
Sore harinya, aku dan Azka berjalan-jalan ke sekitar Vila. Kami berjalan kaki menuju kawasan perumahan warga sekitar Vila. Sesekali sapaan ramah kami temui saat berpapasan dengan warga.
Mereka memang ramah. Apalagi sebagian dari mereka juga bekerja di perkebunan teh milik papa mertua.
Entah, sekaya apa keluarga suamiku. Aku belum banyak tahu. Tapi aku juga enggan bertanya pada Azka. Aku hanya takut dia salah sangka padaku. Meskipun papa dan bunda ku tak meninggalkan harta yang berlimpah setidaknya apa yang mereka tinggalkan cukup untuk memenuhi segala kebutuhan ku.
Azka menggandeng tanganku menelusuri jalanan kecil penghubung antara rumah warga dan kawasan Vila.
"Mas...!'', panggil ku.
"Kenapa sayang?"
"Memang kita mau kemana? Sudah sore begini?"
"Ke danau!"
"Danau?", aku membeo.
"Iya. Danau itu sangat indah sayang. Aku yakin kamu akan menikmati keindahannya di senja begini."
"Tapi mas ... sebentar lagi gelap, bagaikan kita kembali ke Vila?"
"Heheheh tenang sayang, nanti kita pulang tinggal telpon orang untuk mengantar kita ke villa."
Aku hanya mengangguk, percaya saja pada ucapan suami ku.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya rasa lelah ku berubah menjadi rasa kekaguman melihat pemandangan danau.
"Masyaallah mas....indah banget!!!!", aku sedikit berlari menuju ke pinggir danau.
__ADS_1
"Na, jangan berlari seperti itu. Ingat, kamu sedang hamil sayang....!", pekik Azka yang turut berlari mengejar ku.
Sampai di pinggir danau, ku rentangkan tangan ku sambil menghirup udara segar dan asri ini.
Tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutku. Tangan siapa lagi jika bukan tangan suamiku?
"Kamu suka kan sayang?", tanya nya bervisi di samping telinga ku. Sedangkan tangan satunya tak henti mengusap perut ku yang mulai membuncit.
"Suka mas. Suka banget malahan! Makasih ya!"
Cup.....
ku kecup pipi nya yang menempel di sebelah ku.
"Pipi doang?", tanya Azka.
"Jangan aneh-aneh deh mas. Ini tempat umum. Apalagi kita orang asing."
"Lalu apa lagi mas??!", tanya ku geregetan sendiri.
"Ya apa kek....!", katanya tanpa melepaskan pelukannya dari perutku.
"Kan udah tadi siang? Kurang?"
"Heum...tentu saja kurang lah! Ini kan bulan madu kita...!"
"Kamu ngajarin aku mesum terus sih mas. Apa reaksi bunda kalau tahu ini kamu yang sebenarnya?"
"Heheheh bunda mu jelas tak tahu lah sayang.....kan aku memang mesum sama kamu doang!"
__ADS_1
"Dih ... nyebelin!", sahutku kesal. Tapi Azka justru meletakkan dagunya di bahuku.
"Aku pengennya kita selalu sama -sama sayang. Tidak ada masalah yang menggangu keluarga kita."
"Aku juga berharap begitu mas!"
"Em... sayang, udah kamu pikirkan setelah lulus mau melanjutkan kuliah di mana? Dan ambil jurusan apa?"
"Heum... kalau bisa dan diijinin sama kamu, aku masuk di fakultas kedokteran boleh?"
"Tentu saja boleh!", kata Azka sambil mengusap kepala ku.
"Tapi....kalau aku kuliah,gimana baby kita? Masa aku tinggal-tinggal terus. Kasian kan? Aku nggak bisa jadi ibu dan istri yang baik dong?"
"Kata siapa? Kamu masih tetep bisa kuliah. Anak kita dijagain sama baby sitter dan bibik juga kan selama kamu kuliah. Kalau udah beres kuliah, kamu tinggal dekat-dekat sama baby kita. Pokonya mah....kamu atur aja gimana baiknya. Perempuan itu madrasah pertama bagi anak-anak nya, maka nya....mas juga pengen kamu pinter dan berpendingin. Apa pun keputusan kamu, mas dukung!"
"Seriusan mas?"
"Tentu saja sayang....!", goda Azka.
"Aku makin cinta sama kamu mas....!", aku memeluknya dengan erat.
"Apa lagi aku!"
Di saat yang bersamaan, mobil jemputan datang.
"Kita pulang sayang, besok pagi kita bisa ke sini lagi."
"Iya mas!"
__ADS_1
Kami pun menuju ke vila lagi untuk beristirahat.