Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Tak ada salahnya jaga-jaga


__ADS_3

"Non!"


"Apa Bik?"


"Kok feeling bibik teh ngga enak sama si Ami ya non!", bibik membereskan sisa makananku. Padahal sebelumnya aku biasa membereskan sendiri, tapi bibik kekeuh kalo aku harus banyak istirahat. Padahal mah cuci piring doang bukan hal yang berat.


"Feeling apa sih bik?"


"Gimana ya bilangnya. Tapi masalah nya kekhawatiran bibik teh ngga berdasar."


"Ya udah, positif thinking saja atuh bik."


"Iya non, ya udah non istirahat saja. Biar bibik yang nemenin Ami jagain Den Azki. Kerjaan bibik udah beres ini!"


"Ya bik. Nana mau mandi lagi. Rasanya lengket banget nih badan."


"Ya, santai aja. Nanti kalo den Azki nangis, Ami atau bibik antar ke kamar."


"Iya bik. Makasih ya!", kataku lalu berjalan perlahan menuju kamar ku di lantai atas. Bekas jahitan di jalan lahir ku masih terasa ngilu. Nikmat sekali rasanya....


Aku mengambil ponsel ku yang ada di atas nakas. Ada chat dari Aurel. Aku langsung tersenyum melihat chat Aurel. Semoga saja dia sudah tak marah lagi padaku.


Tapi sayangnya, dia justru mengirimkan gambar Azka dengan seseorang. Dan orang itu adalah perempuan yang kutaksir usianya tak beda jauh dari Azka.


Siapa perempuan yang bersama Azka? Tapi aku berusaha positif thinking. Pasti perempuan itu hanya klien Azka. Tidak lebih! Dan jika dilihat dari bentuk tubuhnya, itu bukan kak Dara.

__ADS_1


Eh, tapi apa tujuan Aurel mengirimkan gambar itu padaku? Saat aku mencoba menghubungi nomor Aurel, nomor itu sudah tak aktiv.


Demi menjaga kewarasan ku, aku menghubunginya nomor Azka. Tak butuh waktu lama, Azka mengangkat telepon dari ku.


[Assalamualaikum bunda, kenapa?]


Aku menjauhkan telinga ku dari ponsel. Apa panggilannya tadi? Bunda?


[Walaikumsalam, kamu udah sampai Mas?]


[Udah sayang, ini lagi meeting sama nona Naura. Dari PT gemilang. Kenapa sayang?]


Aku mengelus dadaku. Berati benar, Azka sedang bertemu dengan perempuan.


"Oh, ya udah. Aku cuma mau cek aja mas udah sampe belum. Itu aja sih!]


[Iya mas. Semoga lancar meetingnya. Inget ya jangan sampe lirik sana sini. Ada aku Samarinda Azki di rumah]


[Hehehe iya sayang. Ayah ngga bakal macem-macem]


Tadi nyebut aku bunda, sekarang menyebutkan dirinya sendiri Ayah? Dia lagi cosplay???


[Ya udah mas lanjutkan lagi aja meetingnya. Aku mau mandi lagi, mumpung dedek bobo]


[Iya sayang. Ya udah ya, assalamu'alaikum]

__ADS_1


[Walaikumsalam]


Aku harus percaya pada suamiku. Dia bukan tipe orang yang mudah tergoda. Setelah meletakkan ponselku, aku lanjutkan acara mandiku.


Di sisi lain, di salah satu sudut sebuah resto...


"Siapa tadi Ka? Istrimu?", tanya Naura. Teman Azka sekaligus kliennya sekarang.


"Iya."


"Ngga nyangka lho kamu bisa sebucin itu sama istri mu! emang kapan kamu nikah sih? Ngga undang-undang aku? Ku pikir setelah almarhum Bianca, kamu lanjut sama Dara!!", kata Naura.


"Kita lagi bahasa kerjasama ya, jangan bahas istri saya."


Mode dingin Azka sudah On. Rania yang mendampingi Azka pun paham dengan situasi. Dengan cekatan Rania membagikan proposal yang dia bawa. Ya, dia memang multitalent. Bisa jadi sekertaris, bisa jadi teman, dan sekarang jadi pendamping di acara meetingnya. Beruntung untuk beberapa saat, Azka bisa memberikan presentasinya dengan baik.


"Jangan terlalu kaku gitu lah Az!"


"Saya akan menandatangani kontrak itu, saya mau langsung pulang!", kata Azka.


"Kamu harus selesaikan dulu meetingmu dong Azka! Masa main tinggal aja sih?"


"Anda tanda tangan juga di sini atau tidak sama sekali", ancam Azka pada Naura.


"Ku pikir kamu bisa lembut seperti itu karena istri mu. Ternyata sama saja kakunya!"

__ADS_1


"Mau di lanjutkan atau di batalkan?", kata Azka tegas.


"Oke!", dengan terpaksa, Naura menandatangani kontrak kerja tersebut.


__ADS_2