
Mobil kami sudah berada di depan toko kue ku. Mas Azka membukanya pintu untukku.
''Makasih mas...!", kataku.
"Sama-sama sayang!", aku pun keluar dari mobil menuju ke bangku di toko kue ku.
"Teteh, bagi es cokelat ya!", teriakku.
"Sayang,jangan pakai es dong?!", kata Azka.
"Panas mas, pengen yang seger!", sahutku.
Azka memilih untuk mengalah dari pada berdebat dengan ku.
"Tapi kali ini aja ya, kurangi air dingin sama yang manis-manis."
"Iya mas....!", tak lama kemudian minuman ku pun datang.
"Hei, Nana cantik!", sapa ka Sisi.
"Ciye...bumil, cerah banget mukanya!", ledekku.
"Kok tahu sih Na?", kata Sisi merengut. Azka terkekeh melihat dua perempuan hamil di depannya itu.
"Tau lah kak. Nana gitu lho!", sahut ku.
"Yah....ngga jadi surprise dong!", kata Sisi lesu.
"Nggak perlu surprise, yang penting kita ikut bahagia kok denger berita baik nya itu!", kataku.
"Hahaha iya Na. Alhamdulillah, bisa hamil kaya kamu juga ya Na. Kak sisi seneng banget deh!"
"Alhamdulillah kak! Bener kan kita bisa hamil bareng-bareng!"
"Iya, nggak nyangka aja. Doa orang hamil mustajab ya Na heheh!"
"Aamiin...kak sisi jangan kerja berat-berat ya, kasian Dede utunnya."
"Kerja berat apa sih? Ya nggak lah!"
"Ya kali aja kak. Udah mulai sekarang, kak sisi kalo emang capek istirahat aja. Nggak usah maksain hari Minggu masuk kerja, biarin ada yang lain ini."
"Siap nyonya bos!"
Aku menyeruput es coklat ku.
"Udah abis, kita masuk yuk mas!", ajakku ke Azka. Azka pun mengiyakan.
"Masuk dulu ya Kak!", pamitku.
"Iya, tapi bibik lagi ke pasar Na. Stok sayur sama buah udah abis."
"Ya kak!", jawabku.
Aku dan Azka masuk ke dalam rumah induk.
"Bebersih dulu ya sayang, baru rebahan. Jadi nanti enak boboan nya!"
"Males mas!", kataku manja sambil menaiki tangga dan memeluk lengan Azka.
"Jangan males dong sayang!", Azka menowel hidung ku.
"Mau mandi...tapi mandiin kamu ya mas....!", rengekku manja.
"Yakin cuma mandi?", Azka menaikkan alisnya.
"Plus-plus juga boleh kok sayang!"
Azka terkekeh kecil.
"Dasar bocah!", kata Azka.
"Biar bocah gini, udah bisa bikin bocah juga lho, nih ....!", ku usap perut buncit ku.
"Iya ...iya ... sayang!", kata Azka.
Kami berdua pun masuk ke kamar kami.
"Mas siapin air anget?"
"Nggak lah, siang gini masa air anget. Kan ada kamu yang angetin aku mas ...!"
"Manjanya....ampun deh!"
__ADS_1
Azka membopongku ke kamar mandi. Aku pun mengalungkan kedua tanganku ke lehernya.
"Mandi doang kok mas, serius!"
"Lain dari itu juga boleh....!"
"Nanti malam aja mas, sekarang capek?!"
"Iya bumil!!!!"
Mas azka benar-benar memandikan ku dengan telaten. Sesekali ia menggoda ku dengan menggelitik badanku.
Beberapa menit kemudian,aku sudah berada di kamar dengan pakaian lengkap.
"Mas ke mushola dulu ya?! Kamu solat di rumah!"
"Iya mas!"
Setelah itu, Azka pun meninggalkan kamar kami. Aku pun melakukan empat rakaat ku.
Usai solat, aku berbaring di kasur sambil memainkan ponsel ku. Saat tengah asik membaca novel online ku, ponsel Azka berdering. Awalnya aku cuek, tak mau mencampuri urusan Azka. Tapi dari tadi dering nya tak berhenti. Akhirnya ku raih ponsel Azka di nakas.
Dara calling....
Dara? Ngapain nelpon suami ku Mulu sih? gumam ku.
[Hallo Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Dara menyahut ku dengan ketus.
[Ada yang bisa Nana bantu kak Dara?]
[Azka mana? Aku mau ngomong sama Azka, bukan sama kamu]
[Mas Azka lagi ke mushola komplek kak, kalo ada yang penting bilang aja ke Nana. Nanti Nana sampein deh!]
[Gak. Aku mau ngomong sama Azka. Penting!]
[Oh ya udah, nanti kalo suamiku udah pulang telpon balik ya]
[Awas kalo kamu bohong ya!]
Tut...Tut....
Dara langsung memutuskan panggilan nya.
"Orang aneh!", kataku pelan. Di saat yang bersamaan, Azka masuk ke kamar.
"Assalamualaikum istriku yang cantik!"
"Walaikumsalam, mas!", aku mencium punggung tangannya.
"Kok mukanya di tekuk? Kenapa?", dia duduk di samping ku.
"Tadi kak dara telpon, katanya ada yang penting!"
"Dara? Ngapain?"
"Mana Nana tahu mas!", kataku ketus sambil memeluk guling.
"Ya udah lah cuekin aja!"
"Eh, dia minta kamu telpon balik lho mas!"
"Biarin ah! Mas sibuk!", katanya.
''Sibuk apanya? Baru sampe dari musola kok sibuk?!"
"Ya, habis ini sibuk lah. Sibuk main sama kamu dan dedek utun!", katanya mengusap perut ku.
"Modus ah!"
"Iya nggak masalah kan, lama nunggu ntar malem!"
"Dasar...om-om...!", aku mencebik.
"Biar om-om tapi masih bagus lah ya staminanya???"
"Heum! Dasar!", aku meraihnya kedalam pelukan ku. Kami pun memulai aksi panas kami di siang hari ini.
Di tengah pacuan Azka, ponselnya kembali berdering. Azka terlihat kesal karena merasa kesenengannya terganggu.
__ADS_1
Azka melirik sebal ke ponselnya. Dia kembali memacu permainan lagi. Tapi, lagi-lagi ponselnya berdering. Kali ini dia benar-benar emosi.
[Ada apa Dara! Kamu tahu, kamu sangat menggangguku!]
Suara Azka terdengar terengah-engah karena sedang 'bermain' denganku.
[Ka, gue pengen ketemu sama Lo. Penting!]
[Lo cuma mau bilang gitu doang? Terus Lo ganggu gue?]
Tiba-tiba Azka menghentakkan pinggulnya lebih dalam.
"Awww....pelan sayang!", pekikku. Aku yakin dara mendengar suara ku.
"Maaf sayang....!", kata Azka lirih.
[Denger Dara, tolong jangan pernah ganggu gue apa lagi Nana]
Azka langsung mematikan ponselnya. Lalu dia melanjutkan permainan nya, bahkan lebih seru dari sebelumnya. Mungkin efek emosi karena ulah Dara.
Usai bermain tadi, aku tidur di pelukan Azka.
"Sayang, memang Dara mau ngomongin apa sih?"
"Nggak tahu sayang!", jawab Azka sambil tetap memejamkan matanya.
"Tapi kayanya....!"
"Udah lah, nggak usah mikirin Dara. Mas males ah!"
"Ya maap mas..!", aku menenggelamkan kepalaku ke dada mas Azka. Kami pun tertidur pulas siang ini.
.
.
.
"Sebentar ya mas, saya panggil non Nana dulu!", ucap bibik saat ada kurir mengantarkan paket untuk Nana.
"Nggak usah Bu, anda tanda tangan saja. Saya masih ada yang harus di kirim."
"Oh ya udah deh!"
Bibik pun tanda tangan, lalu menerima paket itu yang di tuju untuk Nana.
Karena takut mengganggu bos kecil nya, bibik meletakkan paket itu di depan kamarku.
Aku bangun saat azan ashar. Aku berniat ke dapur. Azka masih terlelap di kasur kami.
Saat keluar dari kamar, ada sebuah paket . Dikirim untuk ku, tapi tak tahu siapa pengirimnya.
"Dari siapa ya? Kok nggak ada pengirimnya? Perasaan aku nggak pesan apa-apa deh!"
Aku pun membuka paket itu perlahan. Dan ternyata isinya....
"aaaaahhhhh....!", teriakku. Azka yang hanya memakai boxer berlari ke arahku.
"Ada apa sayang?"
Aku menutup wajahku karena takut dengan paketan tadi. Azka tak kalah terkejutnya kenapa bisa ada paket seperti itu di sini.
"Kamu duduk dulu di kasur ya sayang? Mas ambil minum dulu!", Azka memakai celana pendek dan kaos seadanya. Lalu berlari ke dapur untuk memberikan air putih untuk ku.
Paketan itu masih teronggok di sana.
"Kamu nggak apa-apa sayang?"
"Nggak mas. Cuma kaget aja!"
"Ya udah, mas tanya bibik dulu. Bibik pasti tau soal paketan ini!"
"Iya mas!"
Aku masih syok dengan apa yang ku lihat. Selang berapa lama, Azka kembali ke kamar lalu memeluk ku.
"Kenapa mas?''
"Nggak sayang! Mungkin ada orang iseng sama kita. Ya udah kamu istirahat lagi ya? Mas nggak mau kamu tambah capek!"
"Iya mas!"
Aku kembali berbaring. Tapi tidak dengan Azka. Dia sibuk memainkan ponselnya. Aku gak ingin banyak tanya, sebelum Azka menjelaskan padaku.
__ADS_1