
Azka memarkirkan kendaraan nya di depan toko. Tanpa banyak bertanya kepada karyawannya, Azka langsung menuju rumah induk.
"Assalamualaikum!", Azka memberi salam kepada istrinya yang sedang duduk di apit bibik dan Arin.
"Walaikumsalam."
Aku mendongak ke arah suamiku. Arin dan bibik menyebabkan menyingkir dari sampingku bersama-sama.
"Sayang, kamu ngga apa-apa kan?", Azka menakupkan kedua tangannya di pipiku.
"Aku takut mas!", suaraku bergetar saat mengucapkan hal itu.
"Maaf!", Azka menenggelamkan kepala ku di dadanya.
"Maaf pak, saya lalai tidak bisa menjaga non Nana!", bibik menangis tersedu-sedu.
"Sudah bik, yang penting Nana ngga apa-apa."
Azka bersikap tenang. Toh ini memang bukan murni kesalahan bibik.
"Makasih Arin, kamu boleh ke toko lagi!", ucap azka kepada Arin.
"Baik pak! Oh ya ,nanti saya bawakan pesanan non Nana yang tadi belum sempat di makan."
"Makasih teh Arin!", kataku pelan. Arin pin meninggalkan ruang tamu ku.
"Sayang!", Azka memelukku dengan erat.
"Aku cuma takut kalo Vicky kaya kemarin mas."
"Ngga akan lagi Na. Setelah ini dia akan benar-benar mendekam di penjara."
"Aku mau sama kamu terus mas!"
"Iya, mas akan menemanimu terus na."
"Kalo begitu, bibik permisi ke depan ya pak, non!"
"Iya bik!", ujar Azka.
Sekarang hanya ada kami berdua di ruang tamu.
"Mas telpon papa dulu ya?"
Aku mengangguk. Azka pun mengeluarkan ponsel dari sakunya.
[Assalamualaikum pa]
[Walaikumsalam. kenapa Ka?]
[Pa, Vicky mendatangi Nana di rumah secara terang-terangan. Dia ngga ada takut-takut nya sama sekali pa.]
__ADS_1
[Anak itu....! Begini saja, ajak Nana tinggal di rumah papa. Papa akan memperketat penjagaan di rumah kita. Kalo di situ, papa ngga bisa kontrol Ka. Bagaimana pegawai Nana jika toko di tutup? Jadi biarkan toko itu buka, tapi Nana di rumah kita!]
[Ada bagusnya juga ide papa. Nanti Azka coba bicarakan dengan Nana dan bibik ya pa.]
[Iya]
[Ya udah pa, makasih. Papa selalu bisa membantu Azka selama di butuhkan]
[Sama-sama Ka]
[Assalamualaikum Pa]
[Walaikumsalam]
Azka duduk di samping ku.
"Permisi pak, non. Ini makanan yang tadi di pesan non Nana!", Arin menyerahkan makanan itu di hadapan ku.
"Makasih teh Arin!", ujarku.
Arin hanya mengangguk.
"Arin?", panggil azka.
"Iya pak?", sahut Arin.
"Duduk dulu sebentar."
Arin pun menuruti bos nya, lalu duduk di sofa depan azka.
"Baik pak!",kata Arin.
"Ya udah, kamu ke depan lagi deh Rin. Sekali lagi terima kasih!", ujar Azka. Arin mengundurkan diri dari hadapan kami.
"Mas suapin mau?", tanya Azka padaku.
"Ngga usah mas, cuma kue kok. Aku bisa makan sendiri!"
Azka merapatkan duduknya di samping ku.
"Habiskan, setelah itu istirahat di kamar!", Azka mengusap kepala ku pelan. Anggukan sebuah jawabku untuk mengiyakan.
Setelah beberapa menit, aku pun selesai memakan makanan ku tadi.
"Kamu ke kamar duluan Na, biar mas yang beresin ini ke dapur."
"Makasih mas!", aku pun beranjak ke kamarku.
Usai masuk ke kamar, aku merebahkan diri di kasurku.Selang berapa lama, Azka menyusul ku. Membuka kemeja nya dan mengganti celanan panjang nya. Setelah itu, ia duduk bersandar ke dinding berseberangan dengan ku.
Aku menatap nya sekilas. Azka meraih ku dalam pelukannya. Aroma tubuhnya selalu membuat ku tenang.
__ADS_1
"Sayang...!", Azka mengusap bahuku.
"Heum?", aku menyahut dengan kata ambigu itu.
"Kira-kira kamu setuju ngga kalo kita pindah ke rumah papa dulu sampai situasi aman?"
"Tinggal di rumah papa?", tanyaku. Azka mengangguk.
"Di sana lebih aman Na. Papa juga bisa memberi penjagaan ketat buat kamu. Di sini juga bisa sih kalo mau kasih bodyguard, tapi takut pengunjung toko ga nyaman."
Aku diam mendengarkan ucapan suamiku.
"Mau nutup toko, kasian anak-anak. Kalo ngga buka, mereka ngga kerja dong!", lanjut Azka.
Aku masih terdiam. Bukannya waktu awal menikah, tinggal di sini adalah salah satu perjanjian pra nikah?
"Mas bisa aja ajak kamu ke apartemen kita. Tapi mas ngga mau kamu sendiri di sana Na. Kalo di rumah kan ada mama."
"Tapi...kamu kan udah janji setelah kita menikah, kita akan terus tinggal di sini!"
Azka tersenyum tipis. Lalu mengecup puncak kepalaku.
"Mas inget kok, ini sementara sayang! Sampai situasi benar-benar aman. Mau ya?", Azka menatap mataku.
Akhirnya aku pun mengangguk pelan. Mendengar jawaban dari ku, Azka tersenyum.
"Makasih sayang, udah mau dengar pendapat ku!", ujar Azka.
"Selama itu buat kebaikan kita, tentu saja aku menurut padamu mas!"
"Alhamdulillah, kalo gitu...mas pengen tengok dedek utun ,boleh kan?"
"ishhh... bisa-bisa nya kamu mas mikir begitu di situasi kaya gini."
"Hei...itu justru bikin kamu relaks dan tenang tahu", rayu Azka.
"Mana ada begitu!", aku mencebikkan bibirku.
"Ngga percaya, ayo mas buktikan!"
"Ngga ah mas, aku capek. Mau bobok, tapi di peluk sama kamu!"
Ku dengar Azka mendesah pelan.
"Ya udah...oke...mas peluk, tapi nanti malam boleh ya?", rayu Azka lagi. Aku mengangguk dalam pelukannya.
Siang ini kami tidur siang dengan saling berpelukan.
****
Mampir ke tulisan receh ku yang lain ya gaes
__ADS_1
hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏