Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Ikut ke hotel


__ADS_3

Pagi menyapa. Kami berempat sudah siap di depan meja makan untuk sarapan bersama.


"Sayang, kamu sudah menentukan kuliah di mana?", tanya papa padaku.


"Eum...belum pa."


Azka melirik padaku. Mungkin dia tahu kegundahan hati ku.


"Mungkin tahun depan aja pa. Nana pengen ikut ospek kaya MaBa yang lain."


Azka tersenyum tipis mendengar jawaban ku. Tapi papa justru mengernyitkan alisnya.


"Memang kenapa sama ospek sekarang dan tahun depan Na?", pertanyaan papa di ajukan lebih dulu oleh mama.


"Eum...Nana kan udah hamil besar begini Ma. Ngga seru kali kalo lagi di gojlog eh... tiba-tiba melahirkan."


Papa dan mama tertawa kompak. Tapi tidak dengan Azka. Dia hanya tersenyum tipis. Azka sudah tahu alasan ku dari awal.


"Sayang....memang apa yang ada di dalam bayangan mu saat ospek?", tanya papa.


"Ya...kaya gitu lah pa. Pakai assesoris aneh-aneh. Di kerjain senior lah...ya gitu pokoknya."


"Hehhehe kalo liat kamu hamil begini, senior mu juga ngga bakal tega kali Na", ujar mama.


"Iya sih Ma. Tapi kan Nana pengen ngerasain masa-masa itu....!", kataku dengan sedikit merajuk.


"Ya udah kalo itu memang keputusan mu. Kami pasti dukung kok!", kata papa usai mengunyah sarapannya.


"Makasih ma, pa."


"Sama mama papa doang? Aku ngga?", tanya azka.


"Aishhh...mantan pak guru ngiri aja sih!", aku mencubit pinggangnya.


"Eh...eh...genit ya! Ada mama papa lho sayang!", kata Azka meledekku.


"Apaan sih mas!", aku justru memukul pelan lengan suamiku.


Kedua orang tua itu turut bahagia melihat keromantisan anak dan menantunya. Siapa sangka, Azka yang dulu keras kepala bisa luluh oleh gadis berusia belasan tahun.


"Rencana hari ini apa Na?", tanya Mama.


"Jangan bilang mama mau ajak Nana arisan lagi?", Azka menaikan salah satu alisnya.


"Suudzon deh! Mama nanya doang kali Ka!", jawab mama ketus.


"Habisnya mama kan kerjaannya paling arisan, ketemu teman-teman sosialita, ke yayasan ya gitu-gitu kan????", sarkas Azka.


Papa yang dari tadi diam hanya tersenyum menanggapi ocehan anak dan istrinya.


"Ya habisnya, mama kan udah di suruh pensiun sama Papa. Ngga boleh bantu ngantor lagi. Dari pada bete, ya udah lah mama bantu ngabisin duit papa aja. Iya kan pa?", Mama meminta persetujuan papa.


"Heum. Iya Ma!", sahut papa singkat.


"Dihhh...suami takut istri tuh!", ledek azka.

__ADS_1


"Mas!", aku mencolek lengan Azka.


"Ya udah sayang, mending ikut mas aja ke hotel. Kalo kamu bete kan bisa ngobrol sama kak Rania."


"Eum...boleh juga sih Mas."


"Kalo mama, boleh ikut ke kantor papa juga kan?", tanya mama sok manja.


"Mama ih...malu sama mantu ma. Inget umur! Biasanya juga langsung datang ke ruangan papa!"


"Heheh iya sih. Tapi sekarang ikut boleh kan? Soalnya nanggung, nanti jam sembilan mama mau ketemu temen-temen mama di kafe deket kantor."


"Apa ku bilang kan Pa!", celetuk Azka merasa menang dan benar atas tebakannya.


"Biarin sih Ka. Usia boleh tua, tapi kan jiwa tetap harus muda dong!"


"Terserah mama deh!"


"Ya udah ma, kita berangkat sekarang?", tanya papa.


"Ayuk! Dadahhh menantu cantiknya Mama!", kata mama mengecup kening ku.


"Iya ma. Hati-hati Ma, Pa!"


"Iya sayang. Assalamualaikum!", pamit mama dan papa.


"Walaikumsalam!", aku dan Azka menjawab bersama-sama.


"Kamu mau ganti baju apa pakai ini saja?", tanya Azka padaku.


"Ganti gamis aja boleh ngga mas?", tanyaku ragu.


"Boleh lah. Yang penting kamu nyaman. Memang kenapa sama baju ini? Perasaan baju nya juga sopan, masih pantas kalo masuk kantor."


"Eummmm....aku keliatan pendek sama gendut banget kalo kaya gini mas!", kataku merajuk.


Azka menghela nafasnya.


"Sayang, dengerin mas ya. Mau kaya apa pun kamu, kamu tetap terlihat cantik kok sayang."


"Tapi kalo pake gamis kayanya ngga terlalu keliatan lebar deh nih perut."


"Oke, ayo kita ganti baju dulu. Mas temenin. Pilih saja yang bikin kamu nyaman!"


Aku pun mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamar kami.


Pilihan ku jatuh pada gamis berbahan Jersey berwarna senada dengan kemeja suamiku. Azka melirik dan tersenyum padaku.


"Ceritanya mau kembaran nih bajunya?"


"Ngga kembar mas, cuma senada."


"Iya itu lah pokoknya. Kalo udah siap, kita berangkat!"


"Ayok!", ajakku.

__ADS_1


"Wait, tas? ponsel?", tanya Azka padaku.


"Aman!", aku mengangkat Sling bag ku. Ya, hanya tas kecil asal muat ponsel, kartu identitas, dan beberapa lembar uang. Toh...aku pergi dengan suamiku, pasti terjamin lah kebutuhan ku.


Kami berdua melesat menuju hotel, sebenarnya aku ingin menengok toko kue ku. Tapi sepertinya Azka belum mengijinkan aku ke sana.


"Sayang? Kenapa?", tanya Azka cemas.


"Mas, nanti sore kita nengok toko yuk? Bukan Nana ngga percaya sama mereka, tapi...biar mereka tahu kalo Nana juga masih tanggung jawab kok sama toko kita."


"Oke! Nanti pulangnya kita mampir, sekalian beli makanan buat anak-anak. Udah di ujung akhir bulan kan? Sekalian nanti bawa pembukuan, kan mau itung gaji anak-anak!"


"Hehehe iya Mas. Makasih ya mas."


Aku memeluk nya dari samping. Azka masih fokus dengan kemudinya. Tapi ia masih menyempatkan mengusap kepala ku.


"Apa pun asal kamu bahagia sayang!"


"Sweet banget sih suami ku...!", kataku riang.


"Suami siapa sih???", ledek Azka.


"Suamiku adalah mantan kekasih ibu tiri ku heheheh....!", candaku.


"Ngga usah ngeledek....??!", kata Azka. Tapi aku justru malah tertawa. Mobil kami berhenti di lampu merah. Saat aku menengok ke mobil sebelahku, aku melihat...


"Mas? Itu...Vicky?", kataku dengan suara bergetar.


"Udah sayang, kamu ngga usah takut. Ada aku disini!", Azka menggenggam tangan ku. Ya, genggaman tangan Azka menguatkan ku.


"Tapi mas... Aurelie...???",aku melihat Aurel duduk di samping Vicky. Dia tampak tertawa bersama-sama tanpa canggung.


"Apa Aurel belum tahu dengan kelakuan Vicky padaku ya mas? Aku takut Vicky menyakiti Aurel."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak Sayang. Udah, kita lanjut ke hotel. Ngga usah memikirkan apa yang bukan jadi urusan mu. Selama kamu di dekat mas, mas akan selalu melindungi kalian."


Azka mengusap perut ku yang sangat buncit ini. Beberapa menit kemudian, mobil kami sudah sampai di loby hotel. Kami berdua turun dari mobil. Seorang securiti mengambil alih mobil kami. Sekarang aku dan Azka berjalan menuju ruang kantor Azka di lantai atas.


Kami berpapasan dengan beberapa karyawan Azka yang ramah. Sesekali mengucapkan selamat pagi dan menegur dengan sopan.


"Mas, gimana kalo aku ambil jurusan perhotelan. Jadi aku bisa magang di hotel mu !"


Azka menautkan kedua alisnya.


"Mas setuju saja. Asal kamu memang menyukai bidang ini."


"Kalo aku magang, kira-kira di terima ngga ya buat jadi karyawan tetap di masa akan datang?", aku mengetuk-ngetuk daguku dengan jari telunjuk ku.


"Ya jelas ngga lah!", kata azka dengan suara meyakinkan.


"Kok ngga sih???", kataku manyun.


"Ngga magang juga udah resmi jadi nyonya bos hotel Bhakti kok!", kata Azka menowel daguku.


"Mas!", pekik ku. Dan kami tak sadar dari tadi jadi perhatian orang-orang.

__ADS_1


__ADS_2