
"Dari mana kamu?", tanya papa Dara.
"Biasalah Pa!", sahut Dara santai sambil melangkah menuju tangga.
"Dara! Kamu bukan lagi ABG, jadi hentikan kelakuan mu yang kekanak-kanakan seperti itu."
Dara menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik menghampiri sang papa.
"Kekanak-kanakan seperti apa yang papa maksud? Memang Dara salah ingin menghibur diri? Iya?"
"Tapi bukan berarti kamu bebas keluar masuk klub malam dara!", suara papa nya meninggi.
"Ckkk...papa! Ngga usah kolot! Papa sendiri yang bilang aku bukan ABG lagi. Jadi, itu artinya papa sadar kalo aku bisa melakukan apa pun yang aku mau!"
"Dara!"
"Stop mengaturku pa."
Dara langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Apa sih pa ribut-ribut?", tanya mama Dara.
"Anak kamu ma. Heran papa sama dia. Sudah dewasa tapi kelakuannya masih saja seperti bocah. Lama-lama papa benar-benar akan menjodohkan Dara!"
"Menjodohkan Dara? Yang benar saja Pa. Papa tahu sendiri kalo dara itu cinta sama Azka. Mana mungkin dia mau menikah dengan orang lain apalagi di jodohkan!"
"Tapi kita tahu sendiri Ma, Azka sudah beristri bahkan punya anak. Mau sampai kapan Dara mengharapakan suami orang?"
"Jodoh ngga ada yang tahu Pa!", sahut mama Dara santai.
"Maksud mama apa bilang kaya gitu?", tanya papa Dara penuh keheranan.
__ADS_1
"Ya...kali aja Azka mau dara jadiin istri keduanya."
"Gila! Mama benar-benar gila tahu ngga!"
"Lho, mama kan hanya berpendapat. Barang kali suatu saat nanti Azka mau memperistri Dara. Toh perasaan Dara ke Azka bukan baru sehari dua hari kali Pa."
Papa Dara menggeleng.
"Papa heran dengan jalan pikiran mama. Begini nih! Makanya Dara jadi ngelunjak gara-gara mama terlalu memanjakan Dara. Selalu mewajarkan semua kelakuannya padahal itu tidak pantas."
"Dara anak kita satu-satunya Papa. Wajar kalo kita manjakan Dara."
"Mama mendukung Dara untuk mengganggu rumah tangga Azka? Mengharap Azka mau memperistri Dara untuk di jadikan yang kedua? Bagaimana kalo keadaan ini terjadi pada mama! Apa mama rela kalo papa menikah lagi, iya Ma!"
''Kok jadi bahas seperti itu sih Pa? Papa niat mau nikah lagi?"
"Ngga! Papa cukup punya satu istri model mama. Satu saja sudah bikin papa stres!", kata Papa Dara. Dia pun meninggalkan istrinya yang sedang emosi itu.
.
.
"Apa?", tanya Vicky dengan sedikit ketus. Aurel sempat terkejut mendengar Vicky menyahuti dengan suara yang cukup tinggi.
"Eum, ada acara selamatan di rumah Nana. Apa ngga sebaiknya kita ke sana? Aku...aku...ngga bisa lama-lama berantem sama Nana Kak!"
Vicky yang sedang sibuk memainkan ponselnya pun menoleh pada kekasihnya itu. Ia letakkan benda pipihnya di atas meja.
"Kita akan ke sana. Tapi tidak untuk sekarang!", Vicky menatap tajam pada Aurel.
"Kenapa Kak?", tanya Aurel.
__ADS_1
"Kamu tanya kenapa? Kamu lupa bagaimana dia mengatakan kalo aku tidak baik buat kamu? Heum?", Vicky mencengkram dagu Aurel.
"Kak!", desis Aurel karena merasa kesakitan setelah Vicky mencengkram dagunya. Vicky pun melepaskannya.
"Kok kakak jadi kasar begini?", tanya Aurel ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu mau aku yang seperti apa?", tanya nya menatap mata Aurel.
"Kakak ngga biasanya begini!"
''Kamu akan terbiasa sayang!", Vicky menepuk pelan pipi chubby kekasihnya itu. Aurel tak habis pikir, perubahan Vicky begitu besar sekarang. Apalagi setelah mereka berdua melakukan hal yang hanya boleh di lakukan sepasang suami istri.
"Dengar!", Vicky menghadap Aurel.
"Selama kamu ikuti apa mauku, semua aman sayang!", Vicky menyelipkan rambut ke telinga Aurel.
"Ma... maksud kakak?"
"Kamu berharap aku bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan bukan , heum?"
Aurel membeku. Dia tidak paham dengan pola pikir Vicky.
"Kakak tidak akan meninggalkan ku kan?", tanya Aurel pada akhirnya karena cemas.
"Tentu sayang!", Vicky mengusap kepala kekasihnya.
"Tapi....kamu harus melakukan apa pun mauku! Paham!", lagi-lagi dagu Aurel jadi pelampiasan Vicky.
"Memangnya Kakak mau apa?", tanya Aurel takut-takut.
"Nanti kamu tinggal ikuti rencana ku!"
__ADS_1
Aurel mengangguk.