
"Ikut ke kantor aja ya sayang...?!", ajak azka padaku.
"Bosen sayang, mending kalo ke hotel. Ini ke kantor? Ngga banget deh!"
"Ya udah mas anterin kamu ke hotel, nanti Rania nemenin kamu!"
"Ngga usah mas, aku di rumah aja sama bibik sama kak sisi! Ya... bantu-bantu di toko lah!"
"Ngga! Kamu ngga boleh capek! Kasian anak kita lho yang!", kata Azka mengusap perut ku.
"Mas, aku hamil bukan sakit !", KY takupkan kedua tanganku di pipinya.
"Mas cuma ngga mau kalian kenapa-kenapa sayang."
"Insyaallah kami baik-baik saja mas!", aku mencoba tersenyum. Aku tahu, kejadian kemarin bukan hanya menjadi trauma untuk ku, tapi juga Azka. Perasaan bersalah luar biasa ia rasakan jika terjadi sesuatu dengan ku dan calon anak kita .
"Oke...kalo kamu mau di rumah, tapi mas mohon. Jangan kemana-mana kecuali bersama ku!"
"Iya mas, aku di rumah kok!"
"Ya udah ,anterin mas ke depan. Kamu di toko aja ya!", titahnya.
Aku mengangguk sebagai jawabannya.
"Pagi pak Azka...non Nana!", sapa para karyawan ku.
"Pagi!", sahut kami berdua.
__ADS_1
Setelah itu Azka jongkok di hadapan ku. Mencium perutku beberapa kali. Dan hal itu membuat merasa malu di hadapan karyawan kami.
"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya. Jagain mommy, ajak makan yang banyak. Nanti Daddy usahakan secepatnya pulang ya!", ucap Azka di depan perutku.
"Iya dad!", sahutku meniru ucapan anak kecil. Keromantisan kami jadi tontonan mereka semua. Untung kak sisi ngga ada, coba ada ..sudah di pastikan bakal lebih rame.
"Mas berangkat ya sayang, ingat makan yang teratur. Jangan capek-capek!"
"Iya sayang...iya....!", aku meraih tangan nya lalu ku kecup punggung tangannya. Dan Azka mengecup kening ku.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam! Sampe kantor kabari ya mas!" kataku setengah berteriak. Azka mengacungkan jempolnya.
Sepeninggal Azka, aku masuk ke pantry toko. Memeriksakan keadaan dapur yang meski ramai, tapi senantiasa rapi.
"Masih Non. Non Nana mau di buatin sesuatu?", tanya karyawan ku.
"Em...kak...bisa ngga sih bikinin teh tarik gitu?", tanyaku ragu.
"Bisa atuh, saya sebelumnya jualan teh tarik di kampung saya!", seru si karyawan.
"Atuh bagus kalo gitu, bikinin bisa ngga? Bahan-bahan nya ada ngga?"
"Soal bahan mah ada non. Masalahnya....???!"
,ia menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Masalahnya apa kak?", tanya ku penasaran.
"Em...bapak udah wanti-wanti ga bolehin ngasih minuman dingin buat non Nana?!"
"Sudah ku duga!", kataku.
"Anget juga enak lho non!", katanya berusaha membujuk ku.
"Ngga, aku mau yang dingin! Awas aja kalo sampe anakku ngiler...kakak juga harus tanggung jawab!", aku pura-pura mengancam.
"iiih...jangan atuh non! Ya udah, pake es tapi dikit ya?", dia bernegosiasi dengan ku.
"Oke! Cepetan kak, ngga pake lama!"
Tanpa ba-bi-bu karyawan ku pun membuat kan apa yang ku inginkan.
.
.
Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini ia menuju ke kantor papanya yang dalam waktu dekat akan dipimpinnya olehnya.
Sedangkan Papa berharap ingin standby di yayasan sekolah mereka.
Azka melirik spion mobilnya. Dia merasa ada yang membuntuti nya sejak tadi. Tapi dia berusaha berpikir positif. Mungkin mobil itu memiliki arah yang sama. Hingga akhirnya di lampu merah, mobil itu berhenti di sampingnya. Azka yang membuka kaca nya pun menengok ke arah mobil di sebelahnya. Betapa terkejutnya Azka saat melihat Vicky menyeringai padanya.
Vicky? gumam Azka. Tapi tak sesuai dugaannya, ternyata mobil Vicky melaju mendahulukan Azka.
__ADS_1
Ini baru awal Azka, Lo bersiap aja apa yang bakal gue lakuin setelah ini.Batin Vicky dengan cepat ia melaju membelah jalan ibu kota karena ia sudah berjanji akan menemui bosnya, Dara!