
Azka baru turun dari mobi yang membawanya dari bandara menuju ke sebuah hotel tempat di mana pertemuan bisnis di lakukan selama dua hari.
"Makasih pak!", kata Azka saat dia turun dari taksinya.
"Sana pak!", kata supir taksi itu.
Azka segera melakukan check in di hotel berbintang ini. Saat akan memasuki kamarnya, ia beberapa kali berpapasan dengan sesama pengusaha muda. Selain bertegur sapa, mereka juga mengobrolkan hal yang berkaitan dengan pertemuan bisnis mereka.
Perhatikan Azka terhenti saat ia sadar jika kamar sebelahnya adalah kamar seseorang yang sangat ia benci.
"Hai, pak guru!", sapa Vicky dengan cengirannya yang seolah mengejek.
Bagaimanapun bisa dia di sini? Apa mewakilkan perusahaan papanya? Bukankah perusahaan itu sedang dalam kondisi yang buruk??? Batin Azka.
Azka tak menyahut ucapan Vicky. Tangan Azka terulur untuk membuka pintu kamar hotelnya setelah memasukkan cardlock nya. Tapi ada seseorang yang menepuk lengan nya pelan.
Azka pun berbalik badan.
"Ya?", tanya Azka. Dia tak mengenal pria yang ada di belakangnya barusan.
"Pak Azka dari Bhakti Group?", tanya nya.
Azka yang tak mengenalnya agak ragu untuk sekedar mengangguk.
"Perkenalkan, saya Wisnu dari Wisnutama Co."
Pria itu mengulurkan tangannya pada Azka. Mau tak mau, Azka pun menyambut uluran tangan itu.
"Azka!"
"Saya sering mendengar kehebatan anda dalam mengelola bisnis perhotelan dan properti", puji Wisnu sambil tersenyum.
"Terimakasih atas pujiannya pak Wisnu, saya belum sehebat itu. Anda lebih hebat pastinya. Perusahaan anda saja atas nama anda."
Wisnu terkekeh pelan.
"Perusahaan saya masih skala kecil dibandingkan dengan Bhakti Group yang terkenal dengan baktinya pada dunia pendidikan juga kan?"
Azka tersenyum simpul. Ya, mama dan papanya memang mendirikan yayasan pendidikan itu dengan alasan ingin turut memajukan pendidikan negaranya.
"Kalau begitu, saya permisi. Mau istirahat sebentar, nanti ada pertemuan di jam makan siang bukan?", tanya Azka.
"Oh iya silahkan. Maaf, sudah menganggu!", kata Wisnu tersenyum.
"Ngga kok pak Wisnu, hanya ada sisa jetlag!", Azka membalas senyuman Wisnu.
"Panggil Wisnu saja. Sepertinya kita seumuran! Dan kebetulan, seberang kamar anda adalah kamar saya!"
"Oh...oke....Wisnu, saya masuk dulu ya!", pamit Azka. Dia sudah tidak tahan untuk segera menghubungi istrinya di kotanya sana.
Usia Azka masuk, Wisnu menghubungi seseorang.
[Sesuai rencana]
[Bagus]
Sahut suara dari seberang sana. Setelah itu, Wisnu pun masuk ke dalam kamar hotelnya.
.
.
__ADS_1
[Assalamualaikum mas?]
[Walaikumsalam sayang]
[Alhamdulillah, udah sampe hotel mas?]
[Udah sayang, ini lagi rebahan]
[Capek banget?]
[Ngga lah, liat kamu sama Azki capek ku ilang]
[Halah boong banget!]
Aku mencebikkan bibirku. Azki sempat menggeliat didekapan ku.
[Serius sayang! ih ...belum juga setengah hari, mas udah kangen aja sama kalian]
[Sama, Azki juga kangen ayah]
Suaraku ku buat seperti suara anak-anak.
[Azki doang? Bunda ngga?]
[Ngga tuh]
[Heum! Mana ada! keliatan tuh di atas kepala ada gambar lope-lope nya.]
[Dih ...ngarang]
Azka terkekeh melihat istrinya yang memanyunkan bibirnya. Dia semakin rindu pada istri kecilnya dan juga jagoannya. Ini kali pertama bagi seorang Azka jauh dengan keduanya setelah menikah.
[Sabar yang sayang, cuma dua hari]
[Aamiin. Makasih sayang. Insyaallah doa istri Solehah di ijabah sama yang di atas]
[Aamiin. Kan biar kita bisa jalan-jalan heheheh]
[Ngga harus dapet tender ini juga kali Na kalo sekedar buat jalan-jalan mah]
[Heheh bercanda]
Tiba-tiba Azki menangis.
[Udah dulu ya mas. Kayanya Azki pup deh]
[Oh ya udah, ntar mas telpon lagi]
[Iya mas. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Usai menutup telponnya dengan sang istri, Azka memasuki kamar mandi untuk cuci muka dan berwudhu. Ada waktu setengah jam untuk beristirahat sebelum pertemuan berlangsung. Jadi dia bisa solat dhuhur lebih dulu setelah itu rebahan.
Baru beberapa saat ia memejamkan matanya, pintu terdengar di ketuk.
Azka akhirnya bangkit lalu membuka pintu. Baru saja pintu terbuka, orang itu nyelonong masuk ke kamarnya.
"Dara? Apa-apaan ini?", tanya Azka heran.
"Gue ngga kebagian kamar Ka! cuma Lo yang gue kenal di sini! Gue bareng lo ya?", kata Dara dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Gila! Mana ada hotel berbintang seperti ini sampai kehabisan kamar! ini weekday! Bahkan lantai ini udah disewa oleh penyelenggara! Ngga usah ngarang!"
"Kalo ngga percaya, Lo tanya aja sama resepsionis!", cebik Dara.
"Dari mana kamu tahu aku di kamar ini?", tanya Azka.
"Ya tanya resepsionis lah Ka!"
Azka menggeleng pelan. Dia beranjak ke koper nya. Bersiap untuk menyeret keluar dari kamar.
"Eh, mau ke mana Lo Ka?", tanya Dara gelagapan.
"Gue bisa cari hotel lain!"
"Eh, ngga bisa gitu. Hotel lain jaraknya cukup lumayan dari sini Ka. Ga mungkin kan Lo bikin susah diri Lo, kalo Lo telat gimana tanggapan penyelenggara coba?", tanya Dara.
Azka tak habis pikir dengan cara berpikir seorang Dara.
"Lebih baik gue ngga usah ikut pertemuan ini dari pada gue harus sekamar sama Lo!"
Azka keluar dari kamarnya. Bersamaan juga dengan para pebisnis yang menginap di lorong yang sama.
Dara menyusul Azka dengan kemeja nya yang sedikit terbuka. Dia memulai dramanya.
"Azka tunggu! Lo ngga bisa giniin gue!", kata Dara tiba-tiba. Azka memutar badannya. Dia terkejut melihat tampilan Dara yang awut-awutan.
Pandangan para penghuni kamar hotel tertuju pada Azka dan Dara.
"Dara? Lo apa-apaan hah?", pekik Azka. Dia tak ingin orang-orang berprasangka buruk padanya. Terlebih Azka keluar dari kamar yang sama dengan nya.
"Lo tuh yang kenapa, udah puas sama gue Lo tinggalin gue! Hiks....hiks...!", Dara mulai mendrama.
"Astaghfirullahaladzim!", gumam Azka yang masih di dengar oleh orang lain. Termasuk Wisnu.
"Andara?", sapa Wisnu pada Dara.
"Wisnu, hiks...hiks ...!", Dara menghambur ke arah Wisnu. Wisnu meraih kepala Dara yang bertengger nyaman di dadanya.
"Ada apa Dara? Kamu ngapain sama Azka di ruangan yang sama?", tegur Wisnu.
"Azka ninggalin aku setelah puas menikmati ku hiks ..hiks ..!", kata Dara.
"Bohong! Saya tak melakukan apapun!", sanggah Azka.
"Wisnu, Lo tahu gue. Lo kenal gue kan?!", kata Dara meyakinkan pada Wisnu.
"Iya!", kata Wisnu mengusap kepala Dara.
"Tapi gue ngga ngapa ngapain Dara, demi Allah demi Rasullullah!", Azka meyakinkan semua orang dengan sumpahnya.
Tatapan orang-orang yang ada di sana seolah percaya dengan ucapan Dara. Kondisi dara benar-benar seperti seseorang yang baru saja selesai berhubungan badan. Padahal saat dia masuk ke kamar nya, semua tampak biasa saja.
"Gue mau Lo nikahin Gue KA!",kata dara.
"Ngga usah mimpi!", kata Azka kekeh.
"Lo jahat Ka. Padahal tadi Lo sendiri yang bilang Lo butuh pelampiasan karena istri Lo abis lahiran, tapi setelah Lo puas sama gue Lo ninggalin gue hiks...hiks ...!"
"Dara! Oke! Istri gue emang masih nifas. Tapi bukan berarti gue ngga bisa nahan diri Dara. Apalagi gue harus ngelakuin sama Lo!"
Dara makin mendrama. Tapi detik itu juga, Azka menghubungi pihak hotel.
__ADS_1
"Kalo kalian percaya sama perempuan ini, silahkan! Tapi saya punya bukti bahwa saya ngga ngapa ngapain dia. Kita lihat di cctv! Jam berapa dia masuk ke kamar saya. Bahkan saya terkejut saat membuka pintu, justru dia menerobos masuk ke kamar saya!", kata Azka lancang.
Wajah Dara memucat. Bahkan dia tak sampai memikirkan itu.