
"Bukanya nanti ma kalo udah tujuh hari?", tanya Azka.
"Kan mama pesan dari sekarang azka! Emang bisa dadakan kaya tahu bulet?"
''Kayak mama pernah makan tahu bulet aja sih?", ledek Azka.
"Heheh iya ya!"
Ya, sultan mana pernah makan kek begituan! Batinku.
"Sayang, kamu mah suka ledek mama gitu deh."
"Heheh ya gimana ga ngeledek Na. Mamanya sok pasang muka ngeselin gitu."
"Apa katamu? Mama ngeselin?", tanya mama makin kesal.
"Maafin Mas Azka ya ma!", kataku mencoba menengahi.
"Tuh, untung istri mu belain kamu. Kalo ngga beuhhh...udah mama bejek-bejek tuh muka sok ganteng itu."
"Emang aku ganteng. Kalo aku ga ganteng, belum tentu Nana langsung Nerima aku jadi suaminya. Iya kan sayang!", Azka menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih? GaJe deh!", kata ku. Tiba-tiba Azki menangis. Mungkin ia merasa lapar lagi.
"Kesiniin Bik!", kataku meminta Bibik menyerahkan Azki pada ku. Azki langsung menggerakkan kepalanya mencari sumber kehidupannya.
"Ehem! ada yang puasa lama nih!", kata mama sambil melirik putranya.
"Mending mama pergi deh! Sana arisan apa temui temen-temen sosialita Mama aja. Dari pada di sini bikin aku emosi Mulu!", kata Azka kesal.
"Dih... ngambek? Ya udah deh. Sayang, mama pulang dulu ya. Suami mu lagi mode galak!", kata mama sambil berbisik di dekat telinga ku.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Ya, azka yang ku kenal dewasa selama ini mendadak seperti anak-anak yang manja.
"Non, bibik ijin pulang dulu ya. Mau ambil baju dulu buat Pak Azka."
"Oh iya, bik. Tapi ngga susah buru-buru. Bibik istirahat dulu di rumah. Nanti kalo butuh bantuan, aku bisa minta tolong sama suster bik!", kata Azka.
__ADS_1
"Ya pak!"
Sekarang aku, Azka dan Baby Az berada di atas brankar.
"Kamu kuat banget mimiknya dek!", kata Azka mengusap pipi Azki.
"Iya, biar cepat besar."
"Sayang...!", kata Azka manja.
"Apa?", tanyaku datar.
"Bener kata mama ya. Aku bakal puasa lama!", katanya sambil mendusel ke sisi kananku. Karena aku menyusui Baby Az di sebelah kiri.
"Ya sabar lah. Dulu aja puluhan tahun puasa bisa-bisa aja!"
"Ya beda lah sayang, kan belum pernah rasain surga dunia."
Aku menjewer kupingnya.
"Ya emang bapaknya Azki."
"Oh, mau di panggil bapak nih ceritanya sama Baby Az?"
"Hahaha ngga? Ayah aja!", sahut Azka cepat.
"Heum? Udah fix nih?", tanyaku lagi.
"Iya lah."
"Owh, ya udah. Ayah bunda gitu ya?"
Azka mengangguk.
"Kamu tetap sayang sama aku kan mas meskipun nanti badan ku melebar?", tanyaku padanya.
Azka mengusap kepala ku, lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Kamu ngga butuh jawaban apa-apa dari mas. Karena sampai kapan pun kamu cintanya mas. Hidup nya mas. Kalian berdua, harta paling berharga yang mas miliki."
Aku jadi terharu mendengar ungkapan cintanya.
"Apa ada wasiat bunda yang belum kamu buka mas?", tanya ku padanya. Azka menatap ku sekilas.
"Ada, tapi untuk saat ini sepertinya mas udah ngga perlu melanjutkan membacanya. Karena mas akan lebih mengenal mu sayang! Dengan cara mas sendiri!"
Aku mengangguk pelan. Azki sudah selesai menyusu. Kepalaku bersandar di dada suamiku. Sedang Azki masih berada di pangkuan ku.
"Kalo capek istirahat dulu sayang. Buat Azki mas yang gendong!"
"Aku pengen kaya gini dulu mas. Dipeluk kamu sambil peluk Azki."
Azka mengusap lenganku. Lalu ia kembali mendaratkan kecupannya di puncak kepalaku.
.
.
Aurel masih bergelung di bawah selimut. Ia terisak pelan. Dibelakang punggungnya, Vicky memeluknya dengan posesif.
"Kamu udah bangun beib?", tanya Vicky.
"Kak!", kata Aurel lirih.
"Kenapa? Kamu ngga usah khawatir, aku akan bertanggung jawab kok sayang. Kamu lupa kedua orang tua kita bersahabat heum?", tanya Vicky.
"Kakak janji gak ninggalin aku?", tanya Aurel membalikkan badannya menghadap Vicky. Dia pun mengangguk.
"Tentu saja! Asal...kamu mau menuruti semua perintah dan keinginan ku!"
"Maksudnya?", Aurel mengernyitkan keningnya.
Vicky mencengkram dagu kekasihnya itu.
"Apa pun yang aku perintahkan padamu, kamu harus menurutinya! Paham!", kata Vicky. Entah kenapa Aurel hanya mengangguk. Mungkin ada rasa takut saat di tinggalkan oleh Vicky.
__ADS_1