Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Ayam bakar madu


__ADS_3

"Eh, mama ke toilet dulu ya Na!", pamit mama.


"Iya ma!"


Sambil menunggu mama dan Azka, seperti biasa. Aku akan melihat-lihat ikan hias Azka yang ada di akuarium dinding.


Tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya dari perutku. Siapa lagi kalau bukan suamiku?


"Azka!", aku sempat tersentak.


"Serius banget liatin ikannya? Mau bikin di rumah?"


"Bikin di rumah? Mau.....! Eh, tapi kan udah punya ikan di kolam."


"Kalau kamu mau bikin kaya gini juga nggak apa-apa kan?"


"Mau...mau!"


Azka gemas sekali mendengar jawaban ku. Dia menghujaniku dengan ciuman di bahu dan pipiku.


"Ehemmm!", suara mama memberi kode.


"Mama? Mama di sini?", Azka melepaskan pelukannya. Bagaimana pun dia pasti malu pada mamanya.


"Tau...yang punya istri ABG, cantik pula!", sindir mama.


"Ish...mama! Sejak kapan mama di sini?"


"Sejak dua jam yang lalu!"


"Beneran?", Azka menatap ku. Aku pun cengar-cengir.


"Pantes aja istri kecilmu ini Tek dung, pasti di rumah sering....!"


"Mama....!", aku membungkam mulut mama dengan rengekan manjaku.


"Iya...iya sayang!", kata mama melembut.


"Sama Najma lembut begitu, sama anak kandungnya aja...!"


"Heh, ini istri kamu kan anak perempuan mama juga. Malah lebih pantes jadi cucu mama!"


"Mama ih....!", kata Azka besungut.


Aku hanya menggeleng kan kepalaku melihat kedekatan dua orang ini.


"Gimana hasilnya ma?", tanya Azka tiba-tiba.


"Ya... seperti yang di awal terjadi gimana? Najma di Do. Dan kamu di berhentikan mengajar lagi di sekolah!"


"Astagfirullah. Ya sudah ma, mau gimana lagi. Tapi, yang penting Azka masih bisa memenuhi kebutuhan istri dan anak Azka meskipun tidak lagi jadi pengajar di sana!", sahut Azka lesu.


"Emang gajimu jadi guru di sana berapa? Sepuluh persen dari pendapatan mu disini juga gak sampe!"


"Iya sih ma, tapi kan....!"


"Udah deh Ka. Seneng bener debat sama mama!"


"Iya deh. Aku diam,oke sayang aku diam. Kalau aku di berhentikan, terus...nasib Najma gimana ma?"


"Nana emang nggak boleh masuk sekolah lagi, tentu saja para wali murid dan komite sekolah tidak mau ada kejadiannya seperti ini terulang lagi. Apalagi dengan dalih sudah menikah duluan seperti kalian. Tapi, Nana masih bisa ikut ujian, sebagai alumni SMA Bhakti!"


"Beneran ma? Alhamdulillah! Makasih ya ma!", Azka memeluk erat mamanya.


"Azka, ih...inget. kamu sudah tua. Berhentilah bertindak manja!"


"Dia emang manja banget Ma!"


"Nggak kebalik tuh?", Azka menyindir ku.


"Aku wajar dong manja, aku kan masih muda. Lagian wajar juga manja sama suami dan mama ku sendiri. Iya kan ma?"


"Betul itu!", sahut mama cepat.


"Kalian emang, kaum hawa ya nggak pernah mau kalah."


"Iya dong!", jawab aku dan mama kompak.


"Ya udah, mama pulang ya?!"


"Sekarang banget ma?", tanyaku.


"Mama ada arisan sama teman-teman mama!"


"Owh, ya udah Azka anterin aja!"


"Nggak, supir mama udah garing nungguin di depan. Mama pulang ya sayang!"

__ADS_1


Mama memeluk dan mengecup keningku.


"Iya ma, hati-hati!", jawabku.


"Kamu juga harus hati-hati Na. Apalagi suamimu yang napsuan ini. Nggak liat ada di mana!"


"Mama ih....!", Azka manyun.


"Oh iya, berhubung kamu lagi hamil muda, kamu jangan sering-sering nengokin calon anakmu. Bahaya!", seru mama.


"Mama....!", rengek Azka lagi.


"Ya udah, mama pulang. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Usai mama keluar dari ruangan kami, Azka kembali memeluk ku.


"Azka ih...!"


"Biarin, meluk istri sendiri masa nggak boleh?"


"Tapi ini masih di kantor!"


Azka membalikkan badannya, lalu berjalan ke arah pintu mengunci pintu ruangan nya.


"Kok di kunci sih Ka?"


"Biar nggak ada yang ganggu??!!"


"Emang mau ngapain?"


"Mau ini!"


Tiba-tiba Azka meraih pinggang ku lalu menekan tengkuk ku , ******* habis bibirku yang selalu ia ingin kan.


Perlahan Azka menyeret ku duduk di sofa tanpa melepaskan ciuman kami. Akhirnya aku terduduk di pangkuan suamiku ,sambil berusaha melepaskan ciumannya aku mencoba mendorong dadanya.


Aku terengah-engah beberapa saat.


"Kenapa sih sayang? Aku masih mau!", rengek Azka hendak mencium lagi.


"Jangan diterusin Ka!"


"Kenapa?"


"Terus kenapa emangnya? Nggak bakal ada yang gerebek juga, kita suami istri."


"Dibilangin. Ntar kalau kelepasan gimana Ka!"


"Ya biarin, ada kamar ini. Tinggal pilih yang mana aja juga bisa!"


Sombong amat sih mentang-mentang yang punya hotel.


"Ka...aku laper!", berusaha untuk menghindar.


"Yakin? Bukan karena lagi hindari aku kan?"


"Enggak, beneran aku lapar sayang. Kamu nggak kasian sama anak mu nih, kelaperan?"


"Tapi aku juga masih laper sama ini, sebentar lagi ya!", Azka mengusap pelan bibirku.


"Maaf ya Nak, papa cuma sebentar kok. Janji!", Azka mengusap perut ku. Aku cuma bisa membatin dengan kelakuan suamiku ini. Dia bisa menjadi sosok yang cool di depan orang lain, tapi tidak didepan ku.


Tanpa aba-aba , dia kembali melanjutkan aksinya. Tapi, kali ini benar-benar hanya *******, tak lebih. Dia mengelap sisa ciumannya di bibirku dengan jarinya.


"Ayok kita cari makan! Aku sudah puas sebentar mencicip istriku!"


"Emang aku makanan di cicip!"


"Iya, kamu makanan ku. Amunisi ku. Wajib di nikmati!"


Aku mencubit perut nya yang rata itu.


"Ya udah, kita cari makan!"


"Mau makan apa sayang?"


"Enaknya sih, yang pedas-pedas gitu ka. Enak kali ya?"


"Apaan?"


"Em...ayam bakar madu, sambelnya yang pedes!"


"Baiklah nyonya Azka, kita berangkat!"


Azka menggandeng ku keluar ruangan. Seperti biasa, mode cool nya kembali menghiasi wajahnya. Meskipun begitu, tangan Azka masih gak mau melepaskan genggaman nya dari tanganku.

__ADS_1


"Berhubung anak ku sudah lapar, kita makan di restoran kita aja di bawah. Gimana?"


"Ada menu itu disini?"


"Apa sih yang enggak buat nyonya Azka?"


Kami berdua turun ke lantai dasar, dimana restoran itu berada. Kedatangan pemilik hotel, para karyawan pun antusias menyambut. Sebagian memang belum tahu perihal pernikahan bosnya, jadi...saat melihat Azka menggandeng ku mereka tampak terkejut.


Azka menarik sebuah kursi untuk ku.


"Pelayan!", panggil Azka.


"Iya Pak Azka!"


"Saya mau ayam bakar madu, dua porsi. Sambel nya yang pedes ya!"


"Ayam bakar madu? Disini kan?"


"Ya udah, panggil Chef Danil ke sini!", titah Azka. Pelayan itu pun memanggil chef Danil untuk menghadap bos nya.


Seorang dengan pakaian khas nya mengahampiri kami.


"Iya pak Azka, ada yang bisa saya bantu?"


"Chef Danil, istri saya sedang ingin makan ayam bakar madu. Chef Danil bisa membuatnya kan untuk kami?"


"Istri? Ayam bakar madu?", tanya chef Danil mengulang.


"Iya, istri saya Najma!"


Aku menakupkan kedua tanganku di depan dada sebagai tanda perkenalan.


"Oh...siap pak Azka, nyonya Najma! Saya akan buatkan menu spesial untuk anda!", chef Danil pun mengundurkan diri. Ia segera menyiapkan masakan untuk bosnya itu. Chef Danil hanya menggelengkan kepalanya. Bos yang aneh, restoran miliknya kan resto western, tapi dia memintaku membuat ayam bakar madu?


Ah, bos mah bebas!


Sambil menunggu makanan yang spesial itu, azka memberiku cemilan seperti kripik kentang. Dan memberiku minuman segar.


"Nana!", panggil seseorang.


"Vicky?!"


"Ngapain kamu disini Na, sama...pak guru yang nggak tahu diri?"


"Hei...yang sopan kalau bicara!", bentak Azka.


Vicky di tarik oleh seseorang yang ku yakin itu papanya.


"Vicky!", bentak papa nya.


"Pak Azka?", sapa papa Vicky.


"Oh, ini putra anda pak!"


"Maafkan kelakuan Vicky ya pak!"


"Bilang sama anak pak Thomas. Jangan lagi ganggu Najma, Najma istri saya!"


Seketika mata Vicky melotot.


"Nana, apa yang dia bilang itu bohong kan?", teriak Vicky.


"Tapi dia memang suamiku Vick!", jawabku tegas.


"Sudah dengar kan?", Azka melipat tangan di dadanya.


"Saya jamin, Vicky tidak akan menggangu istri pak Azka lagi." Pak Thomas pun menyeret Vicky menjauh. Tak berapa lama, ayam bakar madunya pun datang.


Di meja lain, pak Thomas sedang memarahi anaknya.


"Papa tahu, Nana itu yang bikin Vicky semangat kuliah dan pindah kuliah disini pah?!"


"Tapi...pak Azka itu rekan bisnis papa. Kalau sampe kamu bikin ulah, yang ada perusahaan papa bakal rugi Vicky!"


"Tapi pah...!", rengek Vicky.


"Tidak ada tapi-tapian!"


"Tapi papa juga heran, istrinya itu...teman kamu? Masih anak-anak?"


"Nana itu adik kelas ku dua tahun pah!"


"Oh ya? Berati usianya baru delapan belas tahun?"


"Iya pah. Wah, hebat sekali pak Azka. Diusianya yang segitu, bisa mendapatkan ABG!"


"Papah!"

__ADS_1


"Eh, sori...sori...nak! Ya udah kita makan. Jangan hiraukan Nana lagi!"


__ADS_2