
Pukul setengah delapan malam aku dan Azka kembali ke rumah. Jalanan tidak terlalu macet seperti biasanya.
Azka memperhatikan istrinya yang dari tadi terdiam. Kenapa nih bocah? Batin Azka.
"Kesambet setan apa, diem bae?",ledek Azka.
Sedangkan Nana hanya melirik jengah.
"Kamu kenapa Najma? Marah? ", tanya Azka lagi.
"Apa kamu juga melaksanakan hal yang sama dengan bundaku?", tanyaku.
"Hal yang apa?"
"Nggak usah berpura-pura!"
"Serius aku tanya, hal apa Najma?"
"Apa kamu juga mencium bundaku seperti yang sudah kamu lakukan tadi padaku?"
"Pertanyaan apa itu Najma!"
"Kenapa? Apakah bukan cuma aku dan bunda? Apakah Dara juga merasakan hal yang sama?"
"Kamu tanya apa sih Na!"
"Kamu tahu apa yang aku tanyakan!"
Azka menarik nafas panjang.
"Dara bukan siapa-siapa ku Najma! Jangan bilang kamu cemburu padanya. Tidak ada yang perlu kamu cemburui darinya."
Aku menatap jalanan ibu kota yang terlihat semarak dengan lampu disekitarnya.
"Bundamu...apa kamu pikir bundamu serendah itu Na?"
"Maksud mu? Aku rendahan gitu? Karena mau saja diperlakukan semamaumu?"
"Jangan salah paham sayang! Bukan begitu!"
Apa katanya tadi? Sayang? Apa aku tak salah dengar? Batinku.
__ADS_1
"Na, Anisa itu bukan istriku. Kamu yang istriku. Aku berhak atas dirimu, begitupun kamu berhak atas diriku. Anisa memang kekasihku,tapi kami tak punya ikatan halal seperti ikatan kita. Apa kamu pikir, Anisa mau melakukan hal itu denganku?"
Iya, aku tahu. Bunda memang perempuan yang bisa menjaga harga dirinya.
"Apa kamu juga mau mengakui, kalau kamu sudah jatuh cinta padamu meski kita baru dua hari menikah?"
"Hah? Apa? Mana ada begitu...!"
Azka menyunggingkan senyum nya. Anisa benar, tidak sulit untuk bisa jatuh cinta pada Najma.
"Kamu mau cemburu juga sama almarhum bundamu?"
"Ya enggak lah!"
"Terus, kenapa manyun begitu?"
Usai bertanya, Azka membuka pesan dari ponselnya. Tangan kanannya masih fokus menyetir.
"Nggak, biasa saja."
"Jangan bohong!"
"Bianca, siapa?"
"Almarhum Bianca, pacarku dulu!"
Hening, hanya ada suara desiran AC mobil.
"Dia meninggal karena kecelakaan , korban tabrak lari. Dia salah paham, saat... melihat ku dengan Dara sedang berdua. Padahal Dara adalah sahabat Bianca. Tapi...saat itu situasi nya memang tak menguntungkan bagiku. Dara mengira aku dan Dara sedang....Ah... lupakan!
Aku tak tahu kalau tiba-tiba Bianca datang, setelah itu pergi keluar dari ruangan ku. Aku nggak bisa mencegah langkah nya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan disaat yang bersamaan...sebuah mobil menyambar tubuhnya. Bianca tewas ditempat!"
Azka terdiam usai menceritakan masa lalu nya.
Mungkin, aku salah. Aku sudah membuka luka lamanya.
"Lebih dari dua tahun usai dari kejadian itu, Dara tak henti-hentinya mendekati ku. Sampai akhirnya, aku ketemu bundamu. Aku sempat kecewa diawal, setelah tahu kalau dia sudah pernah menikah dan memiliki anak sebesar kamu."
"Tapi, semakin aku mengenalnya...aku sadar, aku bukanlah orang yang paling menderita. Bundamu selalu memotivasi ku untuk melakukan hal baik selama ku mampu. Dan...aku menjadi guru bukanlah keinginan ku sepenuhnya. Aku kuliah di bidang ekonomi. Tapi...justru aku mengajar di sekolah kita. Almarhum Bianca bercita-cita menjadi guru, mungkin aku bisa mewujudkan impiannya."
Tangan Azka masih fokus mengendalikan setirnya. Menyadari tak ada komentar dariku, dia menatapku.
__ADS_1
"Kamu tak ingin berkomentar apa pun?"
"Apakah selamanya hidup mu hanya untuk menyenangkan orang lain?", tanyaku datar.
"Maksud mu?"
"Kamu menjadi guru, karena almarhum Bianca. Kamu menikahi ku juga karena wasiat bunda. Apakah selamanya kamu akan begitu?", kini tatapan ku kuarahkan pada manik matanya.
"Najma...kamu jangan..."
"Jangan apa? Kenyataannya begitu Ka!"
Azka menepikan mobilnya. Mematikan mesin mobilnya.
"Apa kamu cemburu?", Azka menatap ku tajam.
"Pertanyaan macam apa itu!", ku kembalikan kalimat itu padanya.
Azka mendekatkan wajahnya padaku. Mau apa lagi sih dia?
"Aku sudah jatuh cinta padamu. Tidak butuh waktu seminggu, bahkan aku sudah jatuh cinta padamu saat aku mengatakan ijab kabul dihadapan penghulu."
Aku terkesiap, itu tidak mungkin.
"Menyingkirlah!", ku dorong bahunya yang sedari tadi ada dihadapanku.
"Apakah kamu berpikir, aku mudah berpaling dari bundamu?"
Aku terdiam. Iya, mungkin begitu. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Mana mungkin semudah itu melupakan bunda.
"Anisa memang baik, tapi dari awal aku dekat dengan nya dia tak pernah ada niat untuk bersamaku. Berulang kali aku mencoba meminang bunda mu, selalu ia tolak secara halus. Dia memang bersamaku, tapi tidak dengan hatinya. Bundamu begitu mencintai papamu Na!"
Aku menatap wajah suamiku yang masih memakai kacamata minusnya.
"Aku yang terlalu ingin menjadikan bundamu istriku, tapi kenyataan nya ...dia hanya menyiapkan diriku untuk mu."
Aku menatap kaca depan mobil yang mulai penuh dengan rintik hujan.
"Aku...aku pun ingin kamu belajar untuk bisa mencintai ku. Tidak harus seminggu, sebulan setahun dan seterusnya. Aku ingin hubungan kita berjalan sebagaimana mestinya."
"Sudah malam, kita pulang!", ajakku.
__ADS_1
Dalam perjalanan kami hanya saling diam.