
Azka mandi di kamar mandi bawah. Sesuai dugaannya, istri kecilnya saat ini tengah merajuk. Wajar jika ia emosi. Selain karena cemburu, mungkin juga hormon wanita hamil itu penyebab ia mudah emosi.
"Pak, non Nana belum makan apa pun dari pagi, bibi anter makanan ke kamar nya ya?", tanya bibi pada tuannya.
"Iya bik, mungkin dia masih marah dan butuh menyendiri. Saya takut jika saya yang kesana malah Nana semakin emosi."
"Iya pak. Sebentar bibik siapkan dulu makannya."
Bibik pun undur diri dari hadapan Azka. Dia menyiapkan makanan untuk nyonya kecilnya.
Azka yang bingung ingin mengerjakan apa hanya bisa termenung sambil menatap televisi.
Entah apa yang sedang dilakukan oleh istri nya dari pagi. Nyatanya, saat Azka mencoba mengetuk pintu kamar nya hanya diusir agar tak mendekati dulu.
Azka memijat pelipisnya. Pikirannya pecah kemana-mana. Sampai akhirnya....
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam, papa!" ,Azka langsung berdiri.
"Kamu itu dari mana sih Ka, papa hubungi kamu dari tadi kenapa ngga bisa? Gara-gara kamu, semua yang papa rencana kan gagal Azka. Gagal!", bentak papa.
"Memang ada apa sih pa? Ngga biasanya papa emosi seperti ini?"
"Kamu tanya ada apa???"
"Iya Azka tanya kenapa papa bisa seemosi ini?"
"Gara-gara kamu ngga angkat telpon papa, rencana untuk melepaskan Vicky gagal total. Sudah ada yang menjamin kebebasan untuk nya! Dan itu artinya... memiskinkan si koruptor itu juga gagal Azka....gagal!", papa meremas rambut nya yang sudah mulai di tumbuhi uban.
"Siapa yang sudah menjamin kebebasan Vicky pa?"
"Papa ngga tahu, coba aja kamu bisa papa hubungi dari pagi. Pasti semua ngga begini!", papa masih saja marah-marah.
Bibik pun datang memberikan air putih untuk papa majikannya.
"Minum tuan, agar lebih tenang!", ucap bibik. Papa pun menenggak segelas air putih hingga tandas.
"Makasih bik!", ucap papa.
"Sama-sama tuan, permisi!", bibik pun meninggalkan kami berdua.
"Sebenarnya kamu ke mana sih Ka? Papa sudah putus asa telpon kamu! Ke hp Nana juga, sama aja. Ngga di angkat!"
"Ponsel Azka di kamar pa. Semalam mati, abis di charge lupa nyalain lagi."
"Masa iya sampe lupa banget? Kaya ngga tiap saat pegang hp!", papa masih tak terima penjelasan ku.
__ADS_1
"Aku sama Nana lagi berantem Pa. Dari pagi Nana mengurung diri di kamar. Jangankan ambil ponsel, Azka aja mandi di kamar mandi belakang!", Azka memijat kembali pelipisnya.
"Berantem? Berantem kenapa sampai Nana bisa semarah itu? Aduuuh...kenapa makin runyam aja sih Ka!", sekarang giliran papa yang memijat pelipisnya.
"Memang aku yang salah pa. Dan...Nana juga salah paham."
"Kenapa?", sekarang papa sudah memelankan suaranya. Sudah tak menggebu-gebu seperti tadi.
"Jadi, tadi pagi aku ke kamar Anisa pa. Aku hanya merasa bersalah karena tidak bisa melindungi dan menjaga Nana dengan baik seperti amanah Anisa. Seandainya saja aku tak terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, aku lebih bisa memperhatikan istri dan calon anakku pa!", jawab Azka lesu.
"Jadi, intinya...Nana sudah salah sangka? Cemburu? Marah? Kalo papa boleh bilang, wajar Nana marah!"
"Lho...kok gitu sih pa?", tanya Azka.
"Siapa pun akan marah jika tahu pasangan nya masih mengingat masa lalunya!", kata papa sambil membenarkan posisi duduknya.
"Tapi...Nana sudah berpikir yang negatif sama aku pa. Aku hanya merasa tidak becus menjaga amanah Nisa. Itu saja! Bukan mengenang masa lalu ku dengan Anisa pa!"
"Kamu sudah dewasa Ka! Jangan biarkan masalah kecil jadi semakin besar. Kamu harus jelaskan pada Nana kalo prasangka nya salah!"
"Ngga usah Pa!", kataku sambil turun dari tangga.
"Sayang...!", Azka langsung merengkuh ku dalam pelukannya.
"Maafin aku ...mmass!", kataku pelan. Azka tersenyum.
Aku menggeleng pelan.
"Harusnya aku mendengar penuturan mu mas!"
"Ehem...ada papa di sini!", sindir papa. Aku melerai pelukan Azka. Lalu berjalan ke arah papa. Tak lupa ku cium punggung tangan papa.
"Papa!", usai menyalami aku memeluk papa. Papa pun mengusap puncak kepalaku.
"Sayang, dengerin papa!", kata papa memegang kedua lenganku.
"Semarah apa pun, tolong! Lain kali, beri orang lain untuk menjelaskan apa pun itu. Setelah penjelasan nya selesai, kamu tinggal menentukan sikapmu. Ada masalah itu di selesai kan bukan di hindari Nak! Papa tahu ,kamu dewasa sebelum waktunya. Tapi pelan-pelan kamu harus belajar. Menikah itu tidak tentang romantisme, tapi saling percaya dan saling menghargai Nak!"
Aku mengangguk mendengar nasehat papa mertua ku yang sudah ku anggap papa kandung ku sendiri.
"Ngga usah lama-lama juga kali Pa pegang-pegang istriku!", Azka menarik ku dari hadapan papa.
"Dasar bucin akut! Sama papa aja cemburu!", sindir papa
"Biarin!", sahut Azka.
"Pa, maafin Nana. Gara-gara Nana semua yang sudah papa lakukan malah berantakan ngga sesuai dengan harapan papa."
__ADS_1
"Ya udah lah Nak, mau gimana lagi. Mungkin Tuhan punya rencana untuk kalian yang lebih baik. Papa harap tidak akan pernah terjadi lagi hal semacam ini."
"Iya Pa."
"Ya udah papa mau balik ke kantor! Soal Vicky, lain kali papa pikirkan lagi."
"Makasih sekali lagi ya Pa!", kataku.
"Iya sayang, bagi papa. Keselamatan kamu dan calon cucu papa sangat berharga!"
Azka merengkuh bahuku.
"Papa balik ya, Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam, hati-hati pa!", pesan kami.
Kami berdua pun mengangguk.
Sepeninggal papa....
"Sayang , kamu udah makan belum? Kasian anak kita kalo belom di kasih makan dari pagi?", Azka mengusap perut ku.
"Udah masss....! Mana bisa aku nahan laper."
Azka menowel hidung ku.
"Kamu tega sayang, bikin aku mandi di kamar mandi belakang!", katanya dengan nada suara merajuk.
"Iya maaf....!", kataku mengeratkan pelukan ku.
"Heheh mas kangen Na...!", bisiknya. Aku tersenyum di pelukan suamiku.
"Aku juga mas. Semalam udah aku pancing, kamu nya ngga peka. Di tambah tadi pagi nongkrong di kamar bunda. Makin sensi kan jadinya!"
"Ooooh....jadi udah dari semalam kangen pengen di jenguk Daddy? ", Azka mengusap perut ku.
"Kamu ih....!", aku mencubit pinggang Azka. Tiba-tiba saja Azka mengangkat badan ku.
"Masss!", pekik ku.
"Daddy kan harus jenguk Dede bayi mommyyy!", kata Azka sambil membopong ku menuju ke kamar di lantai atas.
"Heum! Terserah kamu !", kataku.
"Iyalah, kamu pasrah aja ya sayang! Anggap aja hukuman karena udah bikin aku di luar kamar dari pagi."
"Iya Daddy....!", sahut ku.
__ADS_1
Kalian tau lah apa kelanjutannya....🤭🤭🤭