
Aku mengunggah foto Azki di wa storyku. Meski aku menutup wajah putraku dengan stiker sih. Ada yang bilang, takutnya nanti bisa kena penyakit 'ain yang justru kebanyakan berhubungan dengan magis dan sulit di jelaskan dengan akal bagi orang yang tak mempercayainya.
Tak lupa ku bubuhkan caption nama anakku.
Welcome to the world our Prince AZKI PRADIPTA GUSTIAWAN SURYADI 😍😍😍😍
Baru ku unggah beberapa menit, banyak chat yang masuk ke ponsel ku. Berbagai ucapan selamat dan doa mereka ungkapkan padaku.
Tapi ada yang menarik perhatian ku. Aurel, sahabat dekatku. Dia bahkan tak mengomentari apapun. Hanya dilihat!
Apa iya dia masih marah padaku?
"Kenapa kok cemberut sayang?", tanya Azka padaku. Aku baru saja meletakkan ponselku. Beberapa menit yang lalu baby Az baru selesai meminta hak nya pada ibu kandungnya ini.
"Mas!", panggil ku lirih.
"Heum? Apa sayang?", tanya Azka. Sebisa mungkin dia harus bisa menjaga mood istrinya yang baru melahirkan. Dari yang dia baca, istri yang baru saja melahirkan cenderung terserang baby blues. Dan Azka tak mau istrinya mengalami hal tersebut Dia harus bisa membuat istrinya selalu berpikir positif saat menghadapi segala sesuatu.
"Mas, kayanya Aurel beneran ngga mau temenan sama aku lagi."
Azka menatap wajah istrinya, lalu mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Ngga usah mikirin yang ga penting! Mas yakin kok, Aurel bakal jadi teman baik buat kamu seperti biasanya. Hanya saja mungkin sekarang dia sedang tidak ingin di ganggu sayang."
Azka mengusap kepala ku.
"Iya mas. Aku harap, Vicky ga nyakitin Aurel."
"Jangan berprasangka buruk sayang. insyaallah Aurel baik-baik saja. Apalagi mereka sudah saling mengenal sejak kecil."
Aku mengangguk, semoga apa yang ku cemas kan tidak terjadi pada sahabat ku.
.
.
"Permisi Om, Tante!", sapa Vicky saat ia baru memasuki rumah Aurel.
"Eh, Vic! Masuk gih!", kata mama Aurel.
"Aurel nya ada Tan?", tanya Vicky.
"Ada, kayanya habis mandi deh."
Vicky mengangguk.
__ADS_1
"Om sama Tante mau pergi?", tanya Vicky dengan wajah sopannya.
"Iya, kami mau keluar kota Vic. Biasa urusan bisnis lah", jawab papa Aurel.
"Eum, terus kalo om dan Tante pergi Aurel sama siapa dong?", tanya Vicky basa basi.
"Ada si mbok. Cuma tadi pagi dia ijin ada acara paguyuban apa gitu lah, sesama perantau apa gimana. Baru balik ntar malem kayanya. Kamu mau pergi sama Aurel?".
Mama Aurel memasukan tas nya ke dalam mobil lebih dulu.
"Niatnya sih iya tan. Tapi liat nanti deh. Kayanya mau hujan."
"Ya udah Vic, temenin Aurel deh kalo gitu. Mau jalan juga silahkan, tapi hati-hati ya kalo pergi."
"Iya om!", sahut Vicky.
"Kami jalan dulu ya!", pamit mama dan papa Aurel.
Setelah keberangkatan kedua orang tua Aurel, Vicky pun masuk ke rumah kekasihnya itu. Beberapa kali ia memanggil Aurel. Tapi tetap tak ada sahutan. Akhirnya, Vicky masuk ke kamar Aurel.
Ternyata sang kekasih sedang memakai headset nya sambil tengkurap. Pantas saja ia tak mendengar panggilan Vicky dari tadi.
Mata Vicky tertuju pada pakaian Aurel yang menurutnya sangat seksi. Atasan tank top dan hot pants. Setiap mata pria normal pasti akan tergiur dengan pemandangan seperti itu.
Sisi jahat Vicky muncul. Ia meraih ponselnya. Dalam posisi seperti itu, Vicky mengambil foto dan video Aurel. Setelah itu, ia menghampiri Aurel.
"Kak Vicky? Kapan datang?", Aurel langsung duduk di depan Vicky.
"Sejak sebelum papa dan mama mu berangkat!", jawab Vicky.
"Oh ya? Dari tadi dong?", tanya Aurel lagi.
"Ya, lumayan!", jawab Vicky. Mata Vicky tak konsentrasi dengan obrolan mereka berdua. Ia fokus pada sesuatu yang menyembul di bagian tubuh atas Aurel. Aurel yang mulai menyadari pun akhirnya salah tingkah.
"Eum, sorry kak. Aurel ganti baju dulu!", kata Aurel hendak turun dari ranjangnya. Tapi belum sempat Aurel turun, Vicky mencegahnya.
"Buat apa ganti baju heum?", Vicky mengusap pipi chubby Aurel. Aurel yang belum pernah di perlakukan seperti itu pun hanya terdiam.
"Aku ingin bukti keseriusan cinta mu rel", bisik Vicky di samping telinga Aurel.
"Keseriusan apa kak?", tanya Aurel. Vicky semakin mendekati Aurel.
"Keseriusan hubungan kita!", jawab Vicky sambil memain-mainkan rambut Aurel.
"Maksud kak Vicky apa?", tanya Aurel lagi. Tanpa menjawab apa pun, Vicky langsung mengeksekusi Aurel yang masih lugu.
__ADS_1
Dengan modal kepercayaan karena kedua orang tua masing-masing saling mengenal, akhirnya Aurel menuruti keinginan kekasihnya itu.
.
.
"Azki...cucu Oma yang paling tampan!", suara mama memenuhi ruangan dimana aku di rawat. Aku hanya mampu tersenyum pada ibu mertua ku itu. Masa iya mau kita omelin??
"Mama, suara mama tuh kenceng banget tahu ngga?", gerutu Azka yang duduk di samping ku.
"Apaan sih? Orang mama seneng-seneng aja gitu ketemu cucu mama."
"Seteeerraahh mama!", ujar Azka. Aku hanya tertawa melihat tingkah Azka yang makin tua malah seperti anak-anak.
"Btw kapan Azki bisa di ajak pulang?", tanya mama sambil mengusap pipi Azki.
"Insyaallah besok bisa pulang kok ma. Nana hanya tinggal pemulihan saja ma."
Mama mengangguk-angguk saja.
"Pulang ke rumah mama kan Na?", tanya mama lagi. Aku melirik Azka.
"Eum...maaf ma. Kayanya kita balik ke rumah deh. Kan nanti Bibik yang bantu jaga Azki."
"Kenapa ngga pakai jasa baby sitter?Ngga mampu kamu Azka?" sindir mama.
"Ya Allah ma, ngga gitu juga kali."
Setelah berunding, kami memang bersepakat untuk tinggal di rumah ku.
"Maaf ya ma. Bukan gimana-gimana. Tapi biar bibik saja dulu yang bantu jagain Azki."
"Tapi kasian si bibik, nanti kerjanya tambah banyak dong sayang?", kata mama lagi.
"Insyaallah urusan pekerjaan rumah tangga bisa di bantu sama anak-anak toko. Lagi pula aku juga bisa kali mah ngerjain kerjaan rumah." Azka pun lebih setuju jika aku di rumah ku aja.
"Ya sudah lah, tapi kalo butuh bantuan mama tolong bilang ya!"
"Siap ma!", sahutku dan Azka kompak.
"Baby Az, bentar lagi kita pulang. Oke???", kata Azka yang mengupas pipi anaknya itu.
Mama ngga nyangka kamu bakal berubah secepat ini Azka. Bahkan kamu memberi bonus anak perempuan juga cucu buat mama. Semoga kalian senjata bersama dan bahagia. Batin Mama yang dari tadi memandangi kebahagian puteranya.
"Ya udah kalah gitu, mama mau pergi lagi. Kira-kira mama pesan berapa porsi buat acara akekah Azki besok?", tanya mama.
__ADS_1
"Besok Ma?", tanya Azka.
"Iya, lebih cepat lebih baik!", sahut mama lagi. Azka hanya mengangguk setuju.