Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Kesempatan terakhir


__ADS_3

Matahari sudah menyingsing. Azka sudah membawa Azki dalam dekapannya untuk berjemur pagi ini.


"Mau ke hotel apa ke kantor mas?", tanyaku.


"Heum...ke kantor."


Aku mengangguk, lalu kuletakkan kopi di meja teras samping. Ami dan bibik ada di dapur.


"Biar Azki sama aku mas, kamu minum kopinya aja dulu."


Aku meminta Azki dari gendongan Azka.


"Mas akan ke kota M."


Aku yang tadi sedang mengayun-ayun Azki pun berhenti lalu menatap wajah suamiku.


"Kota M, mau ngapain? Ada kerjaan mendadak?"


"Ngga. Mas mau ke kantor polisi buat cabut tuntutan kepada Vicky dan Andara."


Aku memastikan bahwa aku tak salah dengar. Bukankah kemarin dia kekeh tidak mau tahu soal mereka.


"Mas yakin?", aku menarik lengan suamiku.


Ia mengusap kepala ku, lalu mengecup nya bergantian dengan Azki yang juga mendapatkan perlakukan yang sama dari Azka.


"Mas sudah pikirkan semuanya. Tapi mas minta syarat untuk kebebasan mereka."


''Syarat apa mas?"


"Nanti kamu juga tahu sayang. Tapi...kamu ngga apa-apa kan mas tinggal lagi? Nanti malam juga sudah balik. Insyaallah."


"Iya mas."


"Ya udah, sarapan dulu yuk. Kasih Azki ke mba Ami. Kamu juga harus sarapan yang banyak. Biar cepat besar!"


Hah? Apanya yang cepat besar? Omongan Azka terdengar Ambigu.


"Apa yang cepat besar?"


"Heh?! Ya Azki lah sayang, kan kalo asi mu banyak Azki juga kenyang. Jadi cepat besar deh. Emang kamu pikir apa?"


"Owh ...ngga, bukan apa-apa."


Kami berjalan bersama menuju ruang makan.


"Mba Ami....", teriakku.


"Iya non!", Ami lari mendekati ku dan Azki.


"Mba Ami lagi apa?"


"Ngga ngapa-ngapain kok mba, kenapa?",tanya Ami sedikit ketus.


"Aku mau nemenin mas Azka sarapan, nitip Azki sebentar ya!", kataku sambil memberikan Azki. Tampak Ami ngedumel tidak jelas. Tapi detik berikutnya, Azka mengambilnya Azki dari gendongan Ami.


sreeett ...


"Eh???",aku dan Ami sama-sama terkejut.


"Kenapa mas?", tanyaku. Sedang Ami masih cengok.


"Saya ngga butuh orang yang tidak sopan sama majikannya. Kamu di sini tuh di bayar! Saya juga menghargai tenaga kamu. Tapi semakin hari tingkah kamu itu menyebalkan ya! Ngga ada sopan-sopannya sama istri saya. Mentang-mentang dia lebih muda dari kamu, iya?", bentak Azka. Azki sampai terlonjak kaget mendengar suara ayah nya yang cukup keras.


Bibik yang ada di dapur pun langsung menghambur kami.


"Udah mas, ngga usah marah-marah gitu. Mba Ami baik kok. Tapi emang bawaannya dia kaya gitu, udah!", aku mengambil Azki dari Gending Azka.


Ami menunduk, sepertinya badannya gemetar karena takut dengan bentakan Azka.


"Cukup sayang, ngga usah belain dia. Dan kamu, mulai hari ini ngga usah kerja lagi sama saya!", tuding Azka di depan Ami.


"Mas!", aku meraih tangan Azka.


"Kasian mba Ami mas!"


"Kasian kamu bilang? Selama ini aku tahu kelakuan dia Na. Cuma aku diam. Tapi ternyata dia juga punya niat lain. Dia berusia dekatin aku, kamu ngga sadar ?"


Aku terbelalak, menggeleng pelan.


"Tapi ngga mungkin lah mas, mungkin maksudnya mba Ami..."


"Stop! Ambil barang-barang kamu sekarang. Saya akan tetap gaji kamu penuh, tapi secepatnya keluar dari rumah ini."


"Mas...!"


"Maaf pak Azka, maaf...non Nana. Jangan pecat saya. Saya mohon!", Ami memohon sambil bersimpuh di depan kami.


"Mba Ami bangun, jangan kaya gini!",pintaku menyuruh Ami bangun.


"Maaf pak Azka,saya janji akan bersikap lebih sopan pak. Maaf kan saya!", Ami menunduk sambil terisak. Bibik berinisiatif mengambil Azki agar menjauh dari kami yang masih bersuara tinggi.


"Kamu pikir, saya ngga tahu kamu mencoba menggoda saya?", tanya Azka lagi dengn tatapan lebih tajam.


"Mas!"


"Kamu tahu Na. Hampir setiap malam dia keluyuran di dalam rumah dengan pakaian tidak sopan? Padahal dia tahu, di rumah ini ada pria dewasa!"


Ami mendongak dan sedikit terkejut. Ternyata bosnya tahu niat jahatnya itu. Tapi sayangnya Azka tak tergoda sama sekali.


"Benar begitu mba?"


Ami tak menjawab apapun, dia sekarang kembali tertunduk.


Aku mengusap wajah ku kasar. Masalah lain belum selesai, sekarang tambah masalah baru lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kalo mba Ami ngga mau jawab. Saya juga minta maaf kalo mungkin selama ini sikap saya bikin mba Ami ngga nyaman. Dan...saya...akan menuruti kemauan suami saya."


Ami menggeleng.


"Maaf non."


"Silahkan rapikan pakaian mba Ami, saya ambilkan gaji mba Ami sebentar!", aku pun beranjak dari mereka. Lalu mengambil uang yang kusimpan dalam amplop coklat.


Saat aku turun, Ami sudah membawa tasnya. Dia masih terisak. Sedang Azka sepertinya memilih menghindar usai aku memutuskan untuk mengambil uang gaji Ami.


"Maafkan saya dan suami saya ya mba Ami."


Ami menggeleng.


"Saya yang harusnya minta maaf non. Saya sadar, saya salah." Dia pun menunduk.


Aku bersalaman dengan Ami.


"Semoga setelah ini, mba Ami bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Sekali lagi saya minta maaf, dan terimakasih sudah bekerja di sini."


Ami semakin tergugu mendengar ucapan maaf dan terimakasih dari nona bos-nya. Ia sungguh menyesal sudah melakukan hal itu selama ini.


Ami pun pamit pada bibik , setelah itu barulah Ami keluar dari kediaman Gustiawan.


"Mas, aku ngga enak sama mama lho mas. Kan mama yang rekomendasiin mba Ami."


"Urusan mama biar jadi tanggung jawab mas. Mas lebih bahagia kita seperti ini. Kalo kamu capek ngurusin Azki, kita bisa gantian. Minta tolong bibik pun seperlunya. Kamu ngga usah takut merasakan apa yang mama takutkan. Karena mas bukan papa."


Azka mengusap kepala ku.


"Mas janji, akan lebih banyak menghabiskan waktu buat kalian. Tidak akan pernah ada celah dan kesempatan untuk orang lain dalam rumah tangga kita. Mas akan selalu sabar sampai waktu itu tiba. Tidak perlu memaksakan diri harus seperti orang lain. Mas suka apa adanya kamu, lugu nya kamu. Jadi jangan pernah takut kalau mas akan khilaf seperti papa, mengkhianati mama."


Usia mendengar penjelasannya panjang lebar, aku pun mengangguk. Aku sama sekali tak memikirkan kenyamanan Azka selama ada gadis lain di rumah kami ini.


"Iya mas. Maaf kalo selama ini aku ngga ngertiin kamu."


Azka mengangguk.


"Ya udah, sarapan yuk. Habis itu....kita berangkat."


"Berangkat ke mana?", tanyaku bingung.


"Ke kota M. Azki dan bibik di ajak. Tapi nanti kalo kita ke kantor polisi, Azki sama bibik di hotel aja."


"Hah? Aku ikut mas?"


"Iya, mas ngga mau jauh-jauh dari kalian lagi."


"Tapi...Azki masih kecil mas, ngga apa-apa?"


"Insyaallah ngga apa-apa sayang, kita pakai kereta patas aja ya?"


Aku menghela nafas.


.


.


.


Aku dan mas Azka sudah berada di halaman polres kota M. Bibik dan Azki berada di hotel yang tak begitu jauh dari kantor polres ini. Tentu saja Azki tidak mungkin mengijinkan putranya yang masih bayi sekali di ajak ke fasilitas umum seperti itu.


Azka menggandeng tangan ku dengan erat. Bahkan sekarang sudah jam empat sore. Apakah masih ada waktu untuk bisa mengunjungi tahanan.


"Selamat sore pak, ada yang bisa kami bantu?", sapa seorang polisi yang berjaga di frontffice.


"Selamat sore, bisa saya bertemu pak Kapolres?", tanya Azka. Azka cukup mengenal Kapolres setelah kasusnya dia laporkan.


"Maaf, pak dengan bapak siapa?",tanya polisi itu sopan.


"Azka Bhakti, dari Jakarta."


"Baiklah, silahkan duduk pak Azka. Saya akan lapor ke pak Kapolres."


Aku dan Azka pun duduk di bangku yang sudah di sediakan.


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, aku dan Azka diijinkan untuk bertemu dengan pak Kapolres.


Pertemuan kami sangat formal dan berjalan lancar.


"Baiklah, silahkan anda bisa menemui mereka", ujar pak Kapolres.


.


.


Bangku yang berjejer hadap-hadapan sudah ku duduki bersama Azka. Selang beberapa menit, Vicky dan Dara menghampiri kami di bangku dengan di antar oleh kedua petugas.


Aneh memang, Dara yang terobsesi pada azka begitu pula Vicky yang masih memendam rasa pada Nana. Keduanya berkolaborasi untuk merusak hubungan suami istri itu.


"Ka...!",ucap Dara lirih.


Azka meletakkan tangannya di atas meja. Vicky tak berani mendongakan wajahnya apalagi membalas tatapan Azka yang siap memangsanya.


"Gue ngga tahu harus ngomong apa. Yang jelas, gue berada di sini karena istri gue."


Dara mengerjapkan matanya menatap ke arah Nana. Entah apa yang ada di otak Dara saat ini.


"Dan Vicky, kalo bukan karena permintaan Nana dan Aurel sahabat istri ku, sudah kupastikan selamanya kamu akan berada di sini!"


Vicky memainkan jemarinya, tubuhnya bergetar.


"Azka...!", panggil Dara lirih.


"Gue bakal keluarin kalian, tapi dengan syarat!", Vicky dan Dara saling melempar pandangan lalu menatap Azka.

__ADS_1


"Gue mau, Lo Dara! Setelah Lo keluar dari sini. Jangan pernah menampakkan wajah Lo di hadapan kami. Terserah Lo mau ke luar negeri atau ke akhirat sekalipun, gue ngga peduli. Yang pasti, gue mau Lo bikin bukti hitam di atas putih, Lo ga akan pernah ganggu rumah tangga kami lagi. Dan....kalo Lo ngga mau menyetujui syarat itu, gue ngga tahu berapa lama Lo mendekam disini. Kasus Bianca juga bakal gue angkat."


Dara terlonjak, ia menggeleng cepat.


"Terserah Lo!", ucap azka lagi.


"Baiklah Ka. Gue turutin syarat Lo! Gue janji ga akan ganggu kalian lagi. Sorry Na...!"


Nana hanya menatap datar kedua tahanan di hadapannya itu.


"Dan Lo Vicky, saya lakukan ini karena tak ingin melihat Aurel seperti sekarang. Kamu udah hancurkan masa depan aurel. Saya mau kamu bertanggung jawab, tapi ..."


Aku dan Vicky bersamaan menatap Azka.


"Akui kesalahan yang udah kamu perbuat di depan aurel."


Vicky mengangguk.


"Iya pak Azka!", jawab Vicky.


"Na, maafin gue!", kata Vicky tulus. Nana hanya menghembuskan nafasnya.


Azka berdiri di hadapan keduanya, lalu menggenggam tangan istrinya dan beranjak dari sana.


.


.


Masalah Vicky dan Dara sudah selesai. Azka dan Nana merasa kehidupan nya jauh lebih tenang. Bahkan beberapa hari yang lalu, mereka menghadiri acara pernikahan Aurel dan Vicky meski hanya pemberkatan di gereja. Tak ada pesta meriah. Hanya ada pesta kecil yang di selenggarakan di rumah keluarga Aurel.


Saat ini, sepasang suami istri yang berusia cukup jauh itu sedang berdiri menikmati malam di balkon kamarnya.


"Mas...!"


"Heum?"


"Boleh aku tanya sesuatu? Tapi ...kamu janji jangan marah!"


Azka menghadap ke arah istri nya yang sama-sama berdiri di pagar balkon.


"Tergantung pertanyaannya!"


"Ishhhh....ya udah ngga jadi!"


Azka terkekeh melihat istrinya yang merajuk seperti anak kecil, eh...Nana memang masih kecil maksudnya masih jauh lebih muda darinya.


"Emangnya mas bisa marah sama kamu?"


Nana tersenyum kecil.


"Iya sih, eum...mas...boleh aku tahu apa isi wasiat bunda buat kamu?"


Azka tak menjawabnya, menatap istrinya sekilas. Tapi setelahnya, ia pun beranjak dari balkon mengambil sesuatu yang dia simpan di koper milik nya yang sudah lama tak ia buka.


"Baca saja!", kata Azka menyerahkan setumpuk amplop.


"Sebanyak ini?", tanya Nana. Azka mengangguk.


"Tapi ada yang belum mas buka, di sana tertulis...kita baca bersama-sama setelah kita saling menerima satu sama lain Na."


Nana mengernyitkan alisnya.


"Kita sudah lama saling menerima kan mas?", tanya Nana penasaran. Azka tersenyum.


"Iya, bahkan mas lupa sejak kapan kita saling menerima. Makanya mas sampe ngga ingat sama amplop yang satu ini."


Nana mengangguk.


Lalu ia memulai membuka surat dari bunda Anisa. Sesekali ia melirik suaminya yang menahan senyum, tentu saja karena isinya tentang Nana yang bunda nya tuliskan.


Akhirnya, tiba di saat mereka akan membuka amplop yang harus mereka buka berdua.


"Kita baca sama-sama?", tanya Azka pada Nana. Nana mengangguk.


Perlahan kertas itu terbuka. Ada susunan tulisan bunda yang sangat rapi.


*Teruntuk putri bunda dan....menantukku


Jika kalian membuka ini berdua, itu artinya apa yang bunda harapkan sudah Allah kabulkan.


Berjanji lah kalian akan tetap bersama dalam keadaan apa pun. Karena kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan bunda.


Berbahagialah selalu, bunda sayang kalian*.


Kami pun saling berpelukan usai membaca surat terakhir bunda. Entah kenapa aku malah semakin terharu. Bunda menyiapkan azka jauh-jauh hari untuk ku???


"Sayang!", Azka mengusap kepala istrinya yang masih dalam pelukannya.


"Heum?",gumam Nana.


"Kami sadar ngga sih, kok kaya serial kuch kuch Hota hai ya? Bunda bikin surat sebelum meninggal buat kita baca dari waktu ke waktu!", celetuk Azka.


Nana mengurai pelukannya. Menatap aneh wajah tampan suaminya.


"Kenapa?", tanya Azka heran.


"Serial itu ada, aku belom lahir mas! Aku belum pernah nonton juga. Film India kan itu???", tanya Nana dengan polos nya. Dan akhirnya, tawa keduanya pecah.


Mereka menyadari betapa jauhnya usia mereka tapi tetap saja cinta keduanya tak mengenal batas usia, mereka berjanji akan tetap bersama hanya maut yang memisahkan keduanya.


**TAMAT**


Makasih yang udah mampir sini. Maaf kalo endingnya ngga seperti yang di harapkan atau apapun itu.


Terimakasih buat kalian yang udah Sudi menyempatkan waktunya untuk sekedar melirik tulisan receh ini. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2