Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Insiden


__ADS_3

Sebuah mobil sport berhenti di halaman rumah kosong ini. Aku melihat ia berjalan ke arah kami saat turun dari mobil.


Dari gesture tubuh nya, aku seperti mengenal sosok itu. Tapi siapa?


"Hai sayang? Apa kabar?", tanya nya sambil memaksa ku membuka masker.


"Yang sopan ya!", bentakku. Kondisi ku saat ini dalam posisi terikat. Meskipun tak terlalu kencang, nyatanya aku tak bisa membukanya.


"Sssst...sayang....!", katanya pelan sambil mengusap pipiku.


"Jangan pegang-pegang!"


"Kenapa?"


"Siapa kamu , apa mau mu?"


"Kamu lupa sama aku?", tanya nya sambil membuka masker nya.


"Kamu??? Kamu mau apa Vicky?"


"Owh... sayang ku....aku mau kamu lah sayang....!", kata nya sambil berjongkok di hadapan ku.


"Ngga lucu Vick. Bercanda mu ngga lucu!"


"Siapa yang bercanda sayang? "


"Lepasin Vick, aku mau pulang."


Vicky masih jongkok di hadapan ku sambil menepuk pelan pipiku.


"Sayang... harusnya kamu tuh nikah sama aku! Bukan sama guru tua itu!", Vicky mencengkram daguku.


"Tolong terima kenyataannya Vicky!"


"Hahaha terima? Bagaimana aku bisa terima Na? Dari dulu aku ngejar-ngejar kamu. Kamu selalu menolak ku kan? Bunda mu yang menjadi alasan utama untuk menolakku. Tapi apa??? Kamu malah tiba-tiba udah nikah sama pria tua itu!"


"Vicky, kenapa kamu nekat begini?"


"Karena aku ingin memiliki mu sayang!", kata nya pelan.


"kamu Jangan aneh-aneh Vick. Kamu ngga liat, aku sedang hamil !"


"Memang kenapa kalo kamu sedang hamil?"


"Vick, tolong jangan bertindak melebihi batasan mu. Aku yakin, mereka semua teman-teman kamu kan? Aku tahu, mereka bukan penjahat bayaran. Jangan melibatkan orang lain Vicky!"


"Owh... baiklah, kamu mau kita hanya berdua heum?", Vicky mengusap bibirku. Aku berusaha untuk mengelak.

__ADS_1


"Pergi lah kalian semua. Ingat, ini rahasia kita. Lo semua jangan ada yang coba-coba khianatin gue!", ancam Vicky.


"Oke! Kita pergi?!"


Keenam teman Vicky pun meninggalkan kami. Hanya tersisa aku dan Vicky di rumah ini.


"Kamu mau apa Vick!", tanya ku saat Vicky berdiri di belakang ku.


"Kamu tanya aku mau apa heum? Aku mau kamu sayang!", kata Vicky sambil mengecup puncak kepalaku.


"Vicky?! Aku istri orang Vick. Sadar!"


"Persetan Na! Gue ngga peduli!", Vicky menarik pasmina instan ku.


"Aaaah... Vicky!", teriakku. Andai aku tak berada di posisi terikat aku pasti akan berusaha melawan semampuku.


"Kamu cantik banget ngga pake hijab ya Na!", Vicky memandang ku penuh na*au.


Aku yang awalnya merasa santai dengan teman-teman Vicky, kali ini nyaliku mendadak menciut.


"Vicky! Gue mohon, lepasin gue!", aku harus memohon seperti ini.


"Apa? ya ngga mungkinlah sayang, kapan lagi aku bisa berduaan sama kamu, menyentuh kamu!", dia mencolek daguku.


"Maafin gue Vick, kalo selama ini gue udah nyakitin Lo. Tapi tolong ngertiin, sekarang gue udah bersuami!"


"Yang udah Lo lakuin seperti ini tuh salah Vick!"


"Apa peduli gue? Bisnis bokap gue? Laki Lo yang sok tajir itu mau mutusin hubungan kerja sama dengan perusahaan bokap gue? Gue ga peduli!"


"Vik! Ini salah!", kataku keras.


Tapi Vicky meraih rambut ku dan sedikit menjambak nya.


"Ah...!", pekikku.


"Maaf, sakit ya?", tanya nya. Dan secepat kilat ia menyambar bibirku. Aku berusaha melawan semampuku. Ikatan tanganku sungguh membatasi pergerakan ku. Vicky Melu*at membabi-buta. Aku hanya bisa menangis dengan apa yang sudah ia lakukan barusan.


Aku merasa seperti pengkhianat. Mengkhianati suamiku! Ku pejamkan mataku yang sudah entah berapa banyak mengeluarkan air mata. Vicky seolah tak puas hanya sekedar Melu*at, tapi juga menarik lid*hku. Sungguh, aku aku merasa jijik dengan diri ku sendiri.


Setelah beberapa saat Vicky melepaskan pagutan kasarnya itu. Mungkin dia merasa puas.


Aku hanya mampu menumpahkan air mataku.


"Bibir mu manis sayang...kenapa ngga gue lakuin ini dari dulu sebelum ibu tiri Lo nikahin Lo sama pria tua itu hah!!!", lagi-lagi Vicky mencengkram daguku.


Aku menangis, bahuku terguncang hebat.

__ADS_1


"Sssttt....jangan menangis sayang....gue ngga suka cewek yang gue cinta selama ini nangis begini!", Vicky menghapus air mataku.


"Kenapa ngga bicara heum??? Apa ciu*nku begitu membekas?", ia mengusap bibir ku lagi.


"Em...bagaimana kalau kita juga 'bermain' sayang???", Vicky menyeringai licik. Aku membeliakkan mataku.


"Seperti 'main' sama wanita hamil bukan ide yang buruk!"


Aku menggeleng kan kepalaku.


"Vicky, please jangan macam-macam Vick!", teriakku.


Vicky mulai melepaskan kaos yang dipakaikan nya. Hanya tersisa celana panjang di tubuhnya.


"Jangan takut sayang??? Ngga usah cemas, gue lebih muda dari suami mu.Gue pasti lebih per**sa di bandingkan pria tua itu!", Vicky tersenyum mesum.


"Vicky tolong jangan seperti ini....!", aku tak bisa bertindak apa-apa.


Ya Allah, tolong aku. Mas Azka, kamu di mana mas? Bantu aku mas!!!! Pekikku dalam hati.


Vicky kembali ******* bibirku. Kali ini bahkan tangan nya sudah mulai menjelajahi bagian atas tubuhku. Menyesap leherku dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.Aku yang dalam kondisi terikat di kursi tak bisa melawannya. Hanya bisa menangisi kebodohan ku.


Maafin aku Azka! Aku tak bisa menjaga martabat ku sebagai seorang istri!


Tiba-tiba saja pintu di dobrak dari luar. Vicky yang duduk di pangkuan ku langsung menengok.


Dengan membabi buta seseorang menghajar Vicky habis-habisan.


"Ka...Azka!", kataku lirih sambil terus menangis.


Azka menghajar Vicky hingga babak belur. Ternyata Azka tak datang sendiri. Dia ditemani beberapa orang dan juga polisi, serta sopir taksi tadi....


"sayang....!", Azka menghambur ke pelukan ku. Ia melepaskan ikatan tangan dan kakiku.


Usai tali itu terlepas dari tubuh ku, aku memeluknya erat.


"Aku takut Ka..aku takut!", kataku tergugu.


"Ada aku sayang!", tenanglah! Ia mengusap kepalaku. Lalu meraih pasmina ku yang teronggok di lantai.


"Aku menjijikan Ka...aku menjijikan!",kataku tergugu.


"Tenang sayang...jangan bicara seperti itu!", Azka semakin erat memelukku. Dan setelah itu aku tak sadarkan diri.


"Sayang ...bangun sayang!", Azka menepuk pipi istrinya.


"Pak, hukum dia seberat-beratnya pak?!", pekik Azka kepada polisi yang sudah memborgol Vicky.

__ADS_1


"Sayang, tolong bangun!", Azka menciumi istri nya. Dengan buru-buru ia membopong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit. Azka tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.


__ADS_2