
"Halo Rania?", sapa Azka.
"....."
"Oh...tidak bisa di atur ulang ya?"
"...."
"Ok...ok...!"
Azka meletakkan ponselnya di nakas.
"Kenapa Ka?", tanyaku yang masih ada di dalam pelukannya.
"Ada meeting sama klien. Saya pikir bisa di tunda , ternyata nggak bisa."
"Owh..."
"Ya udah, kamu makan dulu ya."
"Nggak laper sayang....", kataku manja.
"Tapi kasian anak kita, masa nggak di kasih makan?"
"Nanti kalau lapar juga makan kok."
"Em...kamu nggak apa-apa saya tinggal ke kantor sebentar?"
"Iya nggak apa-apa."
"Tapi, saya cemas kalau kamu belum makan kaya sekarang."
"Nanti aku makan kok."
"Memangnya kamu buru-buru banget ya?"
"Nggak sih, pertemuan nya jam empat. Apa kamu mau ikut?"
Aku menggeleng pelan.
"Buat apa aku ikut, meeting? Kalau ke rumah papa baru aku ikut!"
Azka mengusap rambutku.
"Urusan sama papa, biar aku yang menyelesaikannya sayang."
"Maksudmu, aku nggak boleh ikut ke sana?"
"Bukan nggak boleh, tapi...udah lah kamu di rumah aja ya."
Akhirnya aku hanya mengangguk pasrah dengan perintah nya.
"Masih jam dua sayang, kamu tidur aja! Aku mau siapkan berkas dulu."
Azka berdiri hendak beranjak dari kasurku lagi. Tapi tangannya kembali ku tarik. Dan membuat Azka kembali duduk di samping ku.
"Kenapa hem?", dia mengusap lembut kepalaku.
"Nggak tahu. Aku pengen Deket sama kamu!"
Azka menowel hidungku.
__ADS_1
"Manja sekali ibu muda ini!"
Aku hanya mendongak. Entah kenapa, setiap aku melihat leher nya, bawaannya pengen cium terus. Ada aroma khas dari nya dibagian itu.
"Ka...?"
"Apa?"
Aku mengusap leher nya lembut.
"Aku mau cium ini!", aku menunjuk lehernya.
"Kalau kamu cium-cium begtu, nanti ceritanya bakal beda lagi sayang."
"Cerita apa? Aku cuma mau cium suamiku, masa nggak boleh?"
Aku mengerucutkan bibirku.
"Boleh sayang boleh....!", katanya pasrah.
Aku pun mulai menelusup ke lehernya. Mencium serta menggigit pelan tiap inci kulitnya. Azka nampak pasrah dengan perlakuan ku. Ya ampun...kenapa aku jadi agresif seperti ini?
Entah berapa lama aku melakukannya, sampai aku tertidur di bahunya.
'Najma, susah payah aku menahannya tahu. Sekarang kamu malah tertidur tanpa dosa begini?', gumam Azka.
Azka pun meletakkan kepala Najma di bantal. Memberikan posisi paling nyaman untuk nya.
Azan ashar berkumandang, Azka bergegas solat ashar setelah itu dia baru berangkat menuju kantornya.
"Sisi....", panggil Azka.
"Saya mau meeting di kantor, Nana baru saja tidur. Kalau dia nyariin saya, kamu bilang ya saya berangkat jam segini."
"Oh, siap pak bos!"
"Nitip Nana ya Si! Saya nggak tahu nanti pulang jam berapa."
"Iya pak."
Azka pun melesat menuju kantor yang tergabung dengan hotel.
Ditengah perjalanan, Rania menelpon kembali.
[Kenapa Ran?]
[Maaf pak, rencana di rubah. Pak Hamish membatalkan meeting nya pak, katanya baru saja anak nya pak Hamish mengalami kecelakaan pak.]
[Owh...okey. ya udah, makasih infonya Ran!]
[Sama-sama pak!]
Batal meeting, lebih baik ke rumah papa saja lah. Batin Azka.
Kini mobilnya pun berbalik arah menuju komplek perumahan papanya di kawasan elit.
Klakson mobil Azka menyapa satpam yang ada di balik gerbang.
"Siap mas Azka!"
Satpam pun membukakan pintu gerbangnya yang tinggi menjulang itu. Mobil Azka sudah terparkir di depan teras rumah nan megah itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum ma...pa...!", Azka mengucapkan salam.
Dia melihat mama papa nya sedang duduk di ruang keluarga.
"Walaikumsalam."
Jawab mama dan papa kompak.
Azka pun mendekati mereka, menyalami satu per satu.
"Kok sendiri, Nana mana?", tanya mama.
"Dirumah ma. Tadinya Azka mau meeting sama klien, tapi di batalin makanya Azka langsung ke sini."
Wajah papa masih datar. Mama bersikap biasa saja, berarti mama belum tahu kejadian di sekolah tadi.
"Pah...!", panggil Azka.
Papa menutup kembali buku bacaannya.
"Keputusan papa sudah bulat!", kata papa pelan tapi tegas.
"Tapi pa...ini nggak adil pa...!", rengek Azka.
"Ada apa sih? Ada yang mama nggak tahu?", tanya mama.
"Tanya saja sama anak semata wayangmu ma!"
"Azka, ada apa ini? Apa yang nggak adil?",mama semakin penasaran.
"Tadi...di sekolah, Nana pingsan ma. Ternyata Nana hamil." Azka menunduk.
"Nana hamil?", mama terkejut.
"Papa memutuskan untuk mengeluarkan Nana dari sekolah Ma."
"Papa?", suara mama sedikit menegang.
"Dari awal kan papa udah bilang, jangan sentuh istri mu yang masih bocah itu. Papa sayang sama Najma Ka, papa nggak benci."
"Kalau papa nggak benci, kenapa papa memutuskan sepihak untuk mengeluarkan Najma dari sekolah pa? Najma nggak salah, aku yang salah."
"Iya. Kesalahannya memang ada sama kamu! Tidak bisa menahan diri, bersabar untuk beberapa bulan ke depan saja."
Mama sedari tadi masih menjadi pendengar perdebatan antara anak dan papanya.
"Pa, Azka laki-laki dewasa. Najma pun sama! Kami melakukan nya ikhlas, dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Kami juga sudah sah di mata agama di mata hukum."
"Iya, papa tahu tapi kamu sendiri tahu kalau sebentar lagi Najma ujian? Memang nya kamu nggak bisa pakai alat pencegah kehamilan atau sejenisnya?"
"Pah....?", Azka masih merengek bak anak kecil.
"Udah debatnya?", tanya mama. Dua laki-laki dewasa itu saling berpandangan.
"Besok mama ke yayasan, kami akan musyawarah bagaimana yang terbaik buat Najma."
"Mah, tapi papa....", ucapan papa terpotong.
"Udah, papa nurut aja sama mama!", mama pun melenggang pergi dari ruang keluarga.
Terimakasih Mama, gumam Azka.
__ADS_1