
"Pak....tunggu pak!", seseorang memanggil Azka yang baru keluar dari ruangan monitoring cctv.
Azka berbalik badan, menghentikan langkahnya. Laki-laki yang memanggil nya pun tampak terengah-engah karena berusaha mengejar Azka tadi.
"Apa? Saya sibuk, saya mau menarik....!"
"Jangan pak. Saya mohon!", kata laki-laki muda itu memohon.
Azka menatap tajam pada laki-laki muda yang di taksir berumur dua puluhan.
"Maaf pak. Maafkan saya. Saya mohon!", katanya sambil memohon.
"Maaf kamu bilang? Saya hampir saja terkena fitnah! Ini bukan hanya tentang karir dan usaha saya. Tapi apa yang sudah kamu lakukan, berimbas pada keluarga saya. Kamu paham? Ah ... tidak! Sepertinya saya juga sia-sia mengatakan panjang lebar sama kamu. Saya akan menuntut Alexander! Saya akan menutup hotel ini!", kata Azka dengan berapi-api.
"Jangan pak , tolong jangan libatkan pak Alexander! Iya, saya salah sudah mematikan monitor cctv di lorong kamar anda. Tapi saya hanya di suruh oleh seseorang.Saya pun melakukannya karena terpaksa pak."
"Di suruh seseorang? Siapa? Dan apa kamu bilang? Terpaksa???"
Laki-laki itu mengangguk.
"Siapa yang menyuruh mu?"
Laki-laki itu menggeleng."Saya tidak tahu namanya. Orang itu tak memperkenalkan namanya, dia juga memakai masker. Tapi dari yang saya lihat, sepertinya dia masih muda. Tak berbeda jauh usianya dengan saya."
"Kamu dapat bayaran dari dia?", tanya Azka melipat kedua tangannya di dada.
Laki-laki itu mengangguk.
"Berapa kamu di bayar sama dia?"
"Lima ratus ribu pak!"
"Hanya karena uang lima ratus ribu kamu mau di ajak kerjasama melakukan hal bodoh ini? Kamu tidak memikirkan kedepannya hah? Apa akibatnya jika kesalahan kamu ini berakibat buruk dengan orang lain?"
"Maaf pak. Saya tahu saya salah. Tapi saya terpaksa pak. Buat bapak mungkin uang lima ratus ribu itu tak seberapa, tapi buat saya sangat berharga pak."
Azka meletakkan tangannya di saku celana.
"Lalu, bagaimana cara kamu memperbaiki kesalahan kamu? Kamu saja tidak tahu siapa yang memberi mu perintah?!"
"Maaf pak, tapi saya mohon maafkan saya!", laki-laki itu tertunduk.
Ponsel laki-laki itu bergetar. Wajahnya terlihat terkejut.
"Sebentar pak, saya angkat telpon dari istri saya dulu ya pak!"
Azka tak mengiyakan juga tak melarang.
[Hallo dek!]
[.....]
[Iya sayang, nanti mas cari tambahan lagi. Untuk sekarang belum ada]
[......]
[Di bidan saja ya dek]
__ADS_1
[....]
[Oke, baiklah. Mas pulang sekarang. Nanti mas cari pinjaman dulu ya. Kamu yang sabar ya sayang!]
Laki-laki itu terlihat semakin pucat. Wajahnya nampak kebingungan.
"Maaf pak, saya memang tak mengenali orangnya tapi saya bisa jelaskan ke orang-orang bahwa saya yang sengaja mematikan cctv itu. Agar nama baik bapak terjaga. Saya tidak apa-apa andaikata setelah ini pak Alexander memecat saya. Tapi saya harus segera pulang pak. Istri saya sudah mau melahirkan."
Azka terdiam.
"Kamu yakin akan berkata jujur di depan orang-orang yang berusaha menjatuhkan saya?"
"Iya pak. Yang penting secepatnya saya harus pulang."
"Kamu mau memberikan uang itu untuk biaya melahirkan istri kamu? Apa kamu ngga mikir, itu uang haram? Kamu tega?"
"Maaf pak. Saya terpaksa! Kondisi keuangan keluarga kami akhir-akhir ini kurang baik. Saya nikah muda pak, belum punya pekerjaan yang mapan. Orang tua kami sudah tidak peduli pada kami. Karena kami menikah gara-gara...."
"Tak perlu di lanjutkan!"
"Maaf pak, mari pak. Saya beri kesaksian. Biar saya bisa secepatnya pulang!", kata laki-laki itu.
"Siapa nama kamu?"
"Alman pak!"
"Berikan KTP dan nomor ponsel kamu!"
Alman memberikannya dengan ragu-ragu. Azka melihat KTP Alman, usianya baru dua puluh dua tahun.
"Berapa usia istri kamu?"
Azka menggaruk pelipisnya. Tentu saja Azka jadi teringat dengan istri nya yang masih kecil itu. Bagiamana perjuangan sang istri melahirkan buah hati mereka.
"Kalo kamu tahu istri mu mau melahirkan, kenapa masih ada di sini? kenapa kamu ngga mendampingi nya?", tanya azka kesal.
"Semalam saya udah ke bidan, masih pembukaan satu. Tadi pagi pun sama. Belum ada perkembangan apa pun. Bidan menyarankan agar istri saya di rumah terlebih dulu. Karena di tempat bidan sedang banyak pasien yang juga akan melahirkan."
"Sekarang kamu pulang, saya ikut! Nanti saya ijin sama menejer kamu dan Alex juga!"
"Tapi...pak!"
"Ini, KTP kamu saya sita! Sebagai jaminan kalo kamu tidak sedang mendrama."
Alman pun mengangguk. Sambil berjalan menuju parkiran, Azka menghubungi si pemilik hotel yang tak lain teman kuliah nya dulu.
Kedua pria beda generasi itu sudah berada di depan sebuah kontrakan kecil. Azka menatap sekeliling nya.
"Silahkan pak!", kata Alman. Azka pun mengikuti nya. Alman mengetuk pintu.
Tok...tok..
"Dek, mas pulang!", sapa Alman. Hari sudah mulai gelap.
Alman langsung membuka pintu.
"Mas...!", suara seorang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
"Ya Allah dek!", Alman menghambur ke arah istri nya yang terlihat sangat kesakitan.
"Sakit mas....!", kata perempuan itu lirih.
"Maafin mas, ayo kita ke bidan dek!"
"Tapi bagaimana mas, kita belum punya uang."
"Itu pikirkan nanti dek. Yang penting kamu dan anak kita selamat!", kata Alman menenangkan.
Azka keluar dari kontrakan itu.
"Gendong istrimu, biar saya panggilkan taksi di depan."
"Tapi pak, bagaimana..."
"Ngga usah mikirin ongkos atau biaya persalinan istri mu! Cepat bawa dia!"
Alman pun memapah istrinya.
"Sebentar dek, mas kunci pintu dulu ya!"
Istrinya pun mengangguk samar. Rasa sakit nya seolah sudah tak sanggup lagi di tahan.
Alman menggendongnya istrinya menuju jalan depan yang di lewati kendaraan umum. Tepat saat Alman keluar gang, azka sudah menghentikan taksi.
"Cepat man!", titah Azka. Alman pun memasukan istrinya.
Azka ikut masuk ke dalam taksi tersebut.
"Sakit mas....!", kata istri Alman.
"Sabar ya sayang!", kata Alman sambil mengusap pelan kepala istrinya yang berkeringat itu.
"Di bawa ke mana ini pak? rumah sakit atau bidan?"
"Rumah sakit!", Jawa Azka.
"Bidan!", jawab Alman. Si sopir taksi itu pun bingung.
"Yang bener yang mana?", tanya si sopir.
"Yang paling dekat mana?",tanya azka.
"Rumah sakit bunda pak!", kata si sopir.
"Ya udah ke rumah sakit saja!", pinta Azka.
"Tapi pak....!", Alman memotong ucapan Azka.
"Saya yang akan menanggung biaya melahirkan istri kamu! yang penting istri dan anak kamu selamat!"
Alman tiba-tiba melelehkan air matanya.
"Ya Allah pak, terimakasih! terimakasih banyak! Padahal saya sudah...."
"Tak perlu di lanjutkan! saya hanya ingin menyelamatkan istri dan anak kamu. Saya paham sekali rasanya mendampingi istri yang akan melahirkan. Istri saya juga seumuran sama istri kamu. Bahkan setahun lebih muda!"
__ADS_1
Alman menghapus air matanya.
"Sekali lagi terimakasih pak!", kata Alman. dia begitu bersyukur bertemu dengan Azka, padahal dia sudah bersekongkol untuk menjatuhkan nya dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal.