ke mobil.
"Setelah ini, kemana mas?", tanyaku sambil memasang sabuk pengaman.
"Ke hotel!", jawab Azka singkat.
"Hah? Hotel? Ngapain?", tanya ku. Penasaran dong, ngapain ke hotel coba.
"Nanti kamu juga tahu!"
"Jangan aneh-aneh lho ya. Inget perjanjian semalam!"
"Dih...apaan sih, ngeres amat sih tuh isi kepala."
"Lagian nggak jawab ke hotel mau ngapain?"
"Itu, nganterin kue buat anak-anak!"
"Anak-anak siapa sih mas?"
"Anak buah kita lah. Emang dipikir saya udah punya anak banyak?",dia melirik ke arahku.
"Anak buah? Kamu punya anak buah mas? "
"Tahu ah, udah ntar juga kamu liat sendiri."
Mobil pun memasuki sebuah bangun megah. Sebuah hotel berlantai dua puluh mungkin. Usai men'Tap' kartu parkir, mobil pun masuk ke parkiran khusus.
Tangan kanan Azka membawa dus kue, tangan kirinya menggenggam tanganku. Ada rasa gimana gitu, malu bercampur deg-degan. Gimana nggak, ada beberapa pasang mata menatap kami.
"Siang pak Azka!", sapa dua sekuriti.
"Siang! Oh iya, ini bagi sama yang lagi pada jaga juga ya!", Azka menurun kan sebuah box tiramisu.
"Wah, terimakasih pak Azka."
Pak sekuriti tampak senang menerima kue itu. Aku pun mengangguk kepada dua orang sekuriti yang sudah agak berumur.
"Iya, saya masuk dulu ya?"
"Siap pak!"
Mas Azka masih saja terus menggandengku.
Berjalan menuju resepsionis.
"Mitha!", panggilnya pada resepsionis.
"Eh, iya pak Azka. Selamat siang!"
"Tolong bagikan sama anak-anak yang lain dan buat kamu juga, kalau kurang kamu informasi kan saja ke saya. Biar nanti saya tambahin!"
"Iya pak Azka, terimakasih!"
Azka pun melanjutkan langkahnya menuju lift.
"Mas, aku bisa kok jalan sendiri. Nggak mungkin kan aku ilang disini?"
Lift pun terbuka. Azka kembali menyeret ku kedalam lift.
"Kamu nurut aja sama suami kenapa sih?",kata Azka dingin. Perasaan tadi pagi dia nggak gini, Kenapa sekarang jadi kaku sih. Iiiih.... jangan-jangan nih orang punya kepribadian ganda. Seketika tubuhku bergidik.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa!"
"Nggak usah mikir macem-macem. Saya cuma mau menjaga wibawa saya di depan anak-anak. Beda lagi kalau kita cuma berdua dirumah."
Ah...dia bisa baca pikiranku? Pintu lift pun terbuka. Dia menggandeng ku lagi menuju ke ruangan yang cukup besar.
"Duduk sini dulu." Dia menjatuhkan ku disofa. Ish...aku kaya anak kecil aja deh.
Azka duduk di kursi yang cukup besar, menekan sebuah angka di pesawat telepon.
"Rania, bawa laporan ke ruangan saya sekarang!"
Azka kembali fokus dengan beberapa lembar kertas di mejanya. Aku bosan melihat adegan Azka yang begitu-begitu saja.
Aku mendekat pada akuarium yang tertanam pada tembok. Ikan kecil warna-warni menghiasi kolam yang cukup mewah menurut ku.
Tok...tok...
Ah, pasti itu Rania yang tadi Azka telepon. Aku nggak mau tahu urusan mereka. Lebih seru liat ikan hias ini.
"Siang pak?"
"Siang, bawa kemari laporan nya Rania!"
Si empunya nama pun mendekat, menyerahkan map itu pada Azka. Mata Rania tertuju pada Najma yang asik melihat ikan di akuarium.
"Itu Najma ya pak Azka? Anaknya almarhum Bu nisa?" tanya Rania.
"Iya", jawab Azka singkat tanpa menoleh pada Rania. Aku yang merasa disebut namanya pun menengok. Melemparkan sedikit senyumanku.
"Selamat siang Dek Najma!", sapa Rania.
Aku? Dipanggil dek? Aku ini istri bosmu mbak Rania! Batinku merasa tak terima dengan panggilan itu. Sedangkan Azka hanya senyam senyum.
"Iya kak Rania."
"Sudah selesai Rania, kami pamit pulang ya! Ayok Najma kita pulang!", Azka kembali menggandeng ku. Aku pun mengangguk kan kepala pada kak Rania. Dia pun sama, mengangguk an kepala nya.
"Habis ini kita kemana mas?"
"Kamu mau kemana?"
"Kemana aja tergantung yang ngajak!"
"Kerumah mama mau?"
"Emm...boleh, tapi nanti mampir dulu ya beli oleh-oleh buat mama."
"Iya", jawab Azka singkat.
"Mas, ini...hotel kamu?"
"Hem...!", gitu aja jawabanya.
"Punya hotel mewah gini, kok mau sih jadi guru?"
"Kenapa sama profesi guru?"
"Ya...nggak kenapa-kenapa sih. Tapi kan kamu punya duit banyak dari sini, kenapa mau gitu capek-capek jadi guru yang gajinya pasti tak seberapa dengan income hotel ini."
"Nggak semua hal diukur pake uang Najma! Saya jadi guru juga karena kesadaran sendiri, kalau ke hotel ini nggak setiap seminggu sekali. Tergantung kebutuhan saja. Misalkan kaya tadi, cuma mau mengecek pekerjaan Rania. Selebihnya ya... sudah. Saya menghabiskan waktu buat kalian, anak-anak didik saya."
"Kok kak rania tahu aku anak bunda? Memangnya bunda suka diajak kesini juga?"
Azka tersenyum kecil.
"Iya, bunda kan suka bikin Snack box kalau ada acara disini. Saya juga kenal sama bunda mu gara-gara pesan Snack box lho."
"Owh....", kenapa ada perasaan aneh di dadaku saat Azka menceritakan tentang bundaku.
__ADS_1