Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Nama Bayi


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar, istri Alman sudah melahirkan bayi mereka. Azka sendiri menunggu di depan ruangan. Ucapan syukur dan hamdalah itu terus terucap dari bibirnya. Azka sempat meninggalkan ruangan bersalin saat azan magrib berkumandang, ia solat Maghrib terlebih dulu sampai akhirnya anak Alman lahir.


Pria bertuhan tegap itu duduk di bangku sambil memejamkan matanya. Dia lelah karena emosi sejak kehamilan siang tadi. Tapi ternyata kondisi istri Alman justru lebih menarik atensinya. Perjuangan istrinya saat melahirkan beberapa waktu yang lalu begitu terbayang. Pasti istri Alman mengalami dan merasakan hal yang sama.


Pintu ruangan terbuka. Alman keluar dari ruangan bersalin. Ia sedikit berlari lalu bersimpuh di depan kaki azka. Ayah dari Azki itu terkejut saat mendapati Alman bersimpuh di depan kakinya sambil tergugu. Ya, Alman menangis. Jujur, Azka merasa malu saat mata-mata asing menatap nya dengan pandangan curiga.


"Alman, kamu apa-apaan sih? Bangun!", pinta Azka. Alman pun menuruti perintah Azka.


"Pak Azka, saya benar-benar terimakasih sama bapak. Bapak sudah baik banget sama saya. Alhamdulillah anak dan istri saya sehat, itu pun berkat bantuan pak azka. Saya tidak tahu bagaimana jika saya tidak bertemu dengan bapak."


Pandangan sini orang di sekitar mendadak berubah.


"Sudah-sudah, ngga usah kamu pikirkan! Sekarang kamu sudah jadi ayah. Kamu harus lebih bertanggung jawab, cari uang yang halal. Karena dari nafkah yang kamu berikan pada mereka, akan menjadi darah dan daging di tubuh mereka. Apa kamu tega kalo anak dan istri kamu di beri uang yang ngga halal?"


Alman menggeleng.


"Sekali lagi terimakasih."


"Iya, ya udah sekarang kita ke ruang administrasi! Sebentar lagi istri mu di pindahkan ke ruang rawat kan?"


Alman mengangguk.


Kedua pria yang terpaut hampir sepuluh tahun itu pun menuju ke ruang administrasi. Alman sempat tercengang melihat biaya melahirkan istri nya ini.


"Pak, banyak sekali?", kata Alman, lebih terdengar gumaman.


"Ya kan emang deposit dulu Man. Kalo emang lebih, nanti juga di balikin!"


Alman mengangguk paham.


"Masih adakan ruangan kelas 1 nya sus?", tanya Azka.


"Sebentar, saya cek dulu ya pak", jawab si suster.


"Mba...ngga usah kelas satu, kelas tiga saja!", tolak Alman. Azka pun jadi bingung.


"Kenapa man? Kamu ngga usah....!", belum selesai Azka bicara Alman sudah lebih dulu memotong nya.


"Maaf pak, tapi itu permintaan istri saya!"

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?"


"Setelah istri saya di pindahkan ke kamar, saya harus menyelesaikan urusan saya dengan pak Azka. Meluruskan semua masalah yang saya buat. Kalo istri saya di kelas tiga, dia tidak akan kesepian pak. Akan banyak penghuni ruangan itu. Istri saya tidak akan sendirian selama saya bekerja!"


"Kamu bisa cuti Man, saya telpon Alex!"


"Iya, saya tahu tentang cuti itu pak. Tapi saya kan harus menyelesaikan pekerjaan saat terhadap pak azka. Saya banyak hutang budi sama bapak."


Azka menghela nafas.


"Jadi gimana pak?", tanya si suster yang dari tadi jadi pendengar yang baik. Matanya fokus pada wajah tampan Azka yang berwibawa.


"Ya sudah kelas tiga saja!", jawab Azka. Alman pun tampak tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih pak!", kata Alman. Setelah keduanya selesai, mereka berdua kembali ke ruangan bersalin. Ternyata istri dan anaknya siap pindah kamar.


Di dalam ruangan kelas tiga itu, ada dua pasien yang juga baru saja melahirkan. Jadi, istri Alman tidak takut jika harus di tinggal Alman bekerja.


"Dek, mas pergi sebentar sama pak Azka buat menyelesaikan kerjaan mas. Setelah itu, mas langsung ke sini lagi."


Istri Alman mengangguk.


[Assalamualaikum sayang]


[Walaikumsalam, di mana mas?]


[Di rumah sakit]


[Mas kenapa? Mas sakit?]


[Ngga, tadi istri nya teman mas melahirkan. Mas temenin ke sini]


Alman dan istri berpangkat, 'teman'? Mereka dia anggap teman oleh pak Azka?


[Sudah melahirkan sekarang?]


[Alhamdulillah sudah, nih...liat Dedek bayinya]


Azka mengubah arah kamera pada bayi Alman.

__ADS_1


[Masyaallah, cantik banget!!! Beneran cewek kan mas?]


Azka bingung, dia tidak tanya jenis kelamin anak Alman. Alman pun paham tatapan azka ia pun mengangguk.


[Iya sayang! Azki mana, ayah kangen!]


[Udah di box yah]


Gantian Nana yang memutar arah kamera nya.


[Ya udah deh]


[Kangen ya? Makanya pulang!]


[Hehehe iya sayang, besok mas pulang kok]


[Ya udah ya mas, salam buat teman mas dan bayi nya]


[Iya sayang]


[Ya udah, aku mau tidur dulu. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Azka kembali fokus pada Alman.


"Sudah di persiapkan namanya?", tanya Azka. Alman dan istrinya saling melempar senyum.


"Azkandira Almadiina", sahut Alman mantap.


Azka mengernyitkan alisnya.


"Ada bau-bau nama saya?"


"Iya, sebagai pengingat bahwa kehadiran putri kamu juga karena di bantu oleh pak Azka. Dan semoga kebaikan bapak bisa di teladani oleh putri saya kelak pak."


"Masya Allah tabarakallah!"


Tampaknya sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka. Setelah itu, Azka dan Alman kembali ke hotel untuk menyelesaikan misi mereka yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2