
"Masyaallah.... bagus banget rumahnya mas...!", seru ku.
"Vila ini punya kamu juga sayang!", kata azka sambil menggandeng ku menuju kedalam. Sedangkan perempuan tadi sudah terlebih dulu di dalam.
"Silahkan tuan Azka, non Najma!",kata perempuan itu.
"Sayang, ini Teh euis. Dia yang bantu kita menjaga vila ini. Suaminya teh Euis juga bantu di sini."
Aku mengangguk saja.
"Teh Euis, kang Diding mana?"
"Ada tuan , lagi nangkep ikan. Biar nanti bisa teteh masak buat makan siang. Em...non Najma mau di masakin apa ya?"
"Saya mau ikan bakar sama sambel terus lalapan aja Teh!"
"Nanti teteh siapin Non. Kalau begitu permisi, teteh buatkan minum dulu ya Non, tuan."
"Iya teh, makasih!"
Azka menggandeng ku lagi menuju balkon yang berada di lantai atas.
"Mas....indah banget!", aku berdiri melihat sekeliling ku. Aku suka suasana seperti ini. Hawa nya yang dingin, membuat ku merasa tenang. Tiba-tiba Azka memelukku dari belakang.
"Kamu suka?", tanya Azka sambil meletakkan dagunya di bahuku.
"Suka mas. Aku suka suasana begini. Sejuk, nyaman."
"Heum...mau tinggal di sini?"
"Sama kamu?"
"Nggak. Aku kan kerja di Jakarta sayang!", usap Azka di kepala ku.
"Nggak mau. Aku maunya sama kamu. Mau di mana aja yang penting selalu dekat sama kamu."
Azka tersenyum kecil.
"Kita akan sering-sering ke sini. Apalagi kalau anak kita udah lahir!"
__ADS_1
Cup! Azka mencium puncak kepalaku.
"Permisi tuan, non. Ini minumannya. Kalian istirahat saja. Nanti kalau makan siang Sudah siap, saya panggil ya."
"Makasih ya Teh!", kataku.
"Iya Non. Saya permisi kalau begitu."
Teh Euis tidak ingin mengganggu keromantisan majikannya. Yang dia tahu, tuan nya itu dulu pria yang dingin dan jarang bicara. Tapi setelah menikah, dia banyak berubah dan lebih hangat.
"Sayang, kamu masih pengen sate?", tanya Azka masih dalam mode memelukku.
Aku menggeleng pelan.
"Kan nanti teh Euis bikin ikan bakar. Sama aja sate, kan yang penting di bakar-bakar gitu!"
"Owh....bener ya? Aku ngga mau anak kita ileran."
Azka mengusap-usap perutku.
"Teh Euis sama suaminya tinggal di sini juga?"
"Owh....!", aku hanya ber'OH' saja.
"Kenapa sayang?"
Azka masih tak mau melepaskan pelukannya dari ku. Tapi herannya aku merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan tak ada risih sama sekali meskipun tadi ada teh Euis.
"Jadi, nanti malam kita hanya berdua gitu?"
"Ya iyalah. Kan emang tujuan nya gitu."
"Hem...tujuan apa?"
"Kita kan mau bulan madu sayang."
"Bulan madu?"
"Heum! Kita habiskan waktu berdua saja."
__ADS_1
"Jangan bilang kamu mau minta hak mu ya mas!"
Azka terkekeh geli mendengar ucapan ku tadi.
"Kamu kan tahu konsep bulan madu kaya gimana?"
"Iya sih. Tapi nggak harus sekarang juga kan?", tanyaku. Soalnya tangan Azka sudah mulai bergerilya.
"Di mulai dari sekarang. Semalam kan kamu mau ngasih, tapi aku selesai mandi kamu sudah mimpi indah."
Hahahah iya, semalam aku ketiduran tanpa menunggu Azka selesai mandi.
''Ya udah, tapi nggak di sini juga kan?", bisikku pada azka agar di menghentikan sebentar aktivitas nya bergerilya.
"Di kamar lah sayang!"
"Di mana kamarnya?"
"Itu!", tunjuk Azka dengan dagunya.
"Minum teh nya dulu deh mas. Kasian teh Euis udah bikinin juga."
"Mau di bawa ke kamar aja?", tawar Azka.
"Boleh deh!"
Akhirnya Azka melepaskan ku dari pelukannya. Andai dia tak membawakan minuman ke kamar, sudah di pastikan dia akan memelukku terus.
Aku membuka pintu kamar kami. Kamar yang cukup luas. Di sana sudah terpasang tempat tidur yang besar dan rapi. Aku berjalan menuju jendela yang berada di sebelah tempat tidur.
Azka meletakkan kedua gelas minuman nya di atas meja. Tak lupa ia berbalik ke pintu lalu menguncinya. Setelah itu, dia kembali menghampiri istrinya. Lalu memeluknya lagi dari belakang.
"Bisa kita mulai?", tanya Azka.
"Iya."
Dan setelah itu mereka pun beranjak ke tempat tidur. Selanjutnya di skip....
****
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya ya 🙏🙏🤗🤗