
Hari yang melelahkan. Aku pulang terlebih di bandingkan Azka.
[Pulang duluan Ka!]
Aku mengirim kan chat pada pak suami. Masih ceklis abu-abu.
Aku pun menaiki motorku.
"Na!", panggil Seseorang.
"Vicky?"
Dia meraih kunci motorku. Aku berusaha meraihnya kembali tapi sayang aku tak bisa merebutnya.
"Balikin kunci aku Vick!", pintaku.
"Nggak. Kamu ikut aku yuk!", ajak Vicky.
"Aku nggak bisa, aku harus pulang. udah ditunggu sama anak-anak toko!"
"Ya udah, aku anterin!"
"Nggak usah. Kesiniin kuncinya!"
"Nana, kenapa kamu sekarang begini? Dingin sama aku? Kamu udah nggak ada rasa sama aku?"
"Apaan sih Vicky? Kita cuma berteman selama ini. nggak lebih!"
"Tapi kita hampir backstreet kan ?"
"Hampir Vicky, tidak sampai terjadi. Tolong kembalikan kuncinya Vick!"
"Aku mau tahu alasannya apa? Apa ada cowok lain? Tapi selama ini , aku nggak pernah liat kamu jalan sama cowok manapun."
"Alasan apa lagi? Udah aku bilang, aku nggak bisa sama kamu. Titik! Nggak usah tanya kenapa-kenapa nya."
"Aku cuma mau tahu Na, mungkin aku bisa perbaiki sampai jadi yang kamu mau."
"Vicky, please! Aku harus pulang sekarang!"
"Nana...", Vicky menarik tanganku kasar.
"Aw.... lepasin Vick!", pekikku. Mana parkiran sepi banget lagi.
"Aku lepasin, tapi kamu ikut aku !"
"Nggak mau , di bilang aku harus pulang!"
Vicky masih terus memaksa ku. Tiba-tiba datang seseorang dengan suara bariton nya yang sangat aku kenal.
"Lepasin Najma!", katanya pada Vicky.
"Pak guru, ini sudah selesai jam sekolah jadi pak guru nggak berhak mengurusi urusan anak didiknya bukan?"
"Saya bilang, lepasin tangan Najma!"
Akhirnya Vicky melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan ku.
"Kamu kan bukan siswa sekolah ini lagi, kamu tidak bisa bebas keluar masuk ke mari."
"Pak, anda cuma guru di sini. Jangan mengatur-atur saya. Saya memang hanya alumni dari sekolah ini, tapi saya juga berhak kemari kan pak?"
__ADS_1
"Iya, asalkan tidak berbuat kasar seperti barusan."
"Bapak ini punya masalah apa sebenarnya sih? Bapak ini siapa nya Nana? Kenapa sebegitu peduli dengan Nana?"
"Najma siswa saya! Saya juga akan melakukan hal yang sama jika melihat siswa lain diperlakukan sama oleh mu!"
Hampir saja...ku pikir Azka akan membocorkan rahasia kami.
"Berikan kunci Najma, atau saya pastikan kalau kamu tidak akan pernah bisa lagi menginjakan kaki mu di wilayah sekolah ini."
Vicky pun menyerahkan kunci itu padaku. Wajahnya memerah seperti udang rebus.
"Bapak pikir bapak siapa hah?"
"Saya guru disini!"
"Lihat saja, apakah besok saya yang tidak akan pernah menginjakkan kaki disini atau...bapak yang tidak akan pernah mengajar disini!"
Vicky pun bergegas meninggalkan kami.
"Langsung pulang! Jangan kemana-mana sampai aku pulang!"
"Ka, aku...."
"Kita bicara nanti di rumah. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ku."
Azka beranjak meninggalkan ku. Apa dia marah?
"Ka! tunggu sebentar!"
Aku menghampiri nya.
"Kamu marah sama aku?"
'"Menurut mu?"
"Jangan balik bertanya begitu kenapa?"
"Apa menurutmu aku senang ada laki-laki lain menyentuh istriku?"
"Kamu tahu, itu bukan mauku Ka! Kamu liat sendiri kan gimana kencengnya Vicky pegang tangan aku?"
"Harusnya kamu menghindari kalau dia mendekati kamu!"
"Ya Allah Ka, aku harus jelasin kaya gimana sih? Aku nggak tahu kalau tiba-tiba dia datang, terus mencengkeram tanganku! "
"Pulang lah, kita bicarakan di rumah!"
"Ka... ayolah, jangan seperti anak kecil begitu. Ngapain sih kamu cemburu begitu Ka? Aku nggak ada apa-apa sama Vicky!"
Tapi Azka tetap berjalan menjauh meninggalkan ku.
Azka cemburu pada vicky?
Perjalanan pulang kali ini sungguh membuat ku tak konsentrasi. Beberapa kali aku mengerem mendadak karena tak melihat kendaraan di depanku.
Setelah melewati beberapa menit, akhirnya aku sampai ke rumah. Langsung kuparkir kan motorku di depan toko.
"A damar, tolong ntar masukin motor ya!"
Damar mengacungkan jempolnya ke arahku. Aku langsung duduk di kursi.
__ADS_1
"Kok cemberut Na? Kenapa?", tanya kak Sisi.
"Capek!"
"Hem...capek apa capek? Kayanya bukan deh!"
"Kak sisi sok tahu!"
"Tau lah, muka capek sama muka kesel tuh beda. Cerita aja sama kak sisi?"
"Aku curhat gitu sama kak sisi?"
"Terserah, kalau kamu mau mah kak sisi siap dengerin kok!"
"Em...kak sisi inget Vicky?"
"Vicky yang...mau jadi pacar kamu nggak di bolehin sama bunda?"
Aku mengangguk.
"Kenapa?"
"Tadi dia ke sekolah, dia maksa aku buat ikut. Dia narik-narik tangan ku kak sisi! Tiba-tiba Azka dateng. Azka salah paham Kak. Kayanya marah banget ke Nana!"
"Hem...gitu, itu mah pak Azka cemburu Na!"
"Iya kah?"
"Iya lah, laki-laki kalau marah gak jelas itu tandanya cemburu."
"Dia nggak mau dengar penjelasanku!"
"Ya udah gini aja Na, kamu bujukin dia biar nggak marah!"
"Bujukin nya gimana Ka?"
Kak sisi berbisik padaku. Mataku melotot seketika.
"Hah? Enggak ah!"
"Eh... cobain dulu ,kak sisi jamin pasti berhasil. Kalau masih belum berhasil, lanjutkan yang lebih hot!"
"Kak sisi ih....!"
"Udah sana mandi, biar seger. Suami pulang kan enak diliat nya."
"Iya deh!"
"Nah gitu dong, semangat! Jangan cuma pinter di sekolah. Tapi harus pinter nyenengin suami dirumah!"
"Iya kak sisi...iya...!"
Aku pun masuk ke rumah induk melewati lorong penghubung. Sudah jam lima sore, Azka belum pulang.
Aku siapkan nasi dan beberapa lauk yang ada di kulkas. Sepertinya besok aku harus belanja kebutuhan dapur.
Usai masak, aku mandi dan solat magrib.
Azka belum pulang juga. Aku ragu-ragu mau menelpon nya.
Aku menunggu di meja makan, Azka pun tak kunjung pulang sampai azan isya berkumandang. Ah...dengan gontai aku menuju kamarku di lantai atas. Sekarang sholat isya sendiri.
__ADS_1
Azka marah banget sama aku ? Dia cemburu ? Kenapa dia nggak mau dengerin penjelasan ku sih?