Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Cerita Mama mertua


__ADS_3

Hari berlalu, tiba saatnya acara akikah yang di adakan di rumah ku. Tapi ...mama yang menyiapkan segalanya, eettts....tapi tentu saja menggunakan uang suamiku. Karena yang berkewajiban adalah orang tuanya. Ya kan? Lakukan jika mampu! Tidak perlu memaksakan diri jika memang belum bisa. Tapi berhubung suamiku orang yang lebih dari sekedar mampu, pasti akan melakukannya.


Acara akikah berjalan dengan lancar. Selain mengundang tentang dan kerabat dekat, kami juga mengundang anak yatim serta memberi santunan kepada anak-anak tersebut. Semoga doa dari mereka semua bisa diijabah oleh yang kuasa.


"Capek ya Na? Istirahat deh! Biar Azki sama mama."


Aku mengangguk tipis.


"Ngga apa-apa mah. Mama juga capek kok."


Mama mertuaku duduk di samping ku sambil menggendong Azki.


"Mama inget banget saat kelahiran Azka dulu. Huffft!", mama tampak mendesah.


"Kenapa mah?"


"Dulu ... kehidupan kami belum seperti sekarang. Papa mu memang lahir dari keluarga yang berada. Tapi mama hanya kalangan menengah kebawah."


Aku mendengar cerita masa lalu mama.


"Saat Azka lahir, kami ngga punya uang buat acara akikah seperti Azki. Bahkan lahirannya pun cuma di bidan dekat rumah kontrakan kami."


Benarkah??? Ku pikir mereka sultan dari dulu.


"Mama pernah ngerasain ngontrak?", tanyaku. Beliau mengangguk sambil mengusap kepala Azki.


"Iya, Azka kecil pernah main di selokan sama anak-anak komplek kok hehehe."


Aku turut tersenyum tipis.


"Nenek dan kakek Azka ngga merestui hubungan mama dan papa. Karena mama bukan dari kalangan atas seperti mereka. Tapi...ya...mungkin kami tidak pantas di tiru nak. Papa mu lebih memilih mama dari pada keluarganya. Kami sempat pernah berada di titik terendah kami. Siapa lah mama yang cuma lulusan SMP di bandingkan papa yang saat itu lulusan universitas ternama."


"Tapi...papamu yang gigih dan tak pernah patah semangat, dia perlahan mendirikan Bhakti Group sampai sebesar sekarang."


Aku masih menyimak cerita mama mertua ku itu sambil menyandarkan punggungku ke headboard ranjang.


"Kamu tahu alasan papa mendirikan yayasan Bhakti?", tanya mama padaku. Aku menggeleng. Ya, memang aku tidak tahu kok.


"Papa mendirikan yayasan pendidikan Bhakti didedikasikan buat mama. Mama yang tidak pernah merasakan jadi anak SMA kaya kamu."


Mama menowel hidung ku yang tidak mancung dan tidak pesek juga.


"Mama beruntung banget ya ...papa sangat mencintai mama."


Aku memeluk mama mertuaku.

__ADS_1


"Iya Na."


"Namanya berumah tangga, tak lepas dengan yang namanya ujian. Mungkin benar, di awal menikah ujian berupa ekonomi yang belum stabil seperti yang mama rasakan. Tapi...ada juga ujian yang lain."


Mama mengusap kepala ku dengan kasih sayang.


"Seorang istri di uji saat suami tak memiliki apa-apa, tapi suami di uji saat ia memiliki segalanya."


Aku sering mendengar kalimat itu? Dan sedikit banyak aku tahu maksudnya.


"Maksud mama? Jangan bilang papa pernah selingkuh?", tanya ku sambil mengernyitkan alis. Tapi mama menanggapinya dengan tersenyum.


"Ya, pernah! Papa pernah salah jalan. Tapi... akhirnya dia tahu jalan pulang. Dimana ia harus pulang!"


Nah, di sini. Aku belum paham.


"Bukannya papa bucin sama mama, kok bisa selingkuh?"


"Ada saatnya kita salah melangkah Na."


Aku tak percaya jika papa mertua ku bisa begitu.


"Papa pernah selingkuh dengan sekretarisnya dulu. Tapi dulu sekali. Saat azka masih kecil."


Hening, aku masih diam ingin melanjutkan cerita mertuaku.


Ya Allah, benarkah papa seperti itu???


"Apa papa tidak membuat pembelaan ?", tanyaku. Mama menggeleng.


"Tidak ada yang pengen mama dengar saat itu Na. Mama dan Azka langsung keluar dari ruangan papa. Naas, saat kami menuju ke rumah...mama dan Azka mengalami kecelakaan."


"Azka sempat kritis beberapa hari, sedangkan mama...mama harus kehilangan calon adik Azka yang mama sendiri tidak tahu jika dia hadir di perut mama. Lebih parahnya, setelah kecelakaan itu mama harus kehilangan rahim mama."


Aku menakupkan kedua tanganku di mulut. Mama pernah melewati masa sulit itu.


"Penyesalan terbesar papa adalah saat tahu mama kehilangan rahim dan adik Azka. Sejak saat itu, papa berusaha memperbaiki semuanya."


"Mama memanfaatkan perselingkuhan papa?"


"Iya, kesannya memang bodoh. Tapi...kami menyadari jika kami saling mencintai. Mama yang terlalu sibuk mengurus Azka, sedang papa juga sebenarnya butuh perhatian yang sudah jarang mama berikan. Kami berdua, mencoba memperbaiki semuanya. Kami fokus pada masa depan Azka."


Sungguh, aku tidak menyangka jika kehidupan mertuaku drama sekali.


"Mama cuma mau bilang sama kamu. Sesibuk apapun kamu sama Azki, tolong tetap perhatikan Azka. Mungkin dia tak terpikirkan buat melirik perempuan lain Na. Tapi dia juga butuh perhatian kamu. Kamu paham kan maksud mama?"

__ADS_1


Aku mengangguk paham. Iya, aku pasti akan menjaga Azka baik-baik. Pelakor di luar sana sudah lebih dari sekedar meresahkan.


"Pada ngobrol apa sih serius amat?", tanya Azka pada kami.


"Urusan perempuan!", celetuk mama.


"Ya udah Na. Kamu istirahat mumpung Azki bobo", kata mama.


"Iya Ma!", sahut ku. Mama pun keluar dari kamar kami.


Azka duduk di samping ku. Ia mengusap kepala putranya yang masih terpejam.


"Tidur Na, kamu pasti capek!", kata Azka padaku.


"Mas...!"


"Heum?", azka menatap ku.


"Kamu mau janji sama aku?"


"Janji apa sayang?", Azka merubah posisi duduknya menghadapku.


"Janji untuk tidak mengkhianati aku?", kataku. Azka malah tersenyum sambil mengusap pipiku.


"Kalo aku punya bidadari di surga ku seperti kamu, buat apa aku cari yang lain di luar sana?"


"Gombal!"


"Kok gombal sih? Ya ngga dong sayang. Mas udah punya kamu yang sempurna di mata mas. Kamu cantik, baik, seksi, masih muda lagi. Emang kamu pikir mas akan dapet kaya kamu di mana lagi coba?"


"Ishhhh...gombalnya parah!", aku mencubit pipinya gemas.


"Udah, kamu istirahat! Ngga usah mikirin yang jelek-jelek. Mas bukan papa!", kata Azka.


Itu artinya mas Azka mendengar obrolan ku dengan mama.


"Jangan memikirkan yang negatif. Ibu menyusui harus selalu happy biar asinya lancar! Kalo ayahnya untuk sementara libur dulu, utamakan buat Azki. heheh...!"


"Mas mesum deh ah!", kataku manyun.


Azka mengusap kepala ku lalu mengecupnya.


"Tidur ya?! Mas di sini, jagain Azki. Nanti kalo azki bangun minta mimik, mas bangunin kamu."


"Iya mas."

__ADS_1


Aku pun merebahkan diri di ranjang. Tanganku terulur mengusap kepala putraku. Semoga kamu tak merasakan apa yang pernah ayahmu rasakan ya Nak. Kami semua menyayangi mu.


Azka masih memandangi harta berharganya yang ada di depan matanya itu. Ia berharap, kehidupan rumah tangganya akan selalu bahagia dan harmonis seperti ini.


__ADS_2