Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Azka & Nisa atau Azka & Najma?


__ADS_3

Najma


Aku menuruni tangga dengan memilin-milin cincin yang disematkan semalam oleh mamanya om Azka. Aku hampir tak percaya, masa iya aku akan menikah dengan om Azka?


Memangnya, om Azka sudah move on dari bunda? Bahkan kematian bunda saja masih dalam hitungan hari.


Otakku masih terus berusaha berpikir. Bagiku, mengerjakan algoritma seperti ku menjetikan jari dibandingkan dengan memikirkan hal memusingkan ini.


Samar-samar kudengar bibik yang sedang menelepon di dapaur. Tangannya kirinya memegang ponsel, sedang tangan kanan masih berkutat dengan wajan.


Iseng-iseng ku dengar obrolan bibik dengan....siapa ya? Mungkin anaknya.


"Iya neng, Mak pasti pulang dampingin kamu lahiran. Tapi kalau sekarang-sekarang teh Mak belom bisa neng."


"......"


"Ya sayang atuh neng. Bukan gitu , Mak cuma karunya ka non Nana tea. Mun Mak balik, non Nana jeng saha diimah. "


"...."


"Nggak boleh gitu atuh, almarhumah Bu nisa kan selama ini baik sama keluarga kita."


"...."


"Iya, coba nanti Mak bujuk. Semoga non Nanaaj segera menikah sama pak Azka. Biar Mak cepet-cepet nemenin kamu neng."


"....."


"Iya, insyaallah. Walaikumsalam."


Bibik melanjutkan kegiatan masaknya.


"Non, sudah bangun. Hayo atuh sarapan dulu."


"Bik, bibik mau pulang kampung?"


"Iya non, maaf ya non. Bibik dilema kalau kaya begini non."


"Bibik tenang aja bik, Nana bisa jaga diri kok."


"Bukan gitu non, sesuai amanat Bu Anisa saya harus memastikan non sudah menikah dengan pak Azka terlebih dahulu. Soalnya bagi ibu, pak Azka adalah orang yang tepat meneman non. Insyaallah saya balik lagi kesini, saya akan mengabadikan diri di keluarga Non. Tapi, kali ini saya harus pulang kampung. Kasian menantu dan calon cucu saya."


Aku menarik nafas panjang.


"Memang apa yang dibutuhkan buat menikah bik?"


"Maksud nya?"


"Dokumen-dokumennya, sama prosedur nya?"


"Oh, itu. Kalau non setuju mah, biar nanti pak Azka yang ngurusin non. Non terima beres saja."


"Tapi ...Nana nggak mau ada pesta bik."


"Non...."


"Om Azka menikahi Nana hanya karena memenuhi amanat bunda.Memang bisa ya bik, pernikahan tanpa cinta?"


"Eh...atuh jangan putus asa begitu. Allah maha pembolak balik hati non. Bisa saja, setelah kalian menikah malah makin bucin satu sama lain."


"Hah? Bibik tahu bucin juga?"


"Tau atuh Non."


"Memang prediksi lahiran cucu bibik kapan?"


"Sekitar sepuluh hari lagi non, bisa kurang bahkan bisa melebihi prediksi."


"Ya udah, bibik bilang sama om Azka saja. Terserah kapan mau menikah, pokoknya sebelum bibik pulang kampung."


"Ya Allah ,bener non? Alhamdulillah."


"Iya bik."


"Nanti bibik sampaikan sama pak Azka ya non."


"Iya bik. Ya udah, Nana berangkat ya. Assalamualaikum."


"Lho, nggak sarapan dulu non?"


"Ntar ambil roti aja di depan bik."


Aku pun berlalu meninggalkan rumah ku menuju toko.


"Pagi bos...!", sapa sisi.


"Bos lagi... bos lagi....", ucapku.


"Iya ,Na.....", sahut sisi.


"Nah, gitu kan enak di denger."


"Bagi roti isi cokelat sama susu panas dong Ka. Cepet ya, nggak pake lama."

__ADS_1


"Iya bos bawel. Perasaan bunda nggak gini-gini amat."


"Yey... biarin, bunda ya bunda ,Nana ya Nana lah."


"Nih non, totalnya tiga puluh ribu. cepet bayara ",canda sisi.


"Ogah.....", kutinggalkan saja mereka. Lalu ku naiki motor om Azka .




Disekolahku



"Pak Budi, nitip kunci motornya om azka ya...eh... maksud saya pak Azka."



"Iya Neng.Nih, tukeran sama kunci motornya neng."



"Aduh, pak Budianto emang baik banget sih", rayuku.



"Nggak usah ngerayu neng, cinta bapak cuma buat nyonya dirumah. Hahahah."



"Pak Budi bisa aja becandanya. Pokoknya terimakasih ya pak."



"Sama-sama neng."


Aku berjalan menuju ke kelasku.



"Tumben siang Na?", tanya Aurel.



"Iya, kesiangan. Tapi ini belum mulai kan?"




Tak lama kemudian bel berbunyi nyaring.



"Selamat pagi anak-anak." sapa Azka.



Deg...deg...deg...


Jantungku berpacu lebih cepat. Kenapa om Azka yang mengajar? Bukan kan ini jadwal pak Sam?



"Selamat pagi pak..."



"Heran ya, kenapa saya ada disini? Padahal ini jadwal pak Sam mengajar. Tapi, sayangnya beliau sedang ada kepentingan keluar maka saya ditunjuk untuk mengajar menggantikan beliau sementara."



"Memang bapak jago matematika kaya pak Sam?",tanya seorang cowok duduk dibelakang.



"Bisa sih, tapi nggak pinter banget lah. Oke...kalian buka halaman 44. Kalian kerjakan terlebih dahulu, setelah itu baru kita bahas bersama. Mengerti?"



"Siap pak."



Om Azka menatap ke arah ku sambil memilin-milin cincin dijari manis nya.'Sepertinya dia sedang bahagia sekali."



Sebagian sudah mengerjakannya dengan baik. Bukannya aku sombong, aku sudah paham dengan sekali melihatnya.


__ADS_1


Om Azka menyampaikan materi dengan begitu baik. Tak kalah dengan pak Sam, Meskipun om Azka adalah guru bahasa Inggris.



"Pak, itu dijari ada cincinnya tuh. Perasaan kemarin nggak ada. Bilangnya bmasih single?", tanya salah seorang siswa.



"Iya, ini cincin pertunangan saya."



"Yah....", kaum hawa penghuni kelas ini sebagian merasa kecewa. Kecuali Aku mungkin?



"Kami baru bertunangan semalam. Insyaallah, Minggu ini kami akan segera menikah."



Hah? Minggu ini? Mataku terbelalak.


Sedangkan om Azka melempar senyum padaku Entahlah, apa ada yang menyadari tingkahnya padaku.



Pelajar hari ini selesai. Seperti biasa, aku akan berjamaah solat ashar dimushola sekolah. Lagi-lagi aku beradu pandang dengannya.



Sholat pun usai. Aku kembali memakai sepatuku. Meskipun aku memakai rok lebar, tak menyulitkan ku mengendarai motor sport ku.



Aku pun bangkit dari dudukku setelah selesai memasang sepatuku.



"Nana....", panggil seseorang.



Aku menengok ke arah yang memanggilku.



"Om..", panggil ku balik.



"Bibi sudah bicara sama saya. Kamu siap kalau Minggu ini?"



"Terus terang saya masih bingung om. Tanah kuburan bunda masih basah, kita malah sibuk memenuhi wasiat bunda yang tak masuk akal."



"Justru itu Na. Kita penuhi wasiat bundamu."



"Tapi om...kita menikah tanpa landasan cinta. Memang bisa? Lagi pula, memang om sudah move on dari bunda? "



"Semua soal waktu saja Na. Percaya sama saya."



"Lalu, inisial di cincin ini? A untuk Azka. N untuk Nisa atau Najma om?"



Azka menatap ke arahku. Apakah yang ada dalam pikiran nya?



"Tentu saja nama kita. Kalau Anisa kan A & A Na."



"Ya sudah ,kamu pulang saja. Kunci sudah saya ambil dari oak budi."



"Iya om.Makasih. Pernis, assalamu'alaikum."



"Walaikumsalam."


__ADS_1


Ya Allah, apa ini keputusan yang benar? Aku masih ragu ya Allah.


__ADS_2